Gayo Lues – Nafis, balita laki-laki berusia dua tahun enam bulan asal Desa Agusen, saat ini tinggal bersama keluarganya di posko pengungsian di Balai Latihan Kerja (BLK) Desa Lempuh. Dalam keterbatasan fasilitas pengungsian, Nafis menjalani masa pemulihan pascaoperasi kolostomi yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Kondisi ini menarik perhatian Bupati Gayo Lues, Suhaidi, yang datang langsung ke lokasi pengungsian bersama Plt Direktur RSUD Muhammad Ali Kasim, dr. Sri Agusti, untuk menjenguk Nafis dan memastikan penanganan medisnya berjalan baik.
Nafis mengalami kelainan pada saluran pembuangan sehingga memerlukan tindakan medis khusus dalam bentuk pembuatan anus baru melalui operasi lanjutan. Sebagai langkah sementara, ia diharuskan menggunakan kantong kolostomi yang menggantikan fungsi buang air besar. Kantong ini harus diganti secara rutin, dan memerlukan perawatan serta kebersihan khusus agar tidak menimbulkan komplikasi lanjutan.
Kondisi Nafis yang stabil meski tinggal di pengungsian tidak mengurangi kekhawatiran pemerintah daerah atas kelanjutan proses medis yang harus dijalaninya. Menyadari pentingnya penanganan lanjutan, Bupati Suhaidi memastikan bahwa Nafis akan diberangkatkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh untuk menjalani operasi pembuatan anus secara permanen. Ia menyebutkan bahwa keberangkatan direncanakan dalam waktu dekat, yakni Sabtu atau Minggu, sehingga operasi dapat dilaksanakan pada Senin pekan berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah daerah telah menjalin koordinasi dengan pihak rumah sakit rujukan untuk memastikan bahwa jadwal dan tindakan operasi berjalan tanpa hambatan. Dalam keterangannya, Bupati menyampaikan harapan besar agar pihak RSUZA menaruh perhatian khusus terhadap kondisi Nafis serta mengutamakan aspek keselamatan dan kenyamanan pasien cilik tersebut. Ia juga mengapresiasi kerja sama tim medis daerah dan para relawan yang telah membantu memfasilitasi kebutuhan medis Nafis selama ini.
Kehadiran langsung Bupati dan jajaran kesehatan ke lokasi pengungsian tidak hanya merupakan bentuk dukungan moril kepada keluarga Nafis, namun juga menjadi wujud nyata kepedulian pemerintah daerah dalam menjamin tercukupinya hak-hak dasar warga, khususnya dalam sektor kesehatan. Selain memantau keadaan Nafis, kunjungan tersebut sekaligus dimaksudkan untuk memastikan bahwa selama masa penantian operasi, kebutuhan medis dasar bagi balita tersebut tetap terpenuhi dengan baik dan berkesinambungan. (Abdiansyah)






































