GAYO LUES — Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa pencapaian kemandirian bangsa tidak bisa dilepaskan dari pondasi keluarga yang kuat dan mandiri. Hal ini disampaikannya dalam sambutan pada peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 yang digelar di Bale Pendopo Gayo Lues, Senin (27/10/2025). Di hadapan kader PKK dan para undangan, Suhaidi mengaitkan peran keluarga dengan arah pembangunan nasional, khususnya cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan tersebut, Suhaidi menyampaikan kembali poin-poin penting dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia, di antaranya memperkokoh ideologi Pancasila, meningkatkan kemandirian bangsa, menciptakan lapangan kerja, melanjutkan hilirisasi industri, serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menekankan bahwa seluruh upaya besar tersebut sejatinya bermula dari satuan terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga.
“Kemandirian bangsa terutama dalam hal pangan dan energi, artinya menuju mandiri sebuah bangsa harus dimulai dari mandiri keluarga. Ketika kemandirian itu tercapai di tingkat keluarga, maka akan menguat pula kemandirian desa, kabupaten, provinsi, hingga akhirnya terbentuk Indonesia yang benar-benar mandiri,” ujar Suhaidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap gizi ibu hamil dan pendidikan sebagai bagian integral dalam mencetak generasi unggul. Menurutnya, pembangunan SDM yang berkelanjutan tidak akan berhasil tanpa pemenuhan gizi sejak dini dan kualitas pengasuhan yang memadai di lingkungan keluarga.
“Jika ingin menciptakan lapangan kerja dan generasi yang cemerlang, maka yang perlu diperhatikan sejak awal adalah kualitas gizi, utamanya untuk ibu hamil. Pendidikan anak juga tak kalah penting karena itu adalah investasi masa depan bangsa,” lanjutnya.
Dalam konteks ekonomi lokal, Bupati menyinggung pentingnya hilirisasi komoditas unggulan daerah. Ia mencontohkan bahwa selama ini banyak hasil pertanian seperti jagung masih diekspor dalam bentuk mentah, tanpa nilai tambah yang cukup. “Kalau kita sebagai penghasil jagung, ke depan jangan jagungnya lagi yang kita jual. Tetapi bagaimana bisa menghasilkan barang jadi dari jagung itu, agar nilai tambahnya dirasakan masyarakat dan mendorong ekonomi daerah,” tegasnya.
Peringatan HKG PKK ke-53 di Kabupaten Gayo Lues tahun ini menjadi momentum penguatan peran masyarakat, khususnya perempuan, dalam mendukung pembangunan dari rumah tangga. Melalui peran aktif kader PKK, pemerintah daerah berharap pesan-pesan pembangunan nasional dapat diterjemahkan ke dalam praktek sederhana di lingkungan keluarga, mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan ekonomi rumah tangga, hingga pendidikan anak.
Dengan keterlibatan yang kuat antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah, Suhaidi optimistis bahwa cita-cita besar bangsa tak lagi menjadi wacana semata, tetapi dapat dirasakan langsung di setiap lapisan kehidupan masyarakat — dimulai dari dapur sendiri. (Abdiansyah)







































