Gayo Lues — Di antara sisa lumpur yang masih basah dan rumah-rumah yang telah rata dengan tanah, sekelompok warga bersama anggota TNI dari Yonif 855 serta personel kepolisian bahu-membahu membangun jembatan darurat. Jembatan ini menjadi satu-satunya akses sementara yang menghubungkan Desa Badak dan Rerebe, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, setelah banjir bandang menerjang akhir pekan lalu.
Sejumlah batang kayu besar ditebar melintasi aliran air berlumpur yang dulu adalah sungai kecil tenang. Kini, sungai itu menjelma menjadi sekat pemisah antara dua desa akibat terjangan banjir yang memutus infrastruktur dan memporakporandakan kehidupan warga. Sawah tergenang, rumah hancur, dan akses jalan lenyap tertelan material lumpur dan batu.
Di lokasi pembangunan jembatan darurat yang belum sepenuhnya kering itu, tampak Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd., M.Si, dan Wakil Bupati, H. Maliki, S.E., M.Ap, turun langsung ke lapangan. Tanpa ragu, keduanya ikut mengangkat cangkul dan membantu warga mengangkat kayu gelondongan. Pakaian mereka berlepot lumpur, namun di wajahnya tetap terpancar keteguhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Peristiwa ini bukan hanya menguras air mata warga kita, tetapi juga merenggut mata pencaharian serta mengancam masa depan mereka,” ujar Bupati Suhaidi saat ditemui di lokasi, Selasa (16/12/2025).
Ia menyadari bahwa jembatan sederhana itu bukanlah solusi jangka panjang. Menurutnya, bencana ini membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan sementara. Diperlukan proses rehabilitasi lahan, rekonstruksi jalan serta prasarana yang lebih permanen dengan dukungan peralatan berat dan anggaran yang memadai dari pemerintah pusat.
“Kami sedang mengatur langkah untuk mengajukan bantuan ke pusat. Yang rusak bukan hanya satu atau dua titik. Ini menyangkut kehidupan banyak keluarga. Harus kita pulihkan secepat mungkin,” ujarnya.
Namun Suhaidi juga memahami bahwa masyarakat tidak mungkin tinggal terpaku menunggu bantuan. Sementara menunggu dukungan dan alat berat, langkah-langkah awal tetap perlu dilakukan agar denyut kehidupan bisa kembali terasa—termasuk pembangunan jembatan darurat.
Wakil Bupati H. Maliki menambahkan bahwa kekuatan masyarakat menjadi kunci dalam situasi pascabencana seperti ini. Ia mengajak warga tetap menjaga semangat kebersamaan dan tidak putus harapan.
“Kita mulai dari hal kecil: membersihkan jalan, membangun kembali jembatan, membantu tetangga. Kebersamaan adalah kekuatan utama kita,” ujarnya sambil menyemangati sejumlah relawan dan warga yang tengah bekerja di lumpur.
Sekilas, jembatan itu memang tampak ringkih. Hanya deretan batang kayu yang dipasang di atas bebatuan dan tanah yang mulai mengering. Namun, di balik kesederhanaannya, ia menjadi simbol dari keteguhan dan optimisme masyarakat setempat. Sebuah penanda bahwa meski diterpa bencana, kehidupan tak boleh berhenti.
Pembangunan jembatan sederhana ini adalah langkah kecil di tengah kerusakan besar. Tapi di atas kayu-kayu itu, harapan untuk pulih kembali sedang dibangun—batang demi batang, tangan demi tangan.






































