Belajar Memahami Anak di Hari Pendidikan Nasional

denny

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:29 WIB

50216 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Wahyu Khafidah, MA

Dr. Wahyu Khafidah, MA

OPINI – Menyambut Hari Pendidikan Nasional, kita kerap disuguhi narasi besar tentang perubahan, kemajuan, dan peningkatan kualitas pendidikan. Namun, jika kita jujur melihat realitas di lapangan, masih ada persoalan mendasar yang perlu dibenahi—bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada cara kita memahami anak sebagai pusat dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan perjalanan panjang dalam membentuk manusia seutuhnya. Karena itu, penting bagi setiap guru untuk tidak hanya menghafal tujuan pendidikan nasional, tetapi benar-benar menghidupkannya dalam praktik sehari-hari. Anak tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga perlu tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, percaya diri, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan baik.

Di titik inilah peran guru menjadi sangat strategis. Guru bukan hanya pengajar, melainkan pembimbing, pengamat, bahkan kerap menjadi “orang tua kedua” di lingkungan sekolah. Guru dituntut memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Tidak semua anak langsung mampu memahami pelajaran, tidak semua berani berbicara, dan tidak semua siap berpisah dari orang tua saat pertama kali masuk sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada anak yang cepat dalam berpikir tetapi lambat dalam gerak. Ada yang aktif bergerak namun kesulitan fokus. Ada pula yang tampak diam, tetapi sejatinya sedang memproses dan memahami lingkungannya. Sayangnya, pendekatan yang masih menyamaratakan sering kali membuat anak yang berbeda justru dilabeli sebagai “bermasalah”, padahal mereka hanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Guru yang baik adalah mereka yang mau terus belajar memahami karakter anak. Bukan sekadar bertanya “mengapa anak ini tidak bisa?”, tetapi berusaha mencari “apa yang sebenarnya dibutuhkan anak ini?”. Pendekatan yang demikian akan membuat anak merasa dihargai, bukan dihakimi.

Selain guru, peran kepala sekolah juga sangat menentukan arah dan budaya pendidikan di sekolah. Kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi administrator, tetapi harus hadir sebagai pemimpin yang peduli dan humanis. Setidaknya, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian: kepedulian terhadap perkembangan anak, dukungan terhadap peningkatan kapasitas guru, kemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang tua, serta kesiapan untuk terlibat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan anak.

Pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Banyak anak yang membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam hal kemandirian dan adaptasi. Ada anak yang masih harus ditemani, masih takut ditinggal, atau belum terbiasa dengan aturan sekolah. Anak-anak seperti ini tidak bisa dipaksa. Mereka perlu diajak secara perlahan, diberikan rasa aman, dan dimotivasi secara bertahap.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah menjadi sangat penting. Orang tua tidak boleh hanya dilibatkan saat muncul masalah, tetapi sejak awal proses pendidikan. Di sisi lain, guru juga perlu memahami bahwa setiap orang tua memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda—baik dari segi ekonomi, waktu, maupun pemahaman tentang pendidikan.

Sekolah seharusnya menjadi ruang yang ramah dan mendukung, bukan tempat yang menekan. Tempat di mana anak merasa aman, nyaman, dan tidak takut untuk belajar. Tempat di mana kesalahan bukan dihukum, tetapi dijadikan bagian dari proses belajar. Tempat di mana anak berani mencoba, meski belum sempurna.

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak siap belajar dalam ritme yang sama. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi, ada yang perlu dorongan ekstra untuk masuk kelas setiap hari. Hal ini bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari proses tumbuh kembang.

Karena itu, kebijakan seperti tidak naik kelas hanya karena anak belum mencapai standar yang sama dengan teman-temannya perlu dikaji kembali secara bijak. Anak bukan mesin yang berkembang secara seragam. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan hukuman.

Jika anak belum berkembang sesuai harapan, maka yang perlu dievaluasi adalah pendekatannya: apakah metode pembelajaran sudah tepat, apakah lingkungan sekolah sudah membuat anak nyaman, apakah ada kerja sama yang baik dengan orang tua, serta sejauh mana guru memahami kebutuhan individu anak.

Pada dasarnya, tidak ada anak yang tidak bisa berkembang. Yang ada adalah anak yang belum menemukan cara belajar yang sesuai.

Setiap anak adalah anugerah. Apa pun kondisinya—aktif, pendiam, cepat, atau lambat—semuanya memiliki potensi. Dan semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak, manusiawi, dan penuh kasih sayang.

Semangat Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi refleksi bersama bahwa pendidikan harus dijalankan dengan hati. Guru perlu terus belajar memahami anak, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan, dan setiap anak berhak tumbuh sesuai dengan prosesnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat anak mampu membaca atau berhitung, tetapi dari seberapa bahagia mereka dalam belajar, seberapa percaya diri mereka tumbuh, dan seberapa siap mereka menghadapi kehidupan.

Sebab, pendidikan yang baik bukanlah yang memaksa anak menjadi sama, melainkan yang memberi ruang bagi setiap anak untuk menjadi dirinya sendiri.

Oleh: Dr. Wahyu Khafidah, MA
Dosen Prodi PIAUD Universitas Serambi Mekkah

Berita Terkait

Peradaban yang Retak: Ketika Stratifikasi Sosial Bergeser Menjadi Syahwat Kekuasaan
Diskominfo Nagan Raya Gelar Pembinaan Teknis Lanjutan EPSS untuk Perkuat Tata Kelola Data Statistik Sektoral
Tasyakur Ke -9 Dan Pelepasan Murid MIN 3 Nagan Raya Tahun Ajaran 2025-2026.
Breaking News : Satu Warga Nagan Raya Ditemukan Tidak Bernyawa Lagi Di Rumah Transmigrasi Desa Blang Lango
Breaking News : Satu Warga Nagan Raya Ditemukan Tidak Bernyawa Lagi Di Gebuk Transmigrasi Desa Blang Lango
Bupati TRK Diwakili Plt Sekda Ikuti Peresmian Operasional 1.061 KDKMP Secara Virtual
PT Socfindo Semayam Salurkan Bantuan Sembako untuk Penyandang Disabilitas
Tolak Tambang Beutong Ateuh, Mantan Anggota DPRK Nagan Raya Minta Pemkab Cabut Izin

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 02:41 WIB

Ketua DPW IWO Indonesia Aceh Tegaskan Tidak Ada Dualisme Kepengurusan DPD Aceh Timur

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Suryadi Djamil Sebut Film Dokumenter ‘Pesta Babi’ Sarat Muatan Politik Berkedok Advokasi

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:21 WIB

Penuh Haru! Safrizal ZA Jenguk Abu Doto di RSUDZA, Doakan dr. Zaini Abdullah Segera Pulih

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:39 WIB

Wakil Ketua DPRA Ali Basrah: Soal Anggaran JKA Tak Bisa Tergesa, APBA Perubahan Harus Ikuti PP 12/2019

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:31 WIB

Pengacara Tempuh Jalur Hukum, Kasus Medsos Hebohkan Aceh

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:07 WIB

PEMA UNADA MENGGELAR KEGIATAN FGD

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:22 WIB

Kak Iin Tegaskan Tak Pernah Rilis soal Bank Aceh, Dukung Kepemimpinan Fadhil Ilyas dan Kinerja Semakin Positif

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:50 WIB

SMK-PP Negeri Saree Juara I LKS Aceh 2026, Siap Wakili Aceh ke Tingkat Nasional

Berita Terbaru