HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Belajar Memahami Anak di Hari Pendidikan Nasional

denny

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:29 WIB

50268 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Wahyu Khafidah, MA

Dr. Wahyu Khafidah, MA

OPINI – Menyambut Hari Pendidikan Nasional, kita kerap disuguhi narasi besar tentang perubahan, kemajuan, dan peningkatan kualitas pendidikan. Namun, jika kita jujur melihat realitas di lapangan, masih ada persoalan mendasar yang perlu dibenahi—bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada cara kita memahami anak sebagai pusat dari proses pendidikan itu sendiri.

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan perjalanan panjang dalam membentuk manusia seutuhnya. Karena itu, penting bagi setiap guru untuk tidak hanya menghafal tujuan pendidikan nasional, tetapi benar-benar menghidupkannya dalam praktik sehari-hari. Anak tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga perlu tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, percaya diri, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan baik.

Di titik inilah peran guru menjadi sangat strategis. Guru bukan hanya pengajar, melainkan pembimbing, pengamat, bahkan kerap menjadi “orang tua kedua” di lingkungan sekolah. Guru dituntut memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Tidak semua anak langsung mampu memahami pelajaran, tidak semua berani berbicara, dan tidak semua siap berpisah dari orang tua saat pertama kali masuk sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada anak yang cepat dalam berpikir tetapi lambat dalam gerak. Ada yang aktif bergerak namun kesulitan fokus. Ada pula yang tampak diam, tetapi sejatinya sedang memproses dan memahami lingkungannya. Sayangnya, pendekatan yang masih menyamaratakan sering kali membuat anak yang berbeda justru dilabeli sebagai “bermasalah”, padahal mereka hanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Guru yang baik adalah mereka yang mau terus belajar memahami karakter anak. Bukan sekadar bertanya “mengapa anak ini tidak bisa?”, tetapi berusaha mencari “apa yang sebenarnya dibutuhkan anak ini?”. Pendekatan yang demikian akan membuat anak merasa dihargai, bukan dihakimi.

Selain guru, peran kepala sekolah juga sangat menentukan arah dan budaya pendidikan di sekolah. Kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi administrator, tetapi harus hadir sebagai pemimpin yang peduli dan humanis. Setidaknya, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian: kepedulian terhadap perkembangan anak, dukungan terhadap peningkatan kapasitas guru, kemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang tua, serta kesiapan untuk terlibat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan anak.

Pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Banyak anak yang membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam hal kemandirian dan adaptasi. Ada anak yang masih harus ditemani, masih takut ditinggal, atau belum terbiasa dengan aturan sekolah. Anak-anak seperti ini tidak bisa dipaksa. Mereka perlu diajak secara perlahan, diberikan rasa aman, dan dimotivasi secara bertahap.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah menjadi sangat penting. Orang tua tidak boleh hanya dilibatkan saat muncul masalah, tetapi sejak awal proses pendidikan. Di sisi lain, guru juga perlu memahami bahwa setiap orang tua memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda—baik dari segi ekonomi, waktu, maupun pemahaman tentang pendidikan.

Sekolah seharusnya menjadi ruang yang ramah dan mendukung, bukan tempat yang menekan. Tempat di mana anak merasa aman, nyaman, dan tidak takut untuk belajar. Tempat di mana kesalahan bukan dihukum, tetapi dijadikan bagian dari proses belajar. Tempat di mana anak berani mencoba, meski belum sempurna.

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak siap belajar dalam ritme yang sama. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi, ada yang perlu dorongan ekstra untuk masuk kelas setiap hari. Hal ini bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari proses tumbuh kembang.

Karena itu, kebijakan seperti tidak naik kelas hanya karena anak belum mencapai standar yang sama dengan teman-temannya perlu dikaji kembali secara bijak. Anak bukan mesin yang berkembang secara seragam. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan hukuman.

Jika anak belum berkembang sesuai harapan, maka yang perlu dievaluasi adalah pendekatannya: apakah metode pembelajaran sudah tepat, apakah lingkungan sekolah sudah membuat anak nyaman, apakah ada kerja sama yang baik dengan orang tua, serta sejauh mana guru memahami kebutuhan individu anak.

Pada dasarnya, tidak ada anak yang tidak bisa berkembang. Yang ada adalah anak yang belum menemukan cara belajar yang sesuai.

Setiap anak adalah anugerah. Apa pun kondisinya—aktif, pendiam, cepat, atau lambat—semuanya memiliki potensi. Dan semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak, manusiawi, dan penuh kasih sayang.

Semangat Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi refleksi bersama bahwa pendidikan harus dijalankan dengan hati. Guru perlu terus belajar memahami anak, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan menyenangkan, dan setiap anak berhak tumbuh sesuai dengan prosesnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat anak mampu membaca atau berhitung, tetapi dari seberapa bahagia mereka dalam belajar, seberapa percaya diri mereka tumbuh, dan seberapa siap mereka menghadapi kehidupan.

Sebab, pendidikan yang baik bukanlah yang memaksa anak menjadi sama, melainkan yang memberi ruang bagi setiap anak untuk menjadi dirinya sendiri.

Oleh: Dr. Wahyu Khafidah, MA
Dosen Prodi PIAUD Universitas Serambi Mekkah

Berita Terkait

Lindungi Kesehatan dari Asap Karhutla, Bupati TRK Minta Warga Batasi Aktivitas Luar Ruangan
Ketua Muhammadiyah Nagan Raya Organisasi Hadiri Khanduri Haul Abu Habib Muda Seunagan
Mustafa Terpilih sebagai Ketua Pemuda Gampong Lung Baro, Menang Telak dengan 116 Suara
Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat, Polsek Kuala Pesisir Gelar Sholat Magrib Berjamaah Keliling
Kapolres Nagan Raya Temu Ramah dengan Tokoh Masyarakat Beutong, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Kapolres Nagan Raya Salurkan 20 Paket Sembako dan Gelar Pelayanan Kesehatan Gratis bagi Warga Beutong
Sholat Maghrib Keliling, Kapolres Nagan Raya Perkuat Silaturahmi dan Kedekatan dengan Masyarakat
140 Calon Jamaah Haji Nagan Raya Ikuti Manasik, Brimob Dukung Persiapan Menuju Tanah Suci

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:20 WIB

KPK Ancam Jemput Paksa Menteri ATR Nusron Wahid yang Dua Kali Mangkir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:10 WIB

MK Perintahkan Presiden dan DPR Revisi UU Peradilan Militer dalam Dua Tahun

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:39 WIB

MK Putuskan Prajurit TNI Pelaku Pidana Umum Diadili di Peradilan Umum

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bahlil Desak Kepolisian Segera Tindak Tegas Penimbun BBM Subsidi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Stok Pertalite Nasional Tersisa 16 Hari, Bahlil Klaim Aman di Tengah Antrean BBM di Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dugaan Pembatasan Rujukan JKN Mengancam Keselamatan Pasien Kronis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Barang Bukti Diangkut Pakai Tong Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:07 WIB

PDI-P Sebut Framing Karhutla sebagai Bencana Alam Keliru, Soroti Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Berita Terbaru