GAYO LUES — Memasuki hari pertama tahun 2026, bencana banjir bandang kembali menghantam wilayah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Rabu malam memicu meluapnya Sungai Tripa, menyebabkan arus air bercampur lumpur dan material kayu menerjang permukiman, sawah, serta melumpuhkan akses transportasi darat. Kejadian ini menjadi awal tahun yang berat bagi warga, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada pertanian dan kebun.
Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Desa Kuta Lintang, Kecamatan Blangkejeren. Di titik ini, aliran air menggenangi ruas jalan utama hingga mencapai ketinggian lebih dari lutut orang dewasa. Kendaraan roda dua maupun roda empat tak lagi bisa melintas. Sejumlah pengendara yang sempat memaksakan diri melewati genangan harus berhenti karena terjebak di tengah derasnya arus, menimbulkan antrean panjang dan kepanikan. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih memutar balik, mencari jalur alternatif di tengah terbatasnya pilihan jalan yang aman.
Menanggapi situasi tersebut, warga setempat secara spontan melakukan penyekatan dan pengamanan di beberapa persimpangan desa untuk mencegah pengendara melintasi jalur berbahaya. Ramadan, salah seorang warga yang turut membantu evakuasi ringan, menyebut bahwa banjir datang dengan sangat cepat, hampir tanpa jeda setelah hujan intens mengguyur selama berjam-jam. Menurutnya, air luapan Sungai Tripa tiba-tiba masuk ke permukiman dan sepanjang jalan desa dalam waktu singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang kali ini tidak hanya menyasar infrastruktur jalan dan rumah warga, melainkan juga berdampak besar pada sektor pertanian. Ribuan hektare lahan sawah dan perkebunan yang baru saja disemai atau ditanami tanaman pangan mengalami rusak total. Material lumpur yang tebal, batuan besar, dan kayu gelondongan dari hulu sungai menimbun lahan, memutus irigasi desa, dan menghentikan aktivitas pertanian untuk sementara waktu. Bagi masyarakat Gayo Lues yang sebagian besar hidup dari hasil panen sendiri, kerusakan ini dipastikan membawa efek domino terhadap ketahanan pangan rumah tangga mereka dalam beberapa bulan ke depan.
Bencana ini juga melumpuhkan aktivitas warga yang sedianya menyambut tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga. Banyak yang justru menghabiskan malam pergantian tahun dalam kondisi siaga, mengamankan barang berharga, mengevakuasi orang tua dan anak-anak, bahkan bermalam di posko yang didirikan secara darurat. Listrik sempat padam di beberapa wilayah, sementara sinyal telekomunikasi juga mengalami gangguan karena kerusakan pada jaringan kabel dan infrastruktur dasar lainnya.
Menyikapi bencana ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gayo Lues segera menerjunkan tim bantuan untuk melakukan penilaian cepat dan pembersihan jalur logistik. Sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat normalisasi jalur utama yang tertutup material banjir. Petugas masih bersiaga di beberapa titik rawan longsor dan banjir, terutama di sepanjang ruas jalan yang menghubungkan Blangkejeren dengan desa-desa dataran tinggi. Warga yang semula berada di sekitar sungai atau lereng bukit dianjurkan untuk mengungsi sementara, mengingat potensi hujan susulan yang masih berada pada level waspada.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan upaya nyata untuk mempercepat pemulihan. Permintaan utama dari warga adalah normalisasi aliran Sungai Tripa, yang dianggap sebagai penyebab utama banjir secara berulang pada musim penghujan. Selain itu, perbaikan tanggul, penguatan tebing sungai, serta pembangunan sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak yang diharapkan dapat masuk prioritas dalam agenda penanggulangan bencana ke depan.
Di beberapa titik pengungsian sementara, warga mulai bergantung pada bantuan logistik dari instansi pemerintah maupun organisasi kemanusiaan. Namun, akses yang terputus dan kondisi medan yang terjal membuat pendistribusian bantuan menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah kabupaten telah mengeluarkan skema tanggap darurat untuk tujuh hari pertama pascabencana, termasuk penyediaan dapur umum, layanan kesehatan keliling, dan pendataan kerusakan.
Hingga Kamis siang, intensitas hujan sudah mulai menurun. Namun, awan tebal masih menyelimuti sebagian besar kawasan Gayo Lues. Petugas dan relawan tetap siaga menghadapi potensi bencana lanjutan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sebagian besar wilayah hulu di Aceh memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Kondisi geografis dengan lereng curam, tutupan lahan yang berkurang, serta belum optimalnya pengelolaan DAS (daerah aliran sungai) membuat wilayah seperti Gayo Lues berada dalam siklus bencana yang terus berulang.
Pemerintah dan masyarakat kini dihadapkan pada tugas berat, tidak hanya memulihkan jalur dan lahan, tetapi juga membangun ketangguhan jangka panjang melalui pendekatan pembangunan yang lebih sensitif terhadap risiko bencana. Tahun 2026 yang baru saja dimulai membawa tantangan mendesak, tidak hanya dari sisi penanganan darurat, melainkan juga dari bagaimana seluruh pihak mampu membangun kembali daerah ini dengan lebih aman dan berkelanjutan.(*)






































