GAYO LUES, BARANEWS | Dalam denyut kehidupan masyarakat Gayo, di tengah bentangan alam yang sejuk dan senyap, terdapat sebuah seni yang tumbuh tidak hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai identitas: Saman. Tarian yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda ini sesungguhnya lebih dari sekadar atraksi selaras gerak dan irama. Ia adalah kepatuhan pada adat, kekompakan yang melampaui koreografi, dan simbol pengabdian terhadap nilai-nilai kolektif masyarakat. Di balik keindahannya yang kerap memukau dunia, berdiri sosok-sosok penjaga budaya yang memilih bekerja dalam keheningan. Salah satunya adalah seorang anak Gayo bernama Atip Usman.
Nama H. Atip Usman tak banyak menghiasi media atau dikenal luas oleh pencinta seni di kota-kota besar. Namun di desa-desa pelosok Gayo Lues, ia menjadi rujukan, guru, pembimbing, dan panutan—seseorang yang bukan hanya mengajarkan bagaimana Saman ditarikan, tetapi juga bagaimana ia dimaknai. Selama puluhan tahun hidupnya, Atip Usman mendedikasikan waktu untuk menjaga ruh Saman tetap utuh. Ia percaya bahwa jika hanya bentuk lahiriah yang dipertontonkan sementara jiwanya hilang, maka sama saja mereduksi warisan leluhur menjadi tontonan semata.
Sejak usia muda, beliau telah aktif dalam pelatihan Saman di berbagai kampung. Bukan hanya pada saat festival atau hajatan besar, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan pendekatan penuh kesabaran dan kedekatan emosional yang kuat, Atip Usman berhasil menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak muda: kebersamaan dalam ritme, disiplin dalam gerak, toleransi dalam barisan. Ia selalu mengingatkan bahwa Saman tidak boleh ditarikan tanpa memahami makna lantunan syair yang dibawakan, tidak boleh digerakkan tanpa menghormati adat yang mengiringinya, dan tidak boleh dimodifikasi sekadar untuk panggung hiburan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak jarang, beliau terlibat langsung dalam merancang pelatihan, menjadi pengarah artistik dalam pementasan tradisional, sekaligus menjaga orisinalitas busana, bahasa, dan musik pengiring. Atip Usman dikenal tidak mudah tergoda dengan modernisasi yang merusak akar, walaupun hal itu membuatnya dipandang ‘ketinggalan zaman’ oleh segelintir pihak. Baginya, menjaga tetap hidupnya nilai jauh lebih penting daripada beradu modernitas dengan gemerlap panggung.
Apa yang dilakukan Atip Usman bukan tanpa tantangan. Ketika generasi muda mulai banyak yang bergeser perhatian, ketika permintaan untuk membuat Saman lebih “komersial” datang dari luar, ia tetap berdiri tegak. Menolak lunak terhadap hal-hal yang menurutnya melemahkan inti budaya. Ia lebih memilih memperkuat fondasi daripada mengejar popularitas instan. Bahkan ketika usia telah senja, kepeduliannya tidak luntur. Ia terus membina, membimbing, dan dalam diam menciptakan kader-kader baru yang kini mulai meneruskan semangatnya.
Kepergian Atip Usman menyisakan duka yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan kawan dekat, tetapi oleh sebuah komunitas budaya yang kehilangan salah satu tiangnya. Dalam sunyi, ia telah menyulam ketahanan budaya dengan penuh dedikasi. Dalam diam, ia menenun erat makna gotong royong dan kecintaan pada tanah kelahiran melalui tarian kebanggaan masyarakat Gayo.
Di tengah upaya pelestarian budaya yang kian penting dewasa ini, sosok seperti Atip Usman layak diakui secara resmi. Penghargaan bukanlah tujuan utama, namun bentuk tanggung jawab moral dari negara terhadap penjaga budaya seperti beliau. Sudah saatnya nama Atip Usman dimajukan untuk Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, khususnya di bawah kategori Maestro Seni Tradisi.
Pengakuan negara adalah bentuk penghormatan kepada proses panjang yang tak selalu terlihat. Untuk guru-guru budaya yang bekerja dalam hening, menjaga warisan tak benda tetap bernyawa. Untuk mereka yang memilih warisan batin daripada sorotan panggung. Tarian Saman memang telah mendunia, tetapi jiwanya harus tetap dijaga agar tidak tercerabut dari akar. Dan sosok seperti Atip Usman-lah yang selama ini menjaga akar itu tetap subur dalam tanah peradaban Gayo.
Hormatilah mereka yang mencintai budaya dengan cara merawatnya. Jika kita bangga pada Saman, maka sudah semestinya kita peduli pada para penjaganya. Suara kita hari ini adalah bentuk terima kasih yang tertunda. Agar generasi mendatang tidak hanya mengenal tarian, tapi juga mengenal jiwa yang menghidupinya. (*)






































