GAYO LUES, (10/01/2026) Lebih dari satu bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, dampak bencana masih dirasakan signifikan oleh warga, khususnya di Kecamatan Pining. Akses jalan utama menuju wilayah pedalaman ini masih terputus akibat tertimbun material longsor di beberapa titik, serta rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan yang tak kunjung diperbaiki.
Sejak peristiwa bencana pada 26 November 2025, setidaknya terdapat enam titik longsor besar yang menyebabkan badan jalan tertutup total. Selain itu, dua jembatan penghubung utama di jalur ini juga turut rusak berat akibat terjangan banjir, memaksa warga dan pengendara untuk menempuh rute darurat atau bahkan nekat menyeberangi aliran sungai untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mengganggu distribusi logistik dan kebutuhan pokok ke Pining dan sejumlah desa di wilayah ini. Jalan yang berlumpur tebal dan licin menjadi tantangan besar dalam proses pengiriman bantuan dan penyaluran barang kebutuhan sehari-hari. Beberapa kendaraan terpaksa mundur atau tersendat dalam lumpur, sementara kendaraan roda dua harus didorong secara beramai-ramai guna melewati medan sulit, terlebih saat jalanan menanjak atau menurun tajam yang berisiko tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah warga mengaku kesulitan mengakses bantuan karena tidak adanya kendaraan yang mampu menembus jalur rusak tersebut. Dalam kondisi terburuk, warga memutuskan untuk berjalan kaki atau menggunakan tenaga warga secara kolektif agar kendaraan bisa melewati titik-titik rawan. Inisiatif gotong-royong dilakukan untuk mendorong sepeda motor yang terjebak, sehingga perjalanan bisa tetap berlangsung meski dengan waktu tempuh yang jauh lebih lama dari biasanya.
Kesulitan ini juga berdampak pada aktivitas ekonomi lokal dan pelayanan publik. Warga kesulitan menjual hasil bumi ke pasar di kecamatan lain, serta terbatasnya akses ke layanan kesehatan dan pendidikan. Dengan akses utama yang masih lumpuh, urusan administrasi hingga kebutuhan medis menjadi terhambat dan bergantung pada jalur alternatif yang belum tentu lebih aman.
Kondisi ini semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat pasca bencana. Belum adanya kejelasan dari pihak berwenang terkait percepatan proses evakuasi material longsor dan perbaikan infrastruktur membuat warga berharap ada tindakan cepat dan tanggap dari pemerintah daerah maupun pusat untuk membuka kembali akses utama secara permanen dan aman.
Meski bantuan darurat sempat dikirimkan melalui jalur udara dan dilakukan upaya penanganan awal, lumpuhnya jalur darat utama membuat Kecamatan Pining masih dalam kondisi terisolasi. Dengan prediksi cuaca yang masih labil di wilayah pegunungan Aceh, masyarakat berharap agar situasi ini tidak berlangsung lebih lama, mengingat potensi longsor susulan tetap mengintai dan menjadi ancaman bagi keselamatan warga. (*)






































