GAYO LUES | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, kembali mengunjungi Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Sabtu (3/1/2026), meninjau langsung kondisi dan penanganan pascabencana banjir dan longsor yang hingga kini masih berdampak pada kehidupan masyarakat. Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat menjamin kelangsungan penanganan terhadap wilayah terdampak di tengah akses jalan yang kembali terputus akibat hujan deras beruntun yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Bencana yang melanda Gayo Lues sejak akhir November lalu tidak hanya merusak permukiman dan infrastruktur, tetapi juga menyebabkan jalur logistik utama terputus, khususnya akses darat yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tenggara dengan Gayo Lues. Kondisi ini berdampak langsung terhadap ketersediaan logistik dan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Dalam penjelasannya di hadapan warga dan pejabat daerah, Kepala BNPB menyampaikan bahwa pemerintah pusat terus memantau perkembangan situasi secara harian dan telah menyusun strategi darurat demi memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Ia menegaskan, akibat cuaca ekstrem yang memicu longsor di sejumlah titik, perjalanan dari Kutacane menuju Gayo Lues kembali terputus. Jalur ini merupakan akses utama untuk memasukkan logistik ke wilayah terdampak. Untuk itu, pemerintah mengambil langkah penyesuaian dengan menyimpan logistik—terutama beras—di gudang penyangga yang berlokasi di Kutacane, Aceh Tenggara, agar dapat didistribusikan secara bertahap ke Gayo Lues segera setelah jalur darat memungkinkan untuk dilintasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, distribusi logistik dilakukan melalui udara. BNPB mengerahkan tiga unit pesawat Susi Air untuk mengangkut logistik dari Kutacane ke Gayo Lues. Setiap pesawat mampu membawa 1,5 ton bantuan dalam satu kali penerbangan. Dengan tiga penerbangan dalam satu hari, kapasitas yang dapat dikirim mencapai sekitar 4,5 ton per hari. Meskipun tidak mencukupi seluruh kebutuhan warga, langkah ini dipandang sebagai solusi jangka pendek untuk menjaga suplai tetap berjalan.
Kepala BNPB menjelaskan pula bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan, termasuk dengan Perum Bulog dan PT Pertamina, untuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok lainnya seperti BBM dan LPG. Dengan terhambatnya distribusi melalui jalur utama, pengiriman bahan bakar untuk Gayo Lues juga untuk sementara dialihkan menuju Kutacane. Dari sana, logistik akan dijemput secara bertahap oleh pemerintah daerah ketika akses memungkinkan.
Menanggapi kondisi jalan yang kembali putus, BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Gayo Lues segera mengerahkan alat berat untuk menormalisasi jalur yang terdampak. Kepala BNPB menekankan bahwa meskipun hujan merupakan faktor alam di luar kendali manusia, upaya teknis tetap dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas dan jalur darat bisa segara dibuka kembali.
“Kita manusia tetap berusaha dan berikhtiar, walaupun hujan adalah kehendak Tuhan, namun ikhtiar kita tetap menjadi bagian penting dari penanganan darurat,” ujarnya saat menyampaikan pesan kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
Diketahui, curah hujan tinggi yang terjadi sejak Desember lalu menyebabkan sejumlah ruas jalan di kawasan perbukitan longsor dan tidak dapat dilalui kendaraan. Di tengah kekhawatiran akan berlanjutnya musim hujan pada Januari ini, BNPB mengimbau seluruh pihak untuk mewaspadai potensi bencana susulan, sekaligus terus memperkuat kolaborasi dalam penanganan darurat.
Dalam kunjungannya, Kepala BNPB menyampaikan bahwa pemerintah pusat memahami situasi di lapangan dan akan terus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan. Seluruh kebijakan darurat, termasuk pengalihan distribusi logistik dan pengerahan alat berat, dilakukan untuk memastikan masyarakat Gayo Lues tetap dapat mengakses kebutuhan dasar dan melanjutkan kehidupan di tengah situasi yang belum stabil.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka kepada masyarakat agar warga memahami apa yang sedang dilakukan pemerintah dan tidak merasa ditinggalkan dalam situasi darurat ini. Pemerintah, menurutnya, bekerja setiap hari untuk meringankan beban masyarakat terdampak dan menjamin kelangsungan bantuan, baik melalui jalur darat maupun udara.
Upaya percepatan penanganan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam merespons bencana secara menyeluruh, dengan mengedepankan aspek keselamatan, keberlanjutan layanan dasar, serta sinergi antarinstansi di tengah tantangan cuaca dan geografi di wilayah pegunungan tengah Aceh. (*)






































