GAYO LUES | Jalur vital yang menghubungkan Kabupaten Gayo Lues dengan Aceh Tenggara akhirnya kembali dapat dilalui kendaraan pada Kamis sore, 8 Januari 2026, setelah enam hari lumpuh total akibat bencana longsor. Akses utama yang menghubungkan Blangkejeren dengan Kuta Cane ini sebelumnya tertimbun material longsor di ruas jalan Dusun Begade Empat, Desa Ramung Musara, Kecamatan Putri Betung. Peristiwa tersebut sempat memutus arus transportasi antar-kabupaten dan menyebabkan terjebaknya sejumlah kendaraan, termasuk mobil travel, truk barang, serta sepeda motor.
Upaya untuk membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan tidak berlangsung mudah. Selain volume tanah yang besar, sejumlah batu berukuran besar juga turut menimbun jalur sehingga memperlambat proses evakuasi. PT Hutama Karya (HAKA), selaku kontraktor jalan nasional di wilayah tersebut, menurunkan enam unit alat berat guna mempercepat penanganan. Setelah hampir seminggu kerja keras tanpa henti, jalan yang sempat jadi titik macet selama berhari-hari akhirnya bisa kembali dimanfaatkan oleh masyarakat.
Puluhan kendaraan yang sebelumnya tertahan di sekitar lokasi langsung melanjutkan perjalanan setelah jalan dinyatakan aman untuk dilalui. Kondisi di sepanjang ruas yang terdampak memang belum sepenuhnya pulih secara permanen, namun lalu lintas sudah dapat dibuka dengan sistem satu jalur bergantian untuk memastikan keselamatan pengendara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suardi, warga Blangkejeren, merupakan salah satu yang terdampak langsung akibat bencana ini. Ia mengaku telah terjebak di lokasi longsor selama enam hari bersama para penumpang lainnya dalam perjalanan menuju Medan. Selama terisolasi, ia mengaku mengalami berbagai kesulitan, mulai dari kehabisan uang hingga masalah logistik pribadi.
“Sudah seminggu saya terjebak di sini. Alhamdulillah, hari ini sudah bisa lewat,” ungkap Suardi dengan nada lega. Ia juga menceritakan bagaimana selama masa tersebut ia harus bergantung pada bantuan warga sekitar untuk bertahan. “Makan dan tidur tidak menentu. Terpaksa menumpang di rumah warga. Untung masyarakat di sini sangat membantu para pengendara yang terjebak,” katanya.
Jalur Blangkejeren–Kuta Cane merupakan urat nadi perhubungan darat yang strategis bukan hanya untuk mobilitas warga, tetapi juga untuk pergerakan logistik, distribusi bahan kebutuhan pokok, dan layanan medis. Gangguan lalu lintas akibat bencana alam di ruas ini kerap menjadi masalah tahunan, terutama saat musim hujan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait berupaya terus mengevaluasi penanganan darurat serta mencari solusi jangka panjang guna meminimalisir risiko terulangnya kejadian serupa.
Meskipun akses jalan telah pulih, aparat dan petugas masih bersiaga di lapangan untuk mengantisipasi potensi longsor susulan, mengingat kondisi tanah di kawasan tersebut masih labil. Pengemudi juga diimbau agar tetap waspada, terlebih jika melintasi daerah rawan saat cuaca ekstrem.
Pembukaan kembali jalur Blangkejeren–Kuta Cane menjadi kabar baik bagi warga di kedua kabupaten yang selama hampir sepekan mengalami ketidakpastian perjalanan akibat situasi darurat. Bagi warga seperti Suardi dan puluhan penumpang lainnya, jalan yang terbuka bukan hanya lintasan fisik, melainkan harapan untuk kembali melanjutkan perjalanan hidup setelah terhenti sejenak oleh bencana alam. (*)








































