Gayo Lues – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues secara resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana hingga 15 Januari 2026. Keputusan ini diambil menyusul masih banyaknya wilayah yang terisolasi akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah kecamatan sejak akhir Desember lalu.
Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd., M.Si, mengatakan bahwa perpanjangan status darurat tersebut dilakukan berdasarkan hasil evaluasi lapangan dan laporan dari seluruh instansi terkait. Menurutnya, empat jalur utama menuju wilayah Gayo Lues masih lumpuh total karena tertutup lumpur dan material longsor yang cukup tebal.
“Setelah melihat kondisi terakhir, kami sepakat memperpanjang status tanggap darurat karena ada beberapa titik akses yang belum bisa ditembus. Termasuk ke Pining, yang saat ini masih sulit dijangkau,” kata Suhaidi, saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu kejadian yang mencerminkan seriusnya dampak bencana ini terjadi di ruas jalan utama Blang Keujren menuju Kecamatan Pining. Sebuah mobil milik warga dilaporkan terjebak lumpur tebal selama lebih dari enam jam. Meskipun sudah diupayakan dievakuasi oleh masyarakat setempat, medan yang berat membuat bantuan hanya bisa dilakukan oleh personel Polres Gayo Lues yang tiba menjelang sore. Mobil akhirnya berhasil ditarik keluar menggunakan kendaraan dinas polisi.
Menurut Bupati Suhaidi, insiden tersebut menjadi bukti nyata krisis infrastruktur akibat bencana yang terus berulang dalam beberapa minggu terakhir.
“Kami sangat prihatin. Banyak kendaraan, baik milik warga maupun logistik bantuan, tidak bisa masuk ke lokasi karena jalur putus. Kondisi ini sangat menghambat proses distribusi bantuan dan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Suhaidi menambahkan, hingga saat ini setidaknya empat jalur penghubung menuju Gayo Lues kembali tak bisa dilalui kendaraan, akibat banjir susulan yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Padahal, jalur-jalur tersebut sebelumnya sempat dibuka usai penanganan pertama pascabencana awal.
“Kami minta bantuan dari Pemerintah Aceh dan pusat agar bisa mempercepat mobilisasi alat berat. Kondisinya memang tidak mudah, apalagi cuaca setiap hari hujan,” kata Suhaidi.
Keterbatasan alat berat, jaringan komunikasi yang terganggu, serta lokasi permukiman yang jauh dari pusat logistik menjadikan tugas penanganan darurat di lapangan semakin menantang. Namun demikian, Pemkab Gayo Lues bekerja sama dengan TNI, Polri, BPBD, dan relawan dari berbagai elemen terus berupaya menjangkau wilayah yang terdampak dan mengutamakan keselamatan masyarakat.
“Kami tidak tinggal diam. Semua tim bergerak. Tapi memang butuh waktu dan kerja sama lintas sektor untuk kembali membuka jalur dan menyalurkan logistik ke desa-desa yang masih terisolasi,” tegas Suhaidi.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, karena curah hujan masih cukup tinggi di wilayah pegunungan Gayo Lues. Warga yang tinggal di sekitar lereng atau bantaran sungai diminta segera melapor jika melihat tanda-tanda longsor atau banjir, agar bisa segera dilakukan asesmen dan tindak lanjut.
“Saat ini fokus utama kami adalah menyelamatkan warga dan memastikan bantuan bisa sampai. Jangan panik, tetap tenang, dan tetap terhubung dengan posko atau aparatur terdekat,” tutup Suhaidi. (*)








































