slot preparation.lsrs.lu

Tiga Titik Longsor Blokade Jalan Gayo Lues-Kutacane, Warga Keluhkan Minimnya Alat Berat

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 6 Januari 2026 - 17:41 WIB

50359 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES | Jalan lintas tengah Aceh yang menghubungkan Kabupaten Gayo Lues dengan Kutacane, Aceh Tenggara, kembali tertutup material tanah longsor sejak Sabtu pekan lalu. Kondisi ini menyebabkan ratusan pengguna jalan terjebak di antara tiga titik longsor, dengan keterbatasan logistik dan tanpa kepastian kapan akses akan kembali dibuka. Minimnya ketersediaan alat berat untuk membersihkan material longsor membuat proses evakuasi dan pembukaan jalan berjalan sangat lambat, menambah penderitaan warga yang sudah berhari-hari menunggu.

Longsor terjadi di beberapa titik ruas jalan Kecamatan Putri Betung yang saat ini tengah dalam tahap pengerjaan oleh Balai Pengelola Jalan Nasional (BPJN) Wilayah 3.4 Aceh. Kondisi geografis wilayah yang berbukit dan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir diduga menjadi pemicu terjadinya longsor di jalur vital yang menjadi akses utama penghubung antara Gayo Lues dengan wilayah Aceh Tenggara ini.

Salah seorang warga yang hendak melintasi jalur tersebut menjadi saksi langsung betapa sulitnya kondisi yang dialami ratusan pengguna jalan. Pria yang hendak pulang ke Gayo Lues dari Kutacane ini sudah empat hari terjebak di Desa Tetumpun bersama puluhan pengendara lainnya. Mereka terperangkap di antara tiga titik longsor yang menutup jalan dari kedua arah, membuat mereka tidak bisa maju maupun mundur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami dari Kutacane, Aceh Tenggara mau menuju ke Gayo Lues, Kabupaten Gayo Lues, pulang ke kampung. Sudah empat hari terjebak di Desa Tetumpun,” ujar salah seorang warga dengan nada frustasi saat dihubungi. Kondisi yang dihadapi para pengguna jalan ini semakin berat karena mereka harus bermalam di tengah jalan dengan logistik yang sangat terbatas. Banyak yang tidak mempersiapkan perbekalan cukup karena mengira perjalanan akan berjalan normal.

Yang membuat situasi semakin memprihatinkan adalah minimnya alat berat yang dikerahkan untuk membersihkan material longsor. Menurut pengakuan beberapa warga yang terjebak, selama empat hari hanya ada satu unit alat berat yang bekerja membersihkan longsoran tanah. Kondisi ini sangat tidak sebanding dengan volume material yang harus dibersihkan dan panjang ruas jalan yang tertutup.

“Dinas PU itu kurangnya alat berat. Alat berat cuma satu, baru setelah empat hari datang satu lagi. Padahal longsor besar, ini akses dalam provinsi bukan jalan desa,” keluh seorang warga. Kritik ini menunjukkan kekecewaan warga terhadap lambatnya penanganan longsor di jalur yang notabene merupakan jalan provinsi dan akses vital penghubung antar kabupaten.

Jalur Gayo Lues-Kutacane memang dikenal sebagai ruas jalan yang rawan longsor, terutama saat musim penghujan. Kondisi tanah yang labil di beberapa titik, ditambah aktivitas pengerjaan jalan yang sedang berlangsung, membuat risiko longsor semakin tinggi. Namun, terlepas dari kondisi yang sudah dapat diprediksi ini, kesiapsiagaan dalam penanganan bencana longsor tampaknya masih belum optimal.

Pengerjaan jalan oleh BPJN Wilayah 3.4 Aceh yang sedang berlangsung seharusnya juga disertai dengan kesiapan alat berat dan tim tanggap darurat yang memadai, mengingat karakteristik wilayah yang rawan bencana. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda. Ketika longsor terjadi, respons yang diberikan terkesan lambat dan tidak proporsional dengan skala permasalahan.

Bagi masyarakat Gayo Lues, jalur ini bukan sekadar jalan alternatif, melainkan akses utama yang menghubungkan mereka dengan wilayah lain di Aceh, khususnya Aceh Tenggara. Terputusnya akses ini tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga pada distribusi logistik, aktivitas ekonomi, hingga layanan kesehatan darurat. Warga yang memiliki keperluan mendesak terpaksa harus mengambil jalur memutar yang memakan waktu berkali lipat lebih lama.

Para pengguna jalan yang terjebak kini menaruh harapan besar agar proses pembukaan akses jalan dapat dipercepat. Mereka meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengerahkan lebih banyak alat berat dan sumber daya agar pembersihan material longsor dapat diselesaikan lebih cepat. Empat hari terjebak di tengah jalan dengan kondisi yang tidak nyaman tentu bukan pengalaman yang mudah, apalagi bagi mereka yang membawa keluarga atau memiliki keperluan mendesak.

Kondisi ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan pihak terkait untuk lebih serius dalam menangani infrastruktur jalan di daerah rawan bencana. Selain perbaikan dan pembangunan jalan, sistem mitigasi bencana dan kesiapsiagaan tanggap darurat harus menjadi prioritas yang tidak terpisahkan. Ketersediaan alat berat yang memadai, tim siaga, dan sistem peringatan dini longsor menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah terulangnya kondisi serupa di masa mendatang.

Hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan material longsor masih terus berlangsung dengan dua unit alat berat yang akhirnya dikerahkan. Namun belum ada kepastian kapan jalur tersebut dapat kembali dilalui kendaraan. Sementara itu, ratusan pengguna jalan masih harus bersabar menunggu dengan harapan segera dapat melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman atau tempat tujuan masing-masing. (RED)

Berita Terkait

Penertiban Pedagang di Blangkejeren Dinilai Tebang Pilih, Lapak Pedagang Buah Dibongkar
Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga
Longsor di Tiga Titik Tutup Total Jalan Lintas Kutacane-Blangkejeren, Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat Tak Bisa Melintas
Normalisasi Sungai Jadi Kunci di Gayo Lues, Jembatan Putus Hambat Evakuasi Warga
Ratusan Hektare Sawah di Gayo Lues Kembali Panen Pascabencana Banjir 2025
Pemkab Gayo Lues Kebut Penyerapan Dana TKD untuk Pemulihan Infrastruktur Pascabencana
Pemkab Gayo Lues Berpacu dengan Waktu di Tengah Keterbatasan Anggaran untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana
Warga dan Satgas TMMD Antusias bangun 5 Unit RTLH di Kampung Gajah

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 10:11 WIB

LSM ABA Dukung Kapolri Usut Tuntas Dugaan Penyadapan Presiden, Suryadi: Jangan Ada yang Kebal Hukum!

Selasa, 3 November 2026 - 11:15 WIB

Gampong Gunong Geulogo Gelar Rembuk Stunting 2026, Perkuat Komitmen Percepatan Penurunan Stunting

Selasa, 3 November 2026 - 10:34 WIB

DPMGP4 Nagan Raya Luncurkan Sosialisasi SIMPADU-NARA, Pengajuan Dana Desa Kini Lebih Mudah dan Transparan

Senin, 2 November 2026 - 13:26 WIB

Kapolres Nagan Raya Berikan Penghargaan kepada 63 Personel Berprestasi, Apresiasi Dedikasi dan Kinerja dalam Pelaksanaan Tugas

Minggu, 1 November 2026 - 20:10 WIB

Bupati TRK Tinjau Kesiapan Bandara Cut Nyak Dhien, Persiapan Sambut Kedatangan Presiden Prabowo Capai 85 Persen

Minggu, 1 November 2026 - 12:10 WIB

Polres Nagan Raya Bersama BNN Temukan dan Musnahkan Ladang Ganja Seluas 20 Hektare di Kawasan Pegunungan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, SD Negeri Babah Rout Tanamkan Nilai Keteladanan dan Akhlak Mulia kepada Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 03:05 WIB

Istri Kunci Kamar Rumah Dinas hingga Pagi, Ketua DPRK Nagan Raya Dilaporkan ke Polisi dan Desakan PAW Menguat

Berita Terbaru

GAYO LUES

Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:42 WIB