GAYO LUES — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, bersama rombongan terjebak longsor saat melakukan perjalanan dinas dari Kabupaten Gayo Lues menuju Aceh Tenggara, Sabtu (3/1/2026). Rombongan hendak mengantarkan bantuan logistik bagi warga terdampak banjir dan longsor seraya meninjau langsung kondisi lapangan pascabencana. Namun, hujan deras yang mengguyur sejak malam sebelumnya memicu longsor di sejumlah titik ruas jalan, salah satunya di wilayah Gampong Tetumpun, Kecamatan Putri Betung.
Menurut keterangan Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Aceh, Akkar Arafat, rombongan Sekda sempat melintasi satu titik longsor yang telah dibersihkan. Namun, sekitar satu kilometer kemudian, laju kendaraan kembali terhambat oleh longsoran kedua yang masih menutup badan jalan. Di lokasi tampak dua unit alat berat dikerahkan untuk membersihkan material tanah dan batu. Petugas menyampaikan kepada rombongan bahwa pembersihan total kemungkinan baru akan rampung pada Minggu pagi.
Dengan memperhitungkan risiko keselamatan dan waktu tempuh yang tidak pasti, Sekda Aceh kemudian memutuskan untuk memutar arah kembali ke Gayo Lues, dan selanjutnya mengalihkan jalur perjalanan menuju Aceh Tamiang melalui Tranggon–Babah Rot di wilayah Aceh Barat Daya. Keputusan tersebut diambil untuk memastikan mobilisasi logistik tetap sampai ke tujuan walaupun melalui jalur yang lebih panjang dan menantang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, saat dalam perjalanan pulang melewati kembali titik longsor pertama, longsoran baru kembali terjadi dan kembali menutup jalur tersebut. Akibatnya, Sekda dan rombongan terjebak di tengah medan sulit selama beberapa waktu hingga sore hari. Informasi dari lapangan mengindikasikan bahwa intensitas hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus di wilayah pegunungan Gayo Lues telah meningkatkan kerentanan lereng terhadap longsor susulan.
Dalam keterangan singkat melalui pesan instan kepada rekan media, M. Nasir memastikan bahwa seluruh anggota rombongan dalam kondisi aman dan telah berhasil melanjutkan perjalanan ke Babah Rot untuk kemudian menuju Aceh Tamiang. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ini bagian dari upaya pemerintah Aceh mempercepat rekapitulasi data dan penyusunan program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pascabencana (R3P) di Kabupaten Gayo Lues. Kunjungan ini sekaligus dimanfaatkan untuk menyalurkan langsung bantuan logistik kepada Pemerintah Kabupaten Gayo Lues yang tengah berjibaku menangani dampak banjir bandang di beberapa wilayah.
Peristiwa yang menimpa rombongan Sekda ini kembali menggarisbawahi betapa rentannya kondisi jalur penghubung antarwilayah di kawasan tengah-timur Aceh terhadap bencana alam, khususnya longsor yang kerap terjadi saat musim hujan. Jalur antara Gayo Lues dan Aceh Tenggara, termasuk wilayah Lokop dan Putri Betung, hingga hari ini masih menyisakan tantangan besar dalam konteks aksesibilitas. Beberapa warga setempat pun mengaku aktivitas harian mereka terganggu akibat tertutupnya jalan, termasuk distribusi kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan.
Pemerintah daerah sendiri telah mengirimkan alat berat tambahan untuk mempercepat proses pembersihan material longsor. Namun kondisi medan yang terjal dan curah hujan tinggi menjadi hambatan utama di lapangan. Petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan setempat terus berjibaku menjaga akses jalan yang terbuka, sambil bersiap menghadapi potensi longsor susulan yang bisa kapan saja terjadi.
Dalam peristiwa ini, tidak terdapat korban jiwa maupun luka. Namun, dampak gangguan logistik dan terhambatnya mobilisasi bantuan menjadi perhatian tersendiri. Situasi ini mendorong pemerintah Aceh untuk menyiagakan titik-titik rawan supaya jalur darurat bisa diaktifkan dalam kondisi mendesak.
Pengalaman yang dialami oleh Sekda Aceh dan rombongan di medan bencana menjadi refleksi bahwa upaya respon cepat terhadap kondisi geografis yang rawan bencana memerlukan strategi khusus. Pemerintah daerah melalui koordinasi lintas instansi diharapkan dapat mempercepat pemulihan infrastruktur serta menata ulang skema manajemen bencana berbasis kesiapsiagaan untuk wilayah dengan topografi ekstrem seperti Gayo Lues dan sekitarnya.
Para ahli di bidang geologi dan mitigasi bencana sebelumnya telah mengingatkan bahwa daerah perbukitan di Aceh bagian tengah dan tenggara memiliki tingkat kelabilan tanah yang tinggi. Minimnya vegetasi penahan serta intensitas pembangunan jalan yang tak jarang memotong lereng curam turut meningkatkan risiko bencana. Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur penunjang yang tangguh terhadap kondisi ekstrem cuaca dinilai perlu menjadi prioritas dalam agenda pembangunan Aceh ke depan.
Kisah terjebaknya rombongan pejabat tinggi dalam perjalanan bantuan ini menjadi gambaran nyata betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi pemerintah daerah dalam merespons bencana secara langsung di lapangan. Hingga malam hari, akses jalan masih dalam tahap penanganan, dan warga sekitar diminta untuk menunda bepergian kecuali untuk hal-hal mendesak guna menghindari risiko keselamatan. (*)








































