GAYO LUES — Pemerintah Kabupaten Gayo Lues terus mengupayakan pembukaan akses ke Desa Pining, Kecamatan Pining, yang hingga kini masih terisolasi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor. Hampir satu bulan setelah bencana melanda, akses utama ke desa tersebut masih tertutup total, membuat distribusi bantuan dan aktivitas warga terhambat.
Dalam upaya percepatan pemulihan, Pemkab Gayo Lues mulai mengerahkan alat berat berupa ekskavator sejak **Selasa, 23 Desember 2025**, untuk membuka jalur darurat baru yang dapat dilalui kendaraan. Jalan utama yang biasa digunakan warga kini tertimbun material longsor dan puing-puing banjir. Akibatnya, jalur tersebut tidak lagi bisa dilalui baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Pembukaan jalur ini menjadi prioritas utama agar distribusi bantuan logistik dapat dilakukan secara estafet dan kehidupan warga segera bisa normal kembali,” ungkap salah satu anggota tim gabungan yang tengah bekerja di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim gabungan terdiri dari unsur Pemerintah Kabupaten, Polres Gayo Lues, TNI, relawan, dan masyarakat yang bersama-sama menempuh medan berat untuk menyalurkan bantuan langsung ke titik-titik terdampak. Bantuan darurat yang dibawa meliputi sembako, kasur, dan bahan kebutuhan pokok lainnya, terutama untuk warga di Desa Pining yang masih sangat minim akses layanan dasar.
Saat ini, jalur distribusi terdekat berada di Kampung Uring, yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama 12 hingga 15 jam. Medan terjal menambah kesulitan warga, terutama anak-anak dan lansia, dalam memperoleh bantuan secara langsung.
Sebelumnya, bantuan sempat dikirimkan melalui jalur udara, namun distribusi belum maksimal karena keterbatasan armada dan cuaca yang tidak menentu. Oleh karena itu, jalur darat dipandang sebagai solusi paling efektif untuk menjangkau warga secara menyeluruh.
Di kondisi normal, perjalanan dari pusat kota Blangkejeren ke Desa Pining hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Namun pascabencana, waktu tempuh membesar drastis. Tim bahkan harus menginap satu malam di Dusun Pepelah, tepat di sekitar jembatan yang terputus, sebelum melanjutkan perjalanan ke desa terisolasi itu.
Pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda terus berkoordinasi untuk mempercepat pembukaan jalur darurat, sekaligus merancang rencana jangka panjang untuk perbaikan infrastruktur secara permanen. Bagi masyarakat desa di kawasan pegunungan ini, tersedianya akses jalan menjadi kebutuhan esensial bukan hanya untuk transportasi, tapi juga untuk pendidikan, kesehatan, dan perekonomian harian.
Dengan pengerahan alat berat dan kerja sama lintas sektor, jalur penghubung diharapkan segera bisa fungsional, setidaknya untuk keperluan darurat dan distribusi logistik. Hal ini akan menjadi langkah awal dalam memulihkan kehidupan masyarakat Pining serta mempercepat proses pemulihan pascabencana secara menyeluruh di wilayah Gayo Lues. ***







































