Gayo Lues, 20 Desember 2025 – Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, dilaporkan harus berjalan kaki sejauh 18 kilometer untuk mendapatkan bantuan beras dari posko bantuan Pemerintah Daerah yang berada di Desa Setul. Perjalanan ini mereka tempuh menyusuri medan sulit pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November lalu.
Informasi dari warga setempat menyebutkan bahwa perjalanan dari Desa Pasir Putih ke Desa Setul memakan waktu antara 7 hingga 8 jam berjalan kaki. Warga umumnya berangkat sejak pukul 07.00 pagi dan kembali ke rumah menjelang sore atau malam hari.
Kondisi ini terjadi karena akses jalan menuju desa mereka masih belum dapat dilalui kendaraan, serta belum adanya sistem distribusi logistik yang mencapai langsung ke wilayah tersebut. Posko bantuan yang dikelola Pemerintah Daerah menjadi titik pusat penyaluran pangan, termasuk beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang menjadi perhatian dari situasi ini adalah sebagian besar ibu-ibu tersebut tidak memiliki anggota keluarga laki-laki yang bisa membantu mengambil logistik dari posko, sehingga mereka harus berangkat sendiri. Beberapa dari mereka adalah janda, lansia, atau kepala keluarga tunggal yang mengurus keluarga tanpa pendamping.
“Karena tidak ada anak laki-laki di rumah, kami ambil sendiri. Kalau tidak, kami tidak ada makanan di rumah,” ungkap salah seorang warga kepada relawan yang bertugas di lokasi.
Sementara itu, hingga hari ini, belum ada armada distribusi khusus yang menjangkau desa-desa terdampak di Kecamatan Pining secara langsung. Akses jalan yang rusak dan medan geografis yang berat menjadi salah satu kendala utama distribusi bahan logistik ke wilayah seperti Pasir Putih.
Pemerintah daerah sebelumnya telah menyampaikan komitmennya untuk memperluas distribusi bantuan melalui koordinasi lintas sektor, namun keterbatasan logistik dan infrastruktur masih menjadi tantangan. Warga berharap, dalam waktu dekat, Pemerintah Daerah Gayo Lues dapat mengerahkan bantuan yang lebih merata dengan mendekatkan titik distribusi ke desa-desa terdampak.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memastikan bahwa distribusi bantuan tepat sasaran, merata, dan menjangkau masyarakat paling rentan, tanpa harus membebani mereka menempuh perjalanan jauh demi kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat dan relawan di lokasi berharap agar proses distribusi logistik diperbaiki ke depannya, termasuk dengan pengiriman langsung ke titik-titik yang saat ini masih minim akses kendaraan. Pemerintah juga diharapkan segera mempercepat perbaikan infrastruktur jalan agar jalur logistik bisa dibuka secara permanen. (Red)







































