Kemendagri Berhentikan Sementara Bupati Aceh Selatan Selama Tiga Bulan karena Pergi Umrah di Tengah Bencana tanpa Izin Resmi

Redaksi Bara News

- Redaksi

Rabu, 10 Desember 2025 - 00:27 WIB

50481 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara kepada Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, setelah yang bersangkutan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melaksanakan ibadah umrah di tengah kondisi darurat bencana yang melanda wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul temuan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur secara ketat segala bentuk perjalanan luar negeri oleh kepala daerah.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa keputusan tersebut telah tertuang dalam dua Surat Keputusan yang ditandatanganinya, salah satunya berisi tentang pemberhentian sementara terhadap Mirwan selama tiga bulan. Menurutnya, perjalanan luar negeri yang dilakukan oleh kepala daerah tanpa izin dari Kemendagri merupakan bentuk pelanggaran administratif yang diatur dalam Pasal 76 ayat 1 dan dapat dikenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77. Tito memaparkan bahwa Mirwan diketahui berangkat ke Arab Saudi untuk umrah pada 2 Desember lalu tanpa memperoleh izin resmi dari kementeriannya.

Perjalanan umrah yang dilakukan di tengah krisis banjir dan longsor di Aceh Selatan menuai kritik luas, termasuk dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang disebut ikut mempertanyakan sikap dan prioritas seorang kepala daerah yang meninggalkan wilayahnya dalam kondisi darurat. Sikap Mirwan dianggap tidak mencerminkan tanggung jawab seorang kepala daerah terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menambahkan bahwa proses pemeriksaan terhadap Mirwan dilakukan secara menyeluruh oleh Inspektorat Jenderal Kemendagri. Pemeriksaan mencakup detail perjalanan, termasuk siapa saja yang menyertainya serta sumber pembiayaan perjalanan ibadah tersebut. Ia menyatakan bahwa proses yang berjalan saat ini bertujuan untuk memastikan tidak ada pelanggaran etik maupun administratif yang lebih berat yang berpotensi berujung pada sanksi pemberhentian tetap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemeriksaan tidak hanya dilakukan kepada Mirwan, tetapi juga kepada pihak-pihak yang diduga ikut serta atau terlibat dalam keberangkatan tersebut. Menurut Bima, mekanisme evaluasi dan sanksi telah memiliki aturan yang baku, mulai dari teguran administratif hingga pemberhentian tetap dengan melibatkan Mahkamah Agung apabila terbukti terjadi pelanggaran berat.

Sebagai bentuk respons atas kritikan yang meluas, Mirwan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia mengakui kesalahan yang telah memicu keresahan di masyarakat serta mengecewakan banyak pihak, mulai dari Presiden, Menteri Dalam Negeri, hingga masyarakat Aceh Selatan sendiri. Ia menyebut bahwa langkah ke depan adalah memperbaiki kesalahan dan berkomitmen untuk kembali fokus pada tugas dan tanggung jawab sebagai pimpinan daerah.

Mirwan menyatakan penyesalannya dan berjanji akan bekerja keras memulihkan kepercayaan publik serta menjalankan tugasnya dengan lebih bertanggung jawab. Dalam pernyataan tertulisnya, ia mengungkapkan permohonan maaf kepada Presiden RI, Menteri Dalam Negeri, Gubernur Aceh, dan seluruh masyarakat Aceh Selatan. Ia menilai bahwa perbuatannya telah menimbulkan ketidaknyamanan dan akan menjadi bahan introspeksi ke depan.

Saat ini, proses evaluasi dan tindak lanjut atas pelanggaran tersebut masih berjalan. Kemendagri akan terus memantau perkembangan kasus ini dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menegakkan ketentuan hukum pemerintahan daerah demi menjamin tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan berintegritas. (*)

 

 

Berita Terkait

Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik
Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan
Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini
Sambangi Sulbar, Wamen Ossy Imbau GTRA Jadi Kunci Penyelesaian Konflik Pertanahan di Daerah
Perkuat Kepastian Hukum untuk Rumah Tinggal, Masyarakat Bisa Tingkatkan Sertipikat HGB ke HM Sekarang
Jadi Pembicara dalam SUSBANPIM VIII, Menteri Nusron: Good Governance Dimulai dari Disiplin, Pembagian Tugas, dan Tata Kelola yang Jelas
Beda Fungsi dan Kegunaan, Pahami Perbedaan Pengecekan Sertipikat dan SKPT

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:32 WIB

Aktivis Nasional Apresiasi Ketegasan Menteri Imipas Agus Andrianto, Bukti Nyata Komitmen Bersihkan Institusi dari Praktik Korupsi

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:39 WIB

*Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN)*

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:05 WIB

Sebanyak 1.052 Narapidana dan Anak Binaan Terima RK dan PMP Khusus Waisak Tahun 2026

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:21 WIB

*Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni 2026, BRN: Jawaban atas Kerinduan Masyarakat*

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:32 WIB

Simak Cara Jual Beli Tanah yang Aman agar Terhindar Masalah di Masa Mendatang

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:30 WIB

Pasang Patok, Cara Sederhana Cegah Sengketa Tanah dengan Tetangga

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:45 WIB

Berantas Mafia Tanah, Ini Cara Melapor ke Kementerian ATR/BPN

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:38 WIB

Jadi Bagian dari Satgas PKH, Kementerian ATR/BPN Kawal Kepastian Hukum dan Tata Kelola Kawasan Hutan

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Polda Aceh Ajak Masyarakat Meriahkan Bank Aceh Bhayangkara Run 2026

Sabtu, 6 Jun 2026 - 14:16 WIB