GAYO LUES – Kondisi darurat di Kabupaten Gayo Lues mendorong jajaran pemerintahan daerah dan unsur TNI untuk merapatkan barisan. Dalam situasi yang semakin kritis akibat banjir bandang dan longsor, Dandim 0113/GL, Letkol Inf Agus Satrio Wibowo, S.I.P., bersama Sekretaris Daerah Gayo Lues, dr. Nevi Rizal, M.Kes., M.H., menggelar rapat koordinasi bersama para pengulu dari seluruh kecamatan guna menyusun langkah-langkah darurat penanganan bencana.
Letkol Agus menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menyelamatkan warga yang masih berada dalam kondisi terancam langsung, serta memastikan ketersediaan kebutuhan pokok bagi para pengungsi. Dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa seluruh sumber daya harus diarahkan untuk membuka jalur logistik darurat, terutama melalui Jalan Abdya–Gayo Lues yang saat ini menjadi satu-satunya akses dengan kans terbuka. Jalur lain yang mengarah ke Aceh Tenggara, Aceh Tengah dan Aceh Timur dinyatakan masih tertutup total dan belum memungkinkan untuk dilalui.
“Bukan berarti jalur lain kita abaikan, tapi jika kita memaksa lewat sana, kita hanya akan terjebak di antara longsoran yang belum dapat dibersihkan. Fokus kita sekarang adalah pada jalan yang memang bisa segera ditangani,” ujarnya tegas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kondisi terisolasi ini, strategi respons darurat tidak lagi dapat sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar. Dandim meminta keterlibatan langsung dari masyarakat untuk membangun jembatan darurat dan membuka jalan secara manual. Hal ini dinilainya sebagai alternatif paling realistis demi membuka akses keluar-masuk barang bantuan dan mempercepat evakuasi korban.
“Kami mohonkan kekuatan dari warga. Sambil menunggu alat berat dan bantuan dari pusat, mari kita bangun jembatan darurat dengan bahan seadanya. Dokumentasikan semua kegiatan sebagai bukti bahwa situasi kita benar-benar darurat,” serunya di hadapan para pengulu.
Sekda Nevi Rizal menambahkan bahwa bencana ini juga memicu gejolak ekonomi, terutama akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok yang mulai terasa di sejumlah lokasi. Sebagai respons, Bupati Gayo Lues telah mengeluarkan imbauan kepada para pedagang untuk menjaga stabilitas harga. Upaya pengawasan turut digalakkan oleh Kodim 0113 bersama jajaran kepolisian guna mencegah terjadinya penimbunan dan praktik penjualan dengan harga tak wajar di masa darurat.
Di sisi koordinasi bantuan, Sekretaris Daerah menyoroti pentingnya penerapan sistem data satu pintu oleh seluruh instansi, mulai dari BNPB, BPBD hingga lembaga lintas sektoral lainnya. Menurutnya, akurasi dan keselarasan data menjadi kunci utama dalam memastikan bantuan tepat sasaran. Tanpa sistem basis data yang sama, penyaluran bantuan rawan tumpang tindih dan berisiko menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat yang tengah terpuruk.
Dalam kondisi komunikasi yang nyaris lumpuh, Kepala Dinas Kominfo, Nopal, SP., melaporkan bahwa pihaknya telah mengirim surat resmi kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk bantuan sistem komunikasi darurat. Komdigi, kata Nopal, merespons cepat dengan menyiapkan unit VSAT (Very Small Aperture Terminal) yang memungkinkan akses komunikasi alternatif berbasis satelit. VSAT tersebut, dijanjikan akan segera dikirim ke Gayo Lues dalam beberapa hari mendatang.
“Komdigi langsung menawarkan fasilitas VSAT yang terhubung ke satelit. Ini sangat kita butuhkan karena banyak titik kini benar-benar terputus dari dunia luar. Koordinasi hampir mustahil dilakukan tanpa jaringan,” jelasnya.
Dari lapangan, cerita memilukan disampaikan oleh Pengulu Agusen, Ramadhan, yang menyampaikan bahwa desanya menjadi salah satu titik terparah. Sekitar 50 rumah warga rata dengan tanah setelah dihantam air bah dan longsoran tanah dari perbukitan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, dan tidak sedikit yang hilang kontak dengan anggota keluarga di luar daerah.
Ramadhan berharap agar dapat segera dibentuk posko pengaduan khusus bagi warga yang kehilangan anggota keluarga atau terputus komunikasi. Ia juga mengusulkan agar pemerintah menyediakan kanal komunikasi terpisah khusus bagi aparat dan relawan, agar arus koordinasi kebencanaan tidak tersendat oleh padatnya trafik komunikasi masyarakat umum yang tengah mencari kabar keluarga mereka.
Kondisi darurat di Gayo Lues hingga hari ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat kini bahu-membahu untuk menanggulangi dampak bencana yang begitu luas. Di tengah keterisolasian dan keterbatasan bantuan, semangat gotong royong menjadi satu-satunya kekuatan utama dalam menghadapi krisis yang masih berkepanjangan ini.(RED)







































