Aceh Tamiang – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam merespons bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh Tamiang. Dalam waktu delapan hari, Danantara berhasil menyelesaikan pembangunan 600 unit hunian yang diperuntukkan bagi warga terdampak.
“Saya sampaikan terima kasih kepada Danantara yang telah melakukan pekerjaan dengan baik. Membangun 600 hunian dalam waktu singkat adalah suatu prestasi. Mereka telah membuktikan bahwa dalam delapan hari, 600 rumah bisa berdiri,” kata Presiden dalam rapat terbatas di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).
Presiden meminta agar langkah cepat ini diikuti dengan koordinasi lintas lembaga dan tingkat pemerintah. Danantara, selaku pelaksana pembangunan, diminta untuk terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta kepala daerah setempat dalam penentuan lokasi dan distribusi hunian, guna menghindari tumpang tindih proyek serta memastikan pendistribusian bantuan berjalan tepat sasaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Supaya tidak tumpang tindih, koordinasinya harus jelas. Siapa yang membangun, di titik mana, dan siapa yang mengurus lokasi terpencar, itu harus tertata. Koordinasi yang ketat penting, tanyakan ke pemerintah daerah, tanyakan ke gubernur, mana lokasi yang lebih prioritas,” ujar Presiden.
Prabowo menekankan pentingnya efisiensi dan akurasi dalam distribusi sumber daya. Menurutnya, seluruh upaya pemulihan pascabencana harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara tepat dan tidak menimbulkan pemborosan anggaran.
“Supaya resource kita benar-benar bermanfaat, tidak tumpang tindih, tidak mubazir. Segala upaya ini harus segera diarahkan untuk membantu rakyat kita,” ujarnya.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, dalam laporannya kepada Presiden menjelaskan bahwa proses pembangunan 600 unit hunian tersebut melibatkan sekitar 1.635 pekerja yang bekerja tanpa henti selama 24 jam. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan konstruksi milik negara, termasuk Hutama Karya, Waskita Karya, dan Adhi Karya.
“Kita bekerja siang malam, tanpa henti. Tim lapangan terdiri dari ribuan pekerja yang dibagi dalam shift agar bisa mengejar penyelesaian dalam waktu singkat. Ini merupakan kolaborasi antara Danantara dan BUMN konstruksi,” kata Rosan.
Hunian yang dibangun oleh Danantara didesain untuk langsung dapat dihuni dan dilengkapi beragam fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari. Selain unit rumah seluas 22 meter persegi, kawasan tersebut juga dilengkapi tempat bermain anak, dapur umum, akses internet, serta 120 unit toilet umum, sehingga memungkinkan kehidupan warga berlangsung dengan layak.
Seluruh unit hunian dibangun di atas lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang telah disiapkan khusus untuk penanganan korban bencana. Pemerintah menargetkan sebanyak 15 ribu unit hunian Danantara akan dibangun di wilayah Sumatra sebagai bagian dari penyediaan hunian permanen bagi warga terdampak bencana.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 ribu unit dialokasikan untuk warga di Aceh, sementara sisanya akan dibangun di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan sebanyak 2.000 unit, serta Sumatra Barat sebanyak 500 unit.
Langkah cepat ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat penanganan pascabencana melalui pendekatan kolaboratif antara sektor pemerintah pusat, daerah, dan BUMN. Presiden berharap pola serupa dapat diterapkan di lokasi-lokasi terdampak bencana lainnya untuk mempercepat pemulihan dan membangkitkan kembali kehidupan sosial ekonomi masyarakat. (*)




































