BOGOR | Menjelang penutupan hari ketiga Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), suasana di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terasa lebih hening namun penuh makna. Sabtu malam, 31 Januari 2026, digelar kegiatan bertajuk “Api Semangat Bela Negara” (ASBN), sebuah agenda yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai dasar bela negara ke dalam sanubari para peserta retret, yang terdiri dari perwakilan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Acara berlangsung dengan khidmat di tengah alam terbuka dan diikuti secara penuh oleh seluruh peserta, instruktur, serta panitia penyelenggara. Dalam suasana yang menyatu dengan alam malam Rumpin yang tenang, para peserta diajak untuk merenungkan kembali posisi dan tanggung jawab mereka sebagai bagian dari kekuatan moral bangsa, khususnya dalam menghadapi tantangan informasi dan ancaman terhadap persatuan nasional. Berbeda dengan sesi retret sebelumnya yang bersifat konseptual dan diskusif, ASBN digarap dengan pendekatan simbolik dan emosional untuk memperkuat dimensi kebangsaan secara spiritual dan batiniah.
Nilai-nilai dasar bela negara yang menjadi esensi dari acara ini mencakup cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, kerelaan berkorban demi bangsa dan negara, serta kepemilikan kemampuan awal bela negara. Kelima nilai tersebut disampaikan tidak dalam bentuk ceramah, melainkan melalui simbol dan aktivitas yang menggugah kesadaran. Setiap elemen kegiatan dirancang untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan meneguhkan kembali tujuan bersama para jurnalis sebagai penjaga ruang publik yang sehat dan bermartabat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, diikuti dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan melalui momen mengheningkan cipta. Para peserta kemudian menyuarakan kembali teks Pancasila secara lantang, dilanjutkan dengan pembacaan ikrar Bela Negara secara kolektif sebagai komitmen pribadi dan profesi dalam menjaga integritas bangsa melalui media dan informasi.
Momen kebersamaan dalam kegiatan ini direkatkan melalui penyalaan api semangat, sebuah simbol dari nyala tekad yang tidak padam meski diterpa tantangan zaman. Dalam perenungan yang disampaikan lewat pembacaan puisi bertajuk “Lingkaran Persaudaraan”, peserta diajak menyadari kesatuan nasib sebagai anak bangsa dan pentingnya saling menjaga dalam iklim demokrasi yang tengah belajar dewasa. Suasana haru dan penuh penghormatan tercipta saat para peserta mencium bendera Merah Putih yang dikawal dengan iringan reflektif. Dalam keheningan spiritual, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan bangsa serta kemantapan langkah insan pers dalam mengemban tugas yang berat, tetapi mulia.
Kegiatan tersebut ditutup dengan lagu “Bagimu Negeri” yang dinyanyikan bersama. Lagu yang syairnya sederhana namun dalam maknanya itu menjadi penanda komitmen kolektif para peserta retret untuk mempersembahkan karya dan dedikasi mereka kepada tanah air. Melalui ekspresi sederhana namun menyentuh itu, peserta tidak hanya menggenapkan rangkaian formal kegiatan, tetapi juga memperkuat kembali panggilan nurani sebagai bagian dari kekuatan sipil bangsa yang tangguh dan berintegritas.
Api Semangat Bela Negara bukan hanya menjadi nama sebuah kegiatan, melainkan mengandung nilai yang diharapkan terus menyala dalam sikap, karya, dan pemikiran insan pers di tengah arus informasi yang deras dan tak selalu berpihak pada kebenaran. Di sanalah pers Indonesia diuji—bukan semata dalam kemampuan teknis, tetapi dalam pendirian moral dan keberpihakan pada nilai-nilai luhur kebangsaan. Kegiatan ini menjadi satu bagian penting dari upaya kolektif membangun ketahanan nasional berbasis kesadaran informasi, melalui pelibatan jurnalis sebagai aktor strategis dalam membentuk opini dan nalar publik yang sehat.
Dalam kesederhanaannya, rangkaian acara ASBN menjadi pengingat bahwa semangat bela negara bukan milik satu kelompok profesi tertentu saja, melainkan milik seluruh anak bangsa dalam konteks tugas dan peran masing-masing. Dan ketika para wartawan—sebagai penjaga ingatan kolektif dan suara masyarakat—dilatih untuk merasa dan berpikir dalam semangat itu, negara memiliki satu lagi alasan untuk percaya bahwa pers masih menjadi sahabat demokrasi dan penjaga persatuan. (RED)







































