ACEH TENGAH| Akhir November 2025 menjadi titik balik yang berat bagi masyarakat Kabupaten Aceh Tengah. Banjir besar yang datang secara tiba-tiba melanda beberapa wilayah permukiman dan menyebabkan kerusakan masif. Air yang meluap menerjang rumah, fasilitas umum, serta lahan pertanian warga, menyisakan trauma dan duka mendalam. Data sementara mencatat sebanyak 4.221 rumah terdampak, di mana 1.958 di antaranya mengalami kerusakan berat, 500 rumah rusak sedang, dan 1.763 rusak ringan.
Di tengah kondisi darurat tersebut, langkah sigap langsung diambil oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam semangat kolaborasi lintas sektor, BNPB bersama kementerian/lembaga terkait berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk bergerak cepat dalam tahap penanganan lanjutan. Fokus diarahkan pada pemulihan kehidupan warga terutama melalui pembangunan hunian sementara (huntara) sebagai tempat tinggal awal bagi mereka yang kehilangan rumah. Upaya ini diyakini menjadi pondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial, psikologis, dan ekonomi masyarakat terdampak.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sebelumnya telah mengajukan permohonan pembangunan huntara kepada pemerintah pusat. Sebagai tindak lanjut, sebanyak 1.958 unit huntara direncanakan untuk dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup sebanyak 781 unit, dan dilanjutkan pada tahap kedua sebanyak 1.021 unit. Keseluruhan huntara tersebut ditempatkan di sembilan titik lokasi yang tersebar di beberapa desa sesuai dengan kebutuhan dan kelompok sebaran penduduk terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu titik pembangunan terbesar berada di Kecamatan Ketol, yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak secara langsung oleh banjir. Di wilayah ini, huntara dibangun masing-masing sebanyak 128 unit di Desa Serempah, 89 unit di Desa Bintang Pepara, dan 35 unit di Desa Burlah. Jumlah yang tidak sedikit ini menunjukkan besarnya dampak serta perlunya percepatan penanganan di lapangan. Kecamatan Linge juga menjadi titik utama pembangunan huntara, di antaranya terletak di Desa Delung Sekinel sebanyak 101 unit, Desa Jamat 72 unit, Desa Reje Payung 91 unit, Desa Penarun 71 unit, Desa Umang 97 unit, serta Desa Kute Reje sebanyak 97 unit.
Pembangunan huntara yang berlangsung tersebut tidak semata merupakan respons teknis, melainkan simbolisasi kehadiran negara yang nyata di tengah warganya yang sedang menghadapi fase pemulihan. Tiap struktur bangunan yang didirikan membawa pesan tentang solidaritas dan harapan. Pemerintah memastikan bahwa kualitas bangunan sesuai dengan standar kelayakan huni, dan bahwa warga yang menempatinya dapat menjalani kehidupan dengan tetap terjaga martabat dan keamanan.
Meski proses pembangunan belum sepenuhnya tuntas, perkembangan di lapangan menunjukkan kemajuan. Rangka kayu dan dinding huntara mulai tampak berdiri perlahan di berbagai titik, menjadi saksi bahwa masa depan sedang dibangun kembali, meski dari puing-puing bencana. Warga yang semula tinggal di tenda atau mengungsi di rumah sanak famili kini menatap hari esok dengan lebih pasti, menunggu saat mereka dapat kembali menatap langit dari rumah sendiri, meski sementara.
Pemerintah juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut mengawal proses ini bersama-sama. Keterlibatan masyarakat sipil, organisasi kemanusiaan, dan perhatian publik menjadi kekuatan tambahan dalam memastikan bahwa seluruh korban terdampak banjir mendapatkan hak hidup yang layak dan humanis. Pemulihan pascabencana memang tak pernah mudah, namun dengan gotong royong, komitmen, dan empati bersama, setiap desa yang terendam dapat berdiri kembali dan melanjutkan kehidupan.
Foto udara yang diambil dari berbagai sisi lokasi terdampak memperlihatkan proses pembangunan yang berjalan. Ratusan unit huntara dibangun secara paralel, menunjukkan keseriusan pemerintah dan seluruh pihak dalam menjamin masa transisi yang aman bagi warga Aceh Tengah. Di balik deretan atap seng dan tembok kayu, tersimpan cerita keteguhan masyarakat yang memilih untuk tidak menyerah. Kini mereka mulai merajut kembali berbagai mimpi yang sempat terhenti. (*)






































