
ACEH SELATAN | Ramai kritikan bermunculan termasuk dari Para Anggota dan Pimpinan DPRK Aceh Selatan akibat pernyataan seorang Akademisi, Dr. Nasrul Zaman, ST., M.Kes pada salah satu podcast yang mengatakan Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan sebagain “Kacung”.
Tak hanya dari kalangan internal DPRK Aceh Selatan saja. Kritikan juga muncul dari Aktivis Mahasiswa asal Aceh Selatan, Tonicko Anggara. Ia menyebutkan bahwasannya argumentasi Nasrul Zaman yang mengatakan bahwa DPRK Aceh Selatan sebagai “Kacung” itu terlalu tendensius dan propagandis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Wah, kacau akademisi yang satu ini. Argumentasi beliau pada podcast tersebut terlalu tendensius dan propagandis saat menarasikan Lembaga Negara yang dalam hal ini adalah DPRK Aceh Selatan dan menyebutnya sebagai “Kacung”. Jelas Tonicko Anggara.
Aktivis mahasiswa tersebut juga mempertanyakan esensi dari ke-akademisian Nasrul Zaman dengan mengatakan bagaimana mungkin dalam benak seorang akademisi ada narasi tendensius dan propagandis.
“Tentunya tendensius dan propagandis bukanlah produk akademik. Bagaimana mungkin seseorang yang bergelar Doktor dalam benaknya terdapat produk-produk non akademis? Secara esensi akademis tentunya perlu dipertanyakan terkait status beliau sebagai akademisi maupun pengamat.” Tegasnya.
Tonicko melanjutkan pernyataannya dengan mengatakan bahwasannya seharusnya akademisi hadir membawa solusi cerdas bukan malah memperkeruh suasana di Aceh Selatan yang sempat menjadi tranding topik nasional. Menurut Tonicko, itu dapat memperkeruh suasana dan merugikan Aceh Selatan di tengah kondisi yang mulai berangsur baik.
“Seharusnya orang berilmu itu hadir membawa solusi cerdas dan menyejukkan di tengah kondisi Aceh Selatan saat ini bukan malah sebaliknya. Tentunya hal seperti itunya bukan hanya menghilangkan warwah Lembaga negara dan Marwah orang-orang yang menjadi wakil rakyat namun juga akan seamakin memperkeruh suasana dan merugikan Aceh Selatan. Saat ilmu tak memberikan kebermanfaatan yang kemudian menciptakan kekisruhan di tengah kondisi yang sedang berangsur baik di Aceh Selatan, mungkin itulah alasan penempatan mengapa adab lebih tinggi daripada ilmu.”
Di akhir pernyataannya Tonicko meminta DPRK menyurati media podcast tersebut untuk meminta tayangan itu di take down agar tak menjadi sumber pemantik yang dapat menciptakan kekisruhan dan kerusuahan di daerah Aceh Selatan.
“Kami meminta DPRK Aceh Selatan menyurati media podcast tersebut untuk di take down saja videonya agar tak menjadi sumber pemantik yang dapat menciptakan kekisruhan dan kerusuhan di Aceh Selatan. Alasannya tentu untuk menjaga kestabilan kita di Aceh Selatan.” Tutup Tonicko Anggara. (rel)





































