BARANEWS | Kopi Arabika Gayo dari Aceh kini mendapat sorotan internasional setelah masuk dalam daftar “Best Coffee Beans Types in the World” oleh TasteAtlas, berdasarkan data per 16 September 2026. Dalam peringkat tersebut, kopi yang dibudidayakan di dataran tinggi Gayo tercatat sebagai salah satu dari tujuh jenis biji kopi terbaik di dunia, dengan karakter rasa yang dinilai menonjol dibanding banyak kompetitor lain.
Kopi Gayo dikenal berasal dari kawasan dataran tinggi di Provinsi Aceh, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Di wilayah inilah tanaman Arabika dibudidayakan pada kondisi yang mendukung pembentukan profil rasa khas—antara lain kekentalan sedang hingga penuh serta keasaman rendah. TasteAtlas menyebut aroma kopi ini kerap menghadirkan nuansa herbal, tanah, hingga sentuhan pedas, yang menurut penilaian audiensnya menjadi salah satu alasan kopi Gayo mudah diingat.
Penilaian TasteAtlas, berdasarkan mekanisme yang memadukan beragam sumber, tidak hanya bertumpu pada satu ulasan. Daftar peringkat disusun dari ulasan yang tersedia, catatan penghargaan, rekomendasi lokal, liputan media dan blog, hingga ulasan konsumen. Dengan kata lain, kopi yang masuk daftar dinilai melalui gabungan informasi popularitas, reputasi, serta tanggapan langsung dari penikmat.
Masuknya Kopi Arabika Gayo dalam daftar tersebut juga berkaitan dengan pengakuan formal yang telah diterima kopi dari Aceh. Kopi Gayo disebut telah dianugerahi status Indikasi Geografis (IG) oleh pemerintah Indonesia, yang menjadi salah satu penegas bahwa karakter kualitas kopi tersebut terkait dengan asal wilayahnya. Status IG biasanya merujuk pada kekhasan yang tidak mudah “disamakan” oleh komoditas sejenis dari daerah lain, karena dipengaruhi faktor geografis dan praktik budidaya di lokasi produksi.
Selain Kopi Gayo, TasteAtlas juga menempatkan beberapa jenis kopi lain dalam daftar yang sama, seperti Café de Colombia, Arabica Ethiopia, Jamaican Blue Mountain, Robusta dari Republik Demokratik Kongo, Kafae Doi Chaang dari Thailand, serta Huehuetenango highland coffee dari Guatemala. Namun, untuk konteks Indonesia, perhatian publik cenderung mengarah pada kopi Gayo karena profil rasa yang disebut “bersih” dan minim keasaman—dua atribut yang kerap dicari dalam tren preferensi kopi saat ini.
Bagi petani dan pelaku usaha kopi di wilayah Gayo, pencantuman dalam peringkat global itu menjadi sinyal bahwa kualitas kopi Aceh mendapat validasi dari skema penilaian berbasis pengalaman pengguna. Di saat yang sama, daftar tersebut juga memberi ruang bagi promosi yang lebih terarah, terutama karena karakter rasa kopi Gayo disebut relatif konsisten: kekentalan yang terasa, keasaman yang rendah, serta aroma yang tidak sekadar kuat tetapi juga memiliki lapisan nuansa. (*)









































