Bener Meriah Baranewsaceh.co | Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Kabupaten Bener Meriah menetapkan sejumlah program kesiswaan tahun 2026 dengan fokus utama pada pemulihan peserta didik pascabencana, serta penguatan pembinaan siswa di jenjang SMA, SMK, dan SLB.
Hal itu disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bener Meriah, Subandi, S.Si., M.Si., saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (27/1/2026).
Subandi menjelaskan, terdapat enam program utama kesiswaan yang akan dijalankan sepanjang 2026. Program tersebut mencakup pemantauan dan evaluasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026-2027 untuk SMA, SMK, dan SLB di wilayah Bener Meriah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Cabdin juga melakukan pendataan dan pengelolaan data siswa secara menyeluruh, meliputi data per jenjang pendidikan, jenis kelamin, rombongan belajar (rombel), siswa berprestasi, siswa dari keluarga kurang mampu, yatim piatu, serta penerima Program Indonesia Pintar (PIP) dan bantuan pendidikan lainnya.
Program berikutnya adalah pemantauan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar berjalan sesuai ketentuan dan mendukung proses adaptasi siswa baru.
Cabdin juga melakukan monitoring seleksi bakat dan minat siswa di bidang akademik maupun non-akademik, baik pada tingkat kabupaten maupun seleksi yang difasilitasi pemerintah, serta pemantauan pengembangan potensi dan prestasi siswa di masing-masing satuan pendidikan.
Selain itu, penguatan pembinaan karakter dan disiplin siswa menjadi bagian penting dari program kesiswaan sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Di luar program reguler tersebut, Subandi menegaskan adanya program kesiswaan khusus pascabencana yang menjadi perhatian utama pada 2026.
“Pascabencana, kami menekankan langkah-langkah pemulihan bagi peserta didik,” kata Subandi.
Program pemulihan tersebut meliputi trauma healing yang dilaksanakan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) bagi siswa yang terdampak langsung maupun tidak langsung, guna memulihkan kondisi psikologis dan menumbuhkan kembali motivasi belajar.
Selain itu, diterapkan pembelajaran berbasis alam (nature-based learning) dengan mengaitkan materi pembelajaran pada peristiwa bencana sebagai penguatan pembelajaran kontekstual.
Cabdin juga memfasilitasi pembentukan posko penerimaan bantuan di lingkungan pendidikan, penyaluran bantuan bagi siswa dan warga sekolah yang terdampak banjir bandang, serta pengumpulan donasi dari SMA, SMK, dan SLB untuk membantu korban bencana, baik di dalam maupun luar daerah.
Subandi berharap seluruh program tersebut dapat berjalan optimal demi mendukung pemulihan dan pengembangan potensi peserta didik di Bener Meriah.
“Tujuan utamanya adalah memastikan peserta didik tetap mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, sekaligus pulih secara mental dan sosial pascabencana,” ujarnya. (*)







































