Oleh : Fathan Muhammad Taufiq *)
Hampir tidak ada yang menduga, kalau hujan yang terjadi di wilayah Aceh dan Sumatera lainnya selama dua hari berturut-turut itu dampaknya begitu dahsyat, bahkan boleh dikatakan lebih dahsyat dari bencana tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu.
Mengapa bisa terjadi? tentu itu yang menjadi pertanyaan kita, ada pihak yang mengatakan bahwa itu bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, tapi sejatinya bukan hanya karena curah hujan yang tinggi saja, melainkan banyak faktor yang menyebabkan bencana ini begitu berdampak sangat dahsyat, bukan cuma di Aceh tapi juga di Sumatra Utara dan Sumatera Barat, meskipun dampak terbesar terjadi di Aceh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Betapa tidak, hampir 80 persen wilayah Aceh terdampak langsung bencana ini, tidak terkecuali wilayah tengah Aceh yang mestinya secara logika tidak mungkin dilanda banjir besar, tapi itu terjadi juga.
Sebanyak 1.098 ruas jalan sepanjang ribuan kilometer dan 492 jembatan rusak dan hancur akibat terjangan banjir dan longsor, ini yang menyebabkan wilayah tengah Aceh, khususnya kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues terisolir dalam waktu yang cukup lama. Hampir seluruh akses jalan menuju wilayah ini terputus, sehingga pasokan logistik, terutama bahan pangan dan bahan bakar minyak serta gas elpiji ke wilayah ini menjadi sangat sulit, ditambah lagi dengan terputusnya aliran listrik dan jaringan telekomunikasi seluler.

Ketika para pihak menyebut ini sebagai bencana hidrometeorologi, saya jadi teringat dengan aktifitas lama saya sebagai pencatat data curah hujan selama 10 tahun. Bencana ini pasti ada kaitannya dengan curah hujan, meski faktor lain juga banyak mempengaruhinya.
Dalam kamus BMKG, curah hujan dicatat dengan satuan mm (milimeter kubik) yang dicatat berdasarkan jumlah air hujan yang tertampung dalam alat penakar curah hujan baik yang manual maupun otomatis setiap harinya.
Setiap 1 mm yang tercatat dari alat penakar, itu setara dengan 1 liter air diatas permukaan tanah seluas 1 m², kalo ada luasan wilayah sebaran hujan 100 hektar saja, berarti air hujan yang sampe ke permukaan tanah adalah 1.000.000 liter,
Saya memprediksi ketika terjadi bencana hidrometeorologi di kabupaten Aceh Tengah tanggal 26 – 27 Nopember 2025 yang lalu, curah hujan lebih dari 200 mm, itu artinya dalam setiap m² luasan tanah, ada genangan air 200 liter, bayangkan luas wilayah Aceh Tengah adalah 452.800 hektar, berarti air hujan yang tercurah waktu itu adalah 452.800 x 10.000 x 200 = 905.600.000.000 liter atau 905,6 milyar liter, kalo dikalikan dua hari berarti = 1.811.200.000.000 atau 1,8 triliun liter, dengan daya dukung lahan yang minim akibat kerusakan lingkungan yang sudah parah, air sebanyak itu bisa menghanyutkan apa saja yang dilaluinya, itulah sebabnya dampak dari hujan selama dua hari terus menerus itu begitu dahsyatnya. Belum lagi curah hujan yang terjadi di wilayah kabupaten Bener Meriah dengan luas wilayah 197.271 hektar dan Gayo Lues yang memiliki luas wilayah 571.990 hektar, tentunya menghasilkan air hujan sebanyak triliunan liter. Ini yang kemudian berdampak ke wilayah lainnya baik di pesisir utara-timur Aceh maupun barat-selatan Aceh. Belum lagi curah hujan yang juga sangat tinggi yang terjadi di wilayah pesisir/hilir, ikut menambah volume air yang menyebabkan banjir yang sangat dahsyat.
Kenapa begitu? ya, karena semua aliran sungai dari wilayah tengah ini bermuara ke wilayah pesisir. Sungai-sungai besar di wilayah Aceh Tengah bermuara di wilayah Bireuen dan Aceh Utara (Krueng Peusangan), bermuara ke Aceh Timur dan Langsa (Krueng Jambo Aye), bermuara ke Nagan Raya dan Aceh Barat (Sungai Atu Lintang). Sementara sungai-sungai di Bener Meriah yang merupakan terusan sungai di Aceh Tengah juga bermuara di Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang. Sungai di Gayo Lues juga bermuara di Aceh Timur (Sungai Pining) dan Aceh Barat Daya serta Aceh Selatan (Sungai Babahrot). Artinya jika terjadi bencana hidrometeorologi di wilayah tengah, hampir semua wilayah akan ikut terdampak.

Kala saja vegetasi hutan masih terjaga, 80 persen dari jumlah itu akan terserap atau tertahan oleh vegetasi hutan, mungkin tidak akan separah ini dampaknya. Karena hasil penelitian dan simulasi klimatologi BMKG menyebutkan bahwa vegetasi hutan mampu menyerap 70 sampai 80 persen curah hujan, sementara vegetasi hutan yang sudah rusak, tidak akan mampu menahan curah hujan karena kondisi tanahnya yang sudah labil.
Dari narasi diatas, kita jadi tau bahwa penyebab utama bencana hidrometeorologi ini sejatinya bukan hanya curah hujan yang tinggi, tapi lebih akibat dari rusaknya vegetasi hutan mulai dari hulu sampai ke hilir. Ini dibuktikan dengan banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa oleh banjir dan longsor.
bagian hulu, kerusakan vegetasi hutan disinyalir akibat ilegal loging yang sistematis dan terstruktur serta aktifitas tambang ilegal yang nyaris tidak terkontrol akibat keterlibatan para pihak. Sementara di bagian hilir, kerusakan vegetasi hutan, terindikasi akibat alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit yang mencapai jutaan hektar. Seperti yang kita ketahui, tanaman sawit bukan tanaman yang mampu mengikat tanah, sehingga lahan sawit berpotensi menyebabkan banjir dan longsor ketika curah hujan tinggi.
Di akhir tulisan ini saya hanya bisa menghimbau, mari jaga kelestarian vegetasi hutan, mari lestarikan kembali hutan dengan menanami setiap jengkal tanah kosong dengan pepohonan yang memiliki perakaran dalam, supaya kita terhindar dari bencana. Tidak perlu dengan proyek penghijauan atau reboisasi, karena proyek hanya berorientasi uang, bukan berorientasi manfaat. Lakukan upaya sederhana dengan mengumpulkan biji buah-buahan yang batangnya berkayu seperti durian, alpukat, nangka, mangga, rambutan, dulu, Langsat dan sebagainya, kemudian biji-biji buah-buahan itu dilemparkan ke setiap lahan kosong bekas longsor, utamanya yang memiliki kemiringan tinggi. Biji-biji itu kelak akan tumbuh menjadi pohon-pohon besar yang Insya Allah akan mampu mencegah banjir dan longsor. Itu upaya kecil yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan anak cucu kita dari bencana.
Itulah sebabnya, tersebab ingin mengajak semua pihak melakukan mitigasi dini, dari dulu saya juga sering nyinyir mengajak untuk “membaca” curah hujan, tapi saya cuma ditertawakan, padahal ketika curah hujan sudah mulai ekstrim (diatas 100 mm/hari), itu warning bagi kita untuk siaga1.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
*) Pemerhati bidang pertanian, agroklimatologi dan perubahan cuaca global







































