Penulis : Muhamad Faris, Mahasiswa Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Ar Raniry
BANDA ACEH | Banjir bandang yang melanda Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, beberapa waktu lalu meninggalkan dampak besar bagi kehidupan warga. Saya berada di desa tersebut sebagai peserta KPM kebencanaan, membantu proses pembersihan fasilitas umum setelah air surut.
Hari itu kami membersihkan musala desa dan kantor sekretariat. Lumpur menempel tebal di lantai, kursi-kursi plastik berat saat diangkat, dan sisa air masih menggenang di beberapa sudut ruangan. Sejak pagi hingga sore, aktivitas kami diisi dengan mencangkul lumpur dan mengembalikan fungsi ruang-ruang publik yang sempat lumpuh. Di sela waktu istirahat, saya mendengar cerita kepala desa tentang peristiwa saat banjir datang. Cerita itu bukan hanya tentang derasnya air, tetapi tentang tindakan cepat seorang kepala desa bernama Ismail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan keterangan yang saya konfirmasi langsung, saat banjir terjadi Ismail sedang berada di kecamatan lain. Ketika mendapat kabar bahwa desa Babah Krueng terendam banjir bandang, akses kendaraan sudah sulit dilalui. Tanpa menunggu bantuan, ia memilih berjalan kaki menuju desanya dengan jarak sekitar 11 kilometer. Air naik dengan cepat dan menggenangi permukiman warga hingga ketinggian sekitar tiga sampai empat meter, hampir mencapai atap rumah. Dalam kondisi tersebut, banyak warga terjebak di dalam rumah masing-masing.
Setibanya di desa, Ismail langsung ikut proses evakuasi. Dengan satu ban dan seutas tali sebagai alat bantu, ia berkeliling dari rumah ke rumah. Ia memastikan setiap orang dievakuasi dan tidak ada yang tertinggal, meski arus air masih kuat. “Yang terpenting waktu itu keselamatan warga,” ujar Ismail singkat saat kami berbincang. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala desa. Proses evakuasi dilakukan dengan peralatan seadanya dan koordinasi sederhana antarwarga. Alhamdulillah, dalam peristiwa banjir bandang tersebut tidak ada korban jiwa
Sebagai relawan yang datang setelah bencana, pekerjaan kami berfokus pada pemulihan: membersihkan lumpur, menata kembali musala desa, dan mengaktifkan kembali kantor sekretariat desa. Namun dari cerita ini, saya melihat bahwa penanganan bencana tidak hanya soal bantuan yang datang kemudian, tetapi juga tentang keputusan cepat dan kehadiran pemimpin di saat paling genting.
Kini, musala Desa Babah Krueng kembali digunakan dan kantor desa mulai berfungsi normal. Jejak banjir perlahan dibersihkan. Namun langkah 11 kilometer yang ditempuh Ismail, serta evakuasi warga dengan satu ban dan tali, menjadi pengingat bahwa kepemimpinan di tingkat desa sering kali hadir dalam bentuk sederhana, tetapi berdampak besar bagi keselamatan banyak orang.






































