Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Merajut Kembali Imajinasi Kebangsaan

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 9 Februari 2026 - 17:52 WIB

50256 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Wacana tentang nasionalisme Prabowo Subianto kembali mengemuka setelah Syahganda Nainggolan menulis refleksi menarik mengenai akar historis pandangan kebangsaan Prabowo. Nasionalisme itu, menurut Syahganda, bertolak dari kesadaran bahwa Indonesia bukanlah entitas baru yang lahir dari kevakuman sejarah, melainkan kelanjutan panjang peradaban, bahkan sejak era Majapahit dan sebelumnya. Dengan demikian, Indonesia bukan bangsa “muda” yang mudah goyah oleh arus globalisasi, melainkan bangsa tua yang kerap lupa pada kedalaman memorinya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nasionalisme Prabowo juga dipotret Syahganda sebagai penerusan sintesis pemikiran Sukarno tahun 1926, yakni perjumpaan kreatif antara Islam, sosialisme Barat, dan ke-Indonesiaan sebagai jalan tengah yang khas. Dalam tafsir tersebut, Prabowo digambarkan akan memasuki fase konsolidasi kekuasaan pada tahun-tahun awal kepemimpinannya dengan membangun aliansi kaum nasionalis serta memperkuat relasi strategis dengan tentara rakyat sebagai basis pertahanan kedaulatan.

Pandangan itu penting, tetapi belum cukup. Bukan untuk mengoreksi, melainkan melengkapi. Sebab tantangan terbesar kepemimpinan Prabowo ke depan bukan semata soal konsolidasi kekuatan nasionalisme, melainkan pada kemampuan merekonstruksi imajinasi kebangsaan Indonesia itu sendiri, yakni sebuah dimensi yang selama ini justru luput dari perencanaan strategis negara.

Dalam dua dekade terakhir, banyak negara secara sadar merumuskan kembali imajinasi kebangsaannya sebagai fondasi kebijakan publik dan strategi jangka panjang. Tiongkok dengan “Chinese Dream”, Amerika Serikat dengan “American Exceptionalism” versi baru pasca Perang Dingin, bahkan India dengan narasi peradaban Hindutva modern. Indonesia, meski memiliki visi Indonesia Emas 2045, sejauh ini masih terjebak pada perencanaan ekonomi dan demografi, tanpa kerangka filosofis kebangsaan yang utuh dan inklusif.

Di titik inilah konsep imajinasi kebangsaan menjadi relevan. Prof. Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Guru Besar UIN Ar-Raniry Aceh, dalam kajiannya menegaskan bahwa merajut kembali imajinasi kebangsaan tidak cukup dilakukan dengan romantisme sejarah atau inventarisasi nilai budaya. Ia justru menuntut kerja filosofis yang lebih dalam, berbasis meta-teori dan refleksi metafisik tentang bagaimana bangsa ini memaknai dirinya di tengah dunia yang terus berubah.

Sayangnya, diskursus akademik dan kebijakan kita masih minim menyentuh wilayah ini. Nasionalisme Indonesia cenderung direduksi menjadi simbol, seremoni, dan jargon politik. Lebih problematis lagi, imajinasi kebangsaan yang dibangun selama ini secara laten bertumpu pada narasi Jawa-sentris, baik dalam simbol kenegaraan, kosmologi kekuasaan, hingga gestur-gestur ideologis negara.

Fenomena ini pelan tapi pasti melahirkan apa yang dapat disebut sebagai kecemburuan nasionalisme, yaitu rasa terpinggirkan di berbagai wilayah Nusantara yang merasa tidak sepenuhnya hadir dalam narasi Indonesia. Ironisnya, ancaman faktual terhadap kohesi Negara Kesatuan Republik Indonesia sering kali dianggap sebagai isu pinggiran, bukan sebagai alarm strategis.

Padahal, imajinasi kebangsaan semestinya dirajut secara harmonis dari kosmologi, spirit, ideologi, dan ilmu pengetahuan yang bercirikan kenusantaraan. Bukan sekadar Jawa, bukan pula anti-Jawa, melainkan sebuah kesadaran plural tentang Indonesia sebagai peradaban kepulauan. Tanpa itu, strategi politik, pertahanan, dan keamanan nasional akan kehilangan daya tangkal dalam menghadapi ancaman multidimensional, mulai dari fragmentasi identitas, perang informasi, hingga penetrasi ideologi transnasional.

Dalam berbagai forum publik, Pancasila sering dieliminasi menjadi slogan normatif, sementara ideologi-ideologi lain, berupa ideologi asing maupun sektarian, justru tampil sebagai tawaran solusi. Simbol-simbol kosmologi Jawa tetap dominan dalam ritus kenegaraan, tanpa upaya serius menginkorporasi kekayaan kosmologi Aceh, Minangkabau, Bugis, Papua, dan wilayah lain dalam bingkai nasional.

Jika rekonstruksi pemikiran Prabowo benar-benar berakar pada nasionalisme kerakyatan, maka ia mesti dibangun di atas imajinasi kebangsaan yang dirajut ulang secara adil dan reflektif. Kepemimpinan negarawan bukan hanya soal keberanian mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan membingkai masa depan bangsa dengan narasi yang menyatukan.

Merajut kembali imajinasi kebangsaan bercirikan kenusantaraan adalah tantangan terbesar Prabowo di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Di sanalah kelak akan diuji apakah nasionalisme yang dibangun menjadi perekat bangsa, atau justru berubah menjadi ego sentrisme yang menjelma bom waktu, menggerogoti kedaulatan dari dalam.

Nasionalisme sejati, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling keras mengaku cinta Indonesia, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh mampu memahami dan merawat ke-Indonesiaan itu sendiri, mulai dari Sabang hingga Merauke.

Berita Terkait

Ketua DPD APKASINDO Perjuangan Nagan Raya Minta Perusahaan PMKS Patuhi Instruksi Bupati
Menjelang Bulan Suci Ramadhan Personel Gabungan Bersihkan Masjid dan Pantai di Nagan Raya
Tgk.Ismail Aceh Selatan Dakwah Menyambut Bulan Suci Ramadhan Di Gampong Blang Masjid Beutong
Setahun Kepemimpinan Mualem – Dek Fadh, Penguatan Pendidikan Dayah Kian Nyata
Menjelang Bulan Suci Ramadhan PT Socfindo Seumayam Salurkan Daging Meugang Untuk Anak Yatim
Hadirlah Ramai Ramai Dakwah Islamiah Yang Disampaikan Oleh Tgk.Ismail Di Desa Blang Masjid Beutong
Ribuan Massa Padati Kantor DPRK Rakyat Penambang Pribumi Nagan Tuntut Solusi, Bukan Larangan
Sinergi TNI–Polri Menguat, Brimob Batalyon C Pelopor Ikuti Upacara TMMD ke-127 Di Beutong

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 16:40 WIB

Menjelang Meugang Ramadhan Wabup Raja Sayang Serahkan Bantuan Sosial Untuk Warga Korban Banjir Di Beutong Ateuh

Jumat, 13 Februari 2026 - 19:44 WIB

Pemkab Nagan Raya Tentukan Harga Daging Meugang Rp.180.000- 200.000./Kg

Jumat, 13 Februari 2026 - 11:09 WIB

Raja Sayang Wabup Buka Musrenbang Beutong Ateuh Tekankan Sinergi dan Kualitas Usulan

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:51 WIB

Ketum DPN PERMAHI Azhar Sidiq: Tegaskan Batas Kewenangan MKMK dalam Polemik Keppres Hakim MK

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:05 WIB

Bupati Nagan Raya TRK Buka Musrenbang Tingkat Kecamatan Tahun 2026

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:00 WIB

TRK Bupati Nagan Raya Lantik 13 JPT Pratama. Ini Nama Namanya

Senin, 9 Februari 2026 - 10:22 WIB

BNN Bongkar Jaringan Narkoba Aceh–Medan, 3 Pelaku Ditangkap dengan 200 Kg Ganja

Sabtu, 7 Februari 2026 - 05:29 WIB

Agus Kliwir : Polri Harus di Bawah Presiden RI, Demi Netralitas dan Profesionalisme

Berita Terbaru

Muklis Ketua DPD PAN Bener Meriah

BENER MERIAH

Muklis Pimpin DPD PAN Kabupaten Bener Meriah

Minggu, 15 Feb 2026 - 23:31 WIB

BIREUEN

Dek Gam Tunjuk Wapres Persiraja Nahkodai PAN Bireuen

Minggu, 15 Feb 2026 - 21:55 WIB