Masih Bergerak di Balik Status Nonaktif, Pengamat Nilai Bupati Aceh Selatan Langgar Etika dan Tantang SK Mendagri

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 - 00:02 WIB

50269 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh – Dugaan keterlibatan Bupati Aceh Selatan nonaktif, H. Mirwan, dalam aktivitas pemerintahan kembali menjadi sorotan publik. Meski telah dijatuhi sanksi administratif berupa penonaktifan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), ia disebut masih melakukan manuver politik dengan menggelar rapat tertutup bersama sejumlah pejabat strategis Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan di Banda Aceh.

Rapat yang dikabarkan berlangsung secara tertutup itu diduga menghadirkan unsur-unsur kunci, seperti Plt Sekda Aceh Selatan, Kepala Badan Pengelola Keuangan, Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), serta beberapa pimpinan SKPK lainnya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: sejauh mana batas kewenangan seorang kepala daerah yang sedang menjalani sanksi penonaktifan.

Pengamat politik Aceh, Dr Taufik A Rahim, menilai aktivitas tersebut keliru dan tidak dapat dibenarkan, baik secara etika politik maupun dalam kerangka aturan pemerintahan. Menurutnya, penonaktifan merupakan sanksi administratif yang bersifat mengikat, sehingga pejabat yang dikenai sanksi seharusnya tidak lagi melakukan aktivitas yang berpotensi memengaruhi kebijakan publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara etika dan politik, itu tidak dibenarkan. Ketika seorang bupati sudah dikenai sanksi administratif oleh Kemendagri, maka seluruh aktivitas politik dan pemerintahan harus dihentikan sampai masa sanksi berakhir,” ujar Dr Taufik A Rahim, Jumat 9 Januari 2025.

Ia mengingatkan bahwa sanksi tersebut dijatuhkan menyusul keputusan Bupati Aceh Selatan yang tetap berangkat menunaikan ibadah umrah di tengah situasi bencana dan krisis kemanusiaan yang melanda Aceh serta sejumlah wilayah lain di Sumatera. Saat itu, berbagai daerah menghadapi dampak serius, mulai dari korban jiwa, kerusakan harta benda, terganggunya jaringan listrik dan komunikasi, hingga kesulitan air bersih dan bahan bakar.

Menurut Dr Taufik, meskipun Aceh Selatan tidak menjadi daerah dengan dampak terparah, secara moral seorang kepala daerah tetap memiliki tanggung jawab kemanusiaan yang lebih luas. Keputusan melaksanakan umrah, yang hukumnya tidak wajib secara agama, dinilai mencederai rasa keadilan dan empati masyarakat Aceh yang sedang menghadapi musibah.

“Dalam kondisi rakyat menderita, krisis ekonomi, listrik padam, komunikasi lumpuh, dan kebutuhan dasar sulit diakses, keputusan itu sangat melukai hati masyarakat. Secara etika politik dan kemanusiaan, ini sangat bermasalah,” katanya.

Ia menilai persoalan menjadi semakin serius ketika setelah kembali dari umrah, bupati nonaktif tersebut justru kembali melakukan aktivitas yang diduga mengarah pada pengendalian pemerintahan. Bagi Taufik, tindakan ini menunjukkan sikap tidak menghormati keputusan negara dan berpotensi melecehkan Surat Keputusan Kemendagri.

“Ini tidak logis dan tidak beretika. Terlihat ada nafsu politik yang terlalu besar, seolah tidak sabar menunggu masa sanksi berakhir. Padahal, itu bentuk sanksi yang harus dihormati,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Taufik menilai Kemendagri memiliki ruang dan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi yang lebih berat. Opsi perpanjangan masa penonaktifan atau sanksi administratif tambahan dinilai layak dipertimbangkan jika terbukti ada pelanggaran selama masa sanksi berjalan.

Selain itu, ia juga mengajak masyarakat Aceh Selatan untuk bersikap rasional dan kritis dalam menyikapi dinamika politik daerah. Menurutnya, jabatan dan kekuasaan politik tidak boleh ditempatkan di atas hukum, etika, dan nilai kemanusiaan.

“Kekuasaan politik bukan segala-galanya. Kedaulatan rakyat, etika politik, aturan hukum, dan nilai kemanusiaan harus dihormati. Jika tidak, maka yang terjadi adalah krisis moral dalam kepemimpinan,” tegasnya.

Taufik juga menekankan pentingnya penyelesaian persoalan pemerintahan secara bijaksana dan beradab. Menurutnya, perilaku yang mengangkangi aturan dan etika bukan hanya tidak mencerminkan kepemimpinan yang matang, tetapi juga mencederai kepercayaan publik.

“Pemimpin seharusnya memberi teladan, bukan mempertontonkan ambisi kekuasaan. Melanggar etika dan aturan sama sekali tidak membanggakan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

156 Ribu Anak Aceh Terancam Stunting, APBA 2026 Nihil Anggaran, Sekda Aceh Dinilai Gagal Terjemahkan Visi Gubernur
Anggaran Seremonial Rp72,7 Miliar Disorot Kemendagri, TAPA Aceh Dituding Menyimpang dari RPJMA dan Mengkhianati Rakyat
Ketua Umum DEMA Ushuluddin dan Filsafat Kecam Pengadaan Mobil Dinas BRA Sebesar 20 Miliyar
Fatan Sabilulhaq: Ketua IMPS Ajak Warga Bersikap Bijak dan Harmonis dalam Dinamika Pemerintahan Aceh Selatan
Dana Bencana Rp132 Miliar Dipertanyakan, Alamp Aksi Desak Sekda Bertanggung Jawab dan KPK Turun Tangan
Menjelang Pemilihan Rektor USK, Tujuh BEM Fakultas Ungkap Retaknya Representasi Mahasiswa
Tata Kelola Birokrasi Amburadul dan Penanganan Bencana Lamban, Pergantian Sekda Aceh Tak Bisa Ditunda
Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh Gelar Upacara Hari Pabean Internasional 2026

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:37 WIB

Tradisi “Koro Jamu” di Gayo: Lelaki Diangkap yang Terbatas Jadi Pemimpin Adat

Selasa, 27 Januari 2026 - 22:34 WIB

Kapolres Gayo Lues Pimpin Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Satya Lencana Pengabdian

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tokoh Masyarakat Gayo Lues Dukung Penuh Polri di Bawah Komando Langsung Presiden

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:44 WIB

Pengukuhan Jabatan Wadanyon Para Pasi Serta Danki dan Jajaran Batalyon D Pelopor Brimob Aceh

Selasa, 27 Januari 2026 - 09:02 WIB

Warga Pasir Putih Masih Terisolasi Pascabencana, Kepala Desa Minta Perhatian Pemerintah Pusat

Minggu, 25 Januari 2026 - 02:32 WIB

Bupati Gayo Lues Lepas Keberangkatan Umroh Juara MTQ, Harap Prestasi Jadi Inspirasi

Minggu, 25 Januari 2026 - 02:29 WIB

Dharma Wanita Persatuan Gayo Lues Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Bencana

Minggu, 25 Januari 2026 - 02:26 WIB

Status Bencana Gayo Lues Turun ke Transisi Pemulihan, Pemerintah Daerah Fokus pada Huntara dan Perbaikan Infrastruktur

Berita Terbaru

Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara  jln  A Yani Kutacane.

ACEH TENGGARA

Oknum Kadinkes Agara Bungkam Kepada Media Terkesan Tertutup.

Selasa, 3 Feb 2026 - 04:26 WIB