Oleh: Rasyidin, S.Sn., M.Sn.
Peneliti, Dosen Seni Pertunjukan Program Studi Seni Teater ISBI Aceh
Wakil Ketua III Dewan Kesenian Aceh
Bencana alam banjir telah meluluhlantakkan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari barang-barang pakai, sandang, pangan, hingga papan. Barang-barang tersebut bukan sekadar benda material, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan setempat, baik dalam lingkup domestik maupun dalam konteks kebudayaan yang lebih luas.
Jika ditelusuri dari ranah domestik, berbagai benda yang dimiliki masyarakat sejatinya berhubungan langsung dengan kebudayaan leluhur. Banyak di antaranya merupakan benda turun-temurun yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu, dalam situasi bencana, ketika benda-benda tersebut tersapu banjir dan hilang, yang lenyap bukan hanya harta benda, tetapi juga jejak peradaban sebuah kebudayaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kondisi luar biasa (abnormal) akibat bencana, diperlukan upaya pembendungan atau langkah mitigasi untuk menjaga agar kebudayaan tetap diingat dan dipulihkan. Upaya ini juga penting sebagai pengingat bagi para pendatang, termasuk donatur dan relawan, agar proses pembangunan kembali tidak mengabaikan nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Hal ini menjadi penting karena benda-benda tersebut merupakan bagian dari peradaban suatu kebudayaan.
Dalam konteks tanggap bencana di Tanoh Gayo, penulis yang terlibat langsung sebagai relawan sekaligus observer aktif menyaksikan secara nyata kerusakan berbagai aset kebudayaan. Dari hasil pengamatan tersebut, terdapat dua bentuk kebudayaan yang terdampak, yaitu kebudayaan fisik yang tampak dan kebudayaan nonfisik yang tidak tampak. Kebudayaan fisik yang tampak, antara lain, adalah bangunan dan kuliner tradisional.
Selama berada di Tanoh Gayo, penulis mengamati secara langsung bahwa terdapat kebudayaan arsitektur yang khas, seperti bangunan menasah atau musala di setiap wilayah kampung yang dipimpin oleh seorang reje. Bangunan menasah di Gayo umumnya memiliki bentuk atap bersegi menyerupai piramida. Selain itu, rumah adat Gayo Umah Pitu Ruang juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat.

Dalam menyikapi kebencanaan atau mitigasi bencana, fokus penulis adalah pada upaya penyelamatan potensi kebudayaan lokal. Pemulihan pascabencana idealnya dipandu oleh para ahli agar para donatur dapat membantu merekonstruksi fasilitas yang hilang dengan tetap menjaga dan mengadopsi konsep budaya setempat.
Dalam kapasitas sebagai observer aktif, penulis turut memandu para donatur dalam pembangunan sarana peribadatan dengan pendekatan local genius. Hasilnya, bangunan Masjid Siaga sumbangan dari Masjid Nusantara dapat terbangun dengan baik tanpa meninggalkan kearifan lokal. Di Desa Uning Mas, penulis mengarahkan konsep dan rancang bangun menasah darurat dengan mengadaptasi konsep rumah adat Umah Pitu Ruang. Keinginan awal untuk membangun masjid sementara dengan kubah piramida belum dapat terwujud karena keterbatasan waktu, sehingga model Umah Pitu Ruang dipilih sebagai prototipe terdekat pembangunan Masjid Siaga di Desa Uning Mas, Kabupaten Bener Meriah.
Selain arsitektur, aspek kebudayaan lain yang diamati penulis adalah kuliner khas Gayo. Momentum kebencanaan ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan, di mana masyarakat Aceh memiliki tradisi meugang atau munggeh, yakni kebiasaan menyantap hidangan berbahan dasar daging sebagai tradisi turun-temurun.
Dalam situasi bencana ini, penulis berkesempatan mencicipi beberapa makanan khas Gayo, seperti gutet (talas kukus yang diikat dengan daun). Dari pengalaman tersebut, penulis menarik kesimpulan bahwa pemulihan pascabencana harus pula memberi perhatian serius pada keberlanjutan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas budaya.

Di beberapa wilayah terdampak bencana, penulis mengamati bahwa para donatur telah melaksanakan program masak besar dengan bahan baku daging sapi atau kerbau. Program ini dapat menjadi sarana pemulihan sosial dan budaya apabila para relawan lokal turut memandu agar menu yang disajikan tidak meninggalkan tradisi kuliner setempat.
Beberapa makanan khas Gayo yang berbahan dasar daging antara lain Cecah Reraya atau Cecah Kekulit, Ayam Sengeral, Cecah Menet, dan Masam Jing. Kuliner Gayo dikenal dengan penggunaan kelapa gongseng dan teknik memasak tradisional yang menghasilkan cita rasa khas dan menjadi bagian penting dari tradisi adat masyarakat.
Harapan penulis, dalam situasi kebencanaan ini, pengawasan terhadap seluruh aset kebudayaan daerah perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak yang terlibat dalam pemulihan pascabencana. Jika tidak disikapi secara bijak, bukan tidak mungkin pengalaman buruk kehilangan aset kebudayaan akan terulang kembali, sebagaimana yang pernah terjadi pascatsunami Aceh tahun 2004.





































