Poto Kendaraan ngantri pada 4 Februari 2026
GAYO LUES — Antrean kendaraan kembali memanjang di SPBU Raklunung, Kabupaten Gayo Lues, Rabu (4/2/2026). Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena terjadi berulang dan menyulitkan masyarakat yang membutuhkan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari.
Yasir (47), salah seorang pengantre, menilai situasi di lapangan tidak semata dipicu tingginya kebutuhan, tetapi juga adanya dugaan praktik pengisian tidak wajar oleh kendaraan tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada mobil yang diduga mengambil minyak dalam jumlah besar. Setelah itu, muncul di pengecer, lalu kendaraan yang sama kembali antre lagi,” kata Yasir.
Ia mengaku, lamanya waktu menunggu membuat sebagian warga memilih jalan pintas dengan membeli BBM eceran meski harganya jauh lebih mahal. Menurutnya, harga di tingkat pengecer kini mencapai Rp 15.000 per liter.
“Kalau antre bisa habis seharian. Terpaksa beli di pengecer untuk kebutuhan mobil,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Kurnadi (29), pengendara sepeda motor. Ia mempertanyakan menjamurnya penjual BBM eceran dengan harga tinggi, terutama setelah bencana banjir melanda wilayah tersebut.
“Kalau tidak ada yang mengalirkan, kenapa pengecer bisa banyak sekali. Sekarang malah tumbuh pengecer baru, dan harganya sama-sama mahal,” kata Kurnadi.
Warga menilai kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Mereka menyayangkan belum terlihat langkah pengawasan yang tegas, meski keluhan masyarakat semakin sering terdengar.
Kemudian di tempat terpisah, Karim Kemala Darma, anggota DPRK Gayo Lues, menegaskan bahwa persoalan antrean BBM tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Ia meminta dinas terkait bersama aparat penegak hukum segera melakukan pengawasan ketat di SPBU, termasuk menertibkan dugaan kendaraan yang membeli BBM secara berulang untuk diperjualbelikan kembali.
“Kalau benar ada praktik pengisian tidak wajar dan BBM dialirkan ke pengecer, ini harus ditindak. Jangan sampai masyarakat kecil yang justru menjadi korban, sementara ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan,” ujar Karim.
Menurutnya, maraknya pengecer dengan harga tinggi pasca bencana banjir juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia menilai situasi tersebut menunjukkan adanya celah dalam distribusi yang harus segera dibenahi.
“Masyarakat sudah cukup terbebani setelah musibah banjir. Jangan ditambah lagi dengan persoalan BBM yang membuat biaya hidup semakin mahal,” katanya.
Masyarakat berharap instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan distribusi BBM berjalan sesuai ketentuan dan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pengelola SPBU Raklunung maupun dinas berwenang terkait dugaan praktik pengisian dan penjualan BBM di luar jalur resmi tersebut. (J.porang)





































