Kurang dari 24 jam Pelantikan Presiden RI terpilih, Ini Harapan Besar Ketum DPP Bapera

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 19 Oktober 2024 - 19:42 WIB

50408 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Sekali lagi maju atau tidaknya sebuah bangsa bukan dilihat dari sistem demokrasi, bentuk pemerintahan yang monarki atau apapun. kebebasan berfikir untuk kemaslahatan manusia dibebaskan sebebas bebasnya adalah kunci utama kemajuan bangsa, semua ada di mindset. Jadi,bentuk dan sistem negara pilihlah yang mewakili sejarah bangsanya. ucap Fahd El Fouz A Rafiq, ucapnya di Jakarta pada Sabtu, (19/10)

Ketua Umum DPP BAPERA mengatakan, “kesejahteraan hanya di dapat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi jadi lebih pada suasananya, ekosistemnya, sintesa antitesanya berargumen itu harus dibangun,tuturnya.

Mantan Ketum PP – AMPG melanjutkan,” Seperti kita ketahui bersama hukum Indonesia sering tumpang tindih terutama masalah ekonomi dan perizinan. Orang yang awam perizinan dengan birokrasi yang rumit membuat masyarakat biasa yang tidak paham aturan main. Ujung ujungnya diselesaikan di bawah kolong meja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Disamping itu, Indonesia Saat ini terlalu banyak aturan titipan oligarki dunia maupun oligarki lokal lalu bermimpi menjadi negara dengan kekuatan no 5 terbesar di tahun 2030 atau 6 tahun lagi dari sekarang ya mimpilah itu namanya, cita cita boleh, akan tetapi realistis, masih banyak kerusakan mesin di tubuh Indonesia dan harus segera di perbaiki, kita butuh mekanik handal untuk memperbaiki Indonesia kedepan, Teknologi mesin Indonesia saat ini masih ketinggalan zaman butuh banyak upgrade, cetusnya.

Mantan Ketum DPP KNPI ini mengisahkan, “Kita lihat bangsa jerman setelah porak poranda kalah di perang dunia pertama hanya butuh waktu 15 tahun, dan pada perang dunia ke 2 Jerman kembali bangkit dan menjadi aktor utama saat itu. Setelah kalah pada perang dunia ke 2 Jerman bangkit lagi dan sekarang menjadi negara besar yang hingga hari ini Powernya masih disegani di percaturan politik global.

Lanjutnya Fahd menambahkan, “Ketika politik jadi panglima terdepan maka negara akan penuh dengan lobi lobi politik dan manuver kekuasaan. Ketika politik jadi pemimpin maka anggaran 2500 triliun selalu jadi rebutan, ketika politik menjadi kekuatan membuat negara bergerak terbatas dan mendapat tekanan. Ketika politik selalu di depan maka banyak orang ingin menjadi oligarki untuk mempengaruhi jabatan, mengapa ini terjadi? karena keadaan dan seolah dibiarkan.

Jadi, hari ini Indonesia jalannya tidak bisa ngebut analoginya kita masih pake gigi 2 negara lain udah pake gigi 6, kenapa masih pake gigi 2? pas mau ke gigi 3 dan selanjutnya macet persnelingnya.

Dalam kasus ini kita dibolehkan iri melihat negara negara lain terus mengalami perkembangan pesat, kita harus compare terus Indonesia dengan negara maju, agar kita yang berada dalam payung Indonesia punya satu tujuan menjadikan Indonesia menjadi negara maju dan kembali menjadi kekuatan terbesar di Selatan Khatulistiwa.

Jika melihat fakta sejarah, reneisance adalah zaman pencerahan saat itu kekangan gereja dan tekanan aristokrasi kerajaan dilepas oleh kaum pemikir bebas (free thinker) Seperti galileo galilei, newton, dan davinci. Islam juga mengalami masa kejayaan ketika sampai Persia, ketika Al jabbar, ibnu batuta, ibnu arobi maju dengan pemikiran matematika, kesehatan dan pendidikan. Amerika membebaskan pemikiran sehingga puncaknya adalah dengan melakukan operation paper clipsnya yang mengambil 1100 ilmuwan Jerman sebelum perang dunia ke 2 berakhir.

Untuk menggapai Indonesia Raya Republik ini perlu banyak perbaikan. Lagu Indonesia Raya itu siratan Cita cita Founding Fathers kita. Dan kita sebagai generasi penerus ditugaskan menggapai hal tersebut.

Maka dari itu para ilmuwan Indonesia dari berbagai bidang di harapkan terus konsisten memberikan masukan terbaik untuk bangsa dan negeri ini dengan narasi narasi yang dapat memicu adrenalin para generasi muda untuk dapat bergerak melakukan hal yang terbaik.

Beberapa jam lagi kita akan menyaksikan Pelantikan Presiden baru Indonesia NKRI yaitu Bapak Prabowo Subianto dan Mas Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. DI pundak beliaulah Perahu Indonesia ini akan dibawa, kita sebagai Pemuda di harapkan mendukung penuh pemerintahan Bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai nahkoda baru Nusantara untuk menggapai Indonesia Raya seperti yang dicita citakan para Founding Fathers kita, tutup Dosen di negeri Jiran (Malaysia) ini.

ASW

Berita Terkait

Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI Harus Sadar Horor Dolar Menerkam Keamanan Indonesia
DOSA EKOLOGIS DI ATAS TANAH JARAHAN,Status Tersangka Para Kades Bongkar Borok Operasional dan Kejahatan Kehutanan PT AGM di Hulu Sungai Selatan
Skandal Tambang di Atas Lahan Cacat Hukum: Penetapan Tersangka Para Kepala Desa Runtuhkan Legitimasi Operasional PT AGM
Bedah Dokumen: Operasional PT Antang Gunung Meratus di Lahan SHM Rakyat Diduga Tabrak UU Minerba dan KUHP
Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik
Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan
Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 04:42 WIB

Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI Harus Sadar Horor Dolar Menerkam Keamanan Indonesia

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:00 WIB

DOSA EKOLOGIS DI ATAS TANAH JARAHAN,Status Tersangka Para Kades Bongkar Borok Operasional dan Kejahatan Kehutanan PT AGM di Hulu Sungai Selatan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:21 WIB

Skandal Tambang di Atas Lahan Cacat Hukum: Penetapan Tersangka Para Kepala Desa Runtuhkan Legitimasi Operasional PT AGM

Rabu, 3 Juni 2026 - 23:03 WIB

Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:55 WIB

Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Pergantian Mendadak Pimpinan BGN Memantik Sorotan Publik

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:28 WIB

Sidang Pembelaan Nadiem Makarim: Antara Klaim Tak Bersalah dan Deret Bukti Lapangan

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:34 WIB

Dapat Tanah dari Orang Tua? Simak Penjelasan Proses Balik Nama Sertipikat Berikut Ini

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:29 WIB

Sambangi Sulbar, Wamen Ossy Imbau GTRA Jadi Kunci Penyelesaian Konflik Pertanahan di Daerah

Berita Terbaru