Banda Aceh – Empat terdakwa kasus korupsi proyek pembangunan jalan di Kabupaten Pidie divonis masing-masing satu tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh, Jumat (3/10/2025).
Vonis dibacakan oleh majelis hakim yang dipimpin M Jamil, dengan anggota R Deddy Harryanto dan Harmi Jaya, dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Banda Aceh.
Keempat terdakwa yakni Buchari, mantan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Pidie, Risnandar selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Muhammad Fadhli sebagai pelaksana proyek dari CV RCU, dan Faisal sebagai konsultan pengawas dari CV BC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain hukuman penjara, masing-masing terdakwa juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp50 juta, subsidair tiga bulan kurungan. Majelis juga menetapkan uang Rp677 juta yang disita dalam perkara dirampas untuk negara sebagai pengganti kerugian negara.
Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa, yang sebelumnya meminta agar keempat terdakwa divonis satu tahun enam bulan penjara.
“Para terdakwa terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU Tipikor dan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” kata hakim M Jamil saat membacakan vonis.
Atas vonis tersebut, jaksa dan seluruh terdakwa menyatakan pikir-pikir. Majelis memberikan waktu tujuh hari untuk menyatakan sikap.
Kasus ini bermula dari proyek pemeliharaan rutin Jalan Leun Tanjong–Seukeumbrok, Kecamatan Padang Tiji, yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun Anggaran 2022, dengan total anggaran lebih dari Rp6 miliar.
Proyek itu mengalami kerusakan setelah masa pemeliharaan karena material yang digunakan tak sesuai kontrak. Jalan aspal mengalami retak dan penurunan badan jalan.
Konsultan perencana proyek adalah CV ZEC, pelaksana CV RCU, dan pengawasan oleh CV BC. Penyelidikan mengungkap bahwa pekerjaan tidak diawasi secara benar, dan pembayaran proyek dicairkan 100 persen tanpa verifikasi material sesuai spesifikasi teknis.
Berdasarkan hasil audit Inspektorat Aceh dan pemeriksaan ahli dari Politeknik Negeri Lhokseumawe, ditemukan kerugian negara sebesar Rp677 juta. (*)





































