BANDA ACEH | Ribuan warga dari berbagai kabupaten di Provinsi Aceh memadati halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh. Kehadiran massa yang membanjiri area masjid ini menjadi bagian dari rangkaian doa bersama yang digelar sebagai bentuk syukur dan refleksi atas perjalanan perdamaian di Aceh yang telah berjalan lebih dari dua dekade.
Selain kegiatan doa bersama, sejumlah warga memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap pemerintah daerah. Lambaian bendera putih menghiasi kerumunan sebagai simbol protes warga terhadap kinerja Pemerintah Aceh, yang dinilai belum optimal dalam merealisasikan pemulihan wilayah pascabencana alam dan berbagai janji kesejahteraan pascakonflik. Di tengah suasana haru dan harapan tersebut, terlihat pula beberapa bendera bintang bulan yang menambah warna dinamika aksi, menandakan masih adanya kerinduan sebagian masyarakat terhadap simbol-simbol masa lalu.
Koordinator kegiatan, Muslim, dalam orasinya menegaskan bahwa kegiatan ini tak hanya diikuti masyarakat luas, tetapi juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan ulama terkemuka Aceh. Ia menyebut kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi bukti kuatnya kepedulian bersama terhadap kondisi Aceh saat ini, sekaligus momentum refleksi perjalanan damai di bumi Serambi Mekah. Muslim menegaskan, partisipasi aktif warga dalam aksi damai ini harus menjadi pengingat bagi pemerintah agar senantiasa mendengarkan denyut aspirasi serta menghadirkan solusi nyata bagi perbaikan kehidupan masyarakat Aceh ke depan.
Hingga akhir kegiatan, suasana tetap berlangsung kondusif dengan penjagaan dari aparat keamanan. Rangkaian doa bersama dan ekspresi aspirasi berlangsung tertib, menjadi penanda harapan baru untuk masa depan Aceh yang terus meniti jalan damai dan berkeadilan. (*)








































