slot preparation.lsrs.lu

Gajah Jinak Dikerahkan Bersihkan Sisa Banjir, Warga Pidie Jaya Sambut Haru

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 13 Desember 2025 - 22:44 WIB

50501 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pidie Jaya — Empat gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, dikerahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk membantu proses pembersihan sisa-sisa banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Aceh. Operasi kemanusiaan ini dilakukan khususnya di wilayah Kabupaten Pidie Jaya, yang terdampak cukup parah akibat bencana banjir dan tumpukan kayu gelondongan.

Midok, Abu, Ajis, dan Noni — empat gajah yang telah berpengalaman — diterjunkan untuk menarik kayu-kayu besar yang menyumbat jalur permukiman dan menutup akses jalan. Tidak sedikit lokasi terdampak yang sulit dijangkau alat berat akibat medan yang sempit dan berlumpur. Gajah-gajah ini menjadi solusi alami, efektif, sekaligus ramah lingkungan dalam pemulihan pascabencana.

“Mereka gajah terlatih dari PLG Saree dan dipandu mahout yang memahami karakter serta teknik kerja di medan banjir,” ujar Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, di lokasi kegiatan, Minggu (7/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah titik yang menjadi fokus pembersihan di antaranya Gampong Meunasah Bie di Kecamatan Meurah Dua serta beberapa wilayah terdampak di Kecamatan Meureudu. Gajah-gajah tersebut telah dijadwalkan bertugas selama tujuh hari, sejak awal Desember hingga 14 Desember 2025.

Bagi warga setempat, kehadiran gajah bukan hanya membantu secara teknis, tetapi membawa nuansa berbeda. Banyak anak-anak yang sempat trauma akibat bencana, kini mulai tersenyum kembali setelah bermain di sekitar gajah yang bertugas.

Kapolres Pidie Jaya, AKBP Ahmad Faisal Pasaribu pun menyambut positif langkah tersebut. Menurutnya, ini bukan sekadar kegiatan teknis, tapi juga bentuk pendekatan humanis yang berdampak psikologis.

“Kehadiran mereka memberi keceriaan dan mengurangi ketegangan, terutama bagi anak-anak. Kami berharap pemulihan psikologis warga berjalan seiring dengan pemulihan fisik wilayah,” kata Kapolres, Senin (8/12/2025).

Langkah ini merupakan hasil kolaborasi antara Polres Pidie Jaya dan BKSDA Aceh, sebagai bentuk sinergi antarinstansi dalam mempercepat proses pemulihan bencana. Penugasan gajah sempat dilakukan sebelumnya dalam beberapa peristiwa besar, termasuk dalam misi pascagempa dan tsunami Aceh tahun 2004.

Ujang meyakinkan, dalam operasional ini kesejahteraan satwa tetap menjadi perhatian utama. Gajah tidak dipaksa bekerja di luar kemampuan dan selalu diberi waktu istirahat, serta perawatan kesehatan rutin.

“Jangan berpikir ini penyiksaan terhadap satwa. Kami sangat menjaga kesejahteraan gajah. Mereka sudah terlatih, diberi makan cukup, dan dirawat secara medis,” tegas Ujang.

Lebih dari sekadar alat angkut, kehadiran gajah juga menjadi media edukasi kepada masyarakat. Pidie Jaya selama ini menjadi salah satu daerah rawan konflik antara manusia dan gajah di Aceh. Melalui intervensi seperti ini, BKSDA ingin memperkenalkan kembali cara hidup berdampingan secara harmonis dengan satwa liar, khususnya gajah sumatera.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin masyarakat kembali akrab dengan gajah. Dulu, masyarakat Aceh memuliakan gajah sebagai bagian dari tradisi dan kekuatan sosialnya,” tuturnya.

Itu pula yang diyakini oleh Hamdani, warga Desa Meunasah Bie. Ia menyampaikan rasa terima kasih tulus atas bantuan yang menurutnya sangat nyata dan tidak tergantikan oleh mesin.

“Lokasi tumpukan kayu itu tidak bisa dijangkau alat berat. Tapi gajah bisa masuk dan mengangkat kayu besar itu. Anak-anak saya pun terhibur, mereka bisa melihat gajah dari dekat setelah semua kejadian buruk ini,” ungkap Hamdani haru.

Dalam narasi kultural, gajah memang memiliki tempat khusus bagi masyarakat Aceh. Dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam, gajah diperlakukan bukan hanya sebagai alat kerja, tapi juga bagian dari kekuatan negara, simbol kemakmuran, dan kehormatan.

Iskandar Norman, penulis sejarah sosial Aceh, mengungkapkan dalam berbagai sumber klasik, terdapat catatan tentang peran penting gajah di lingkup militer, pemerintahan, hingga ekonomi masyarakat pada masa kejayaan kerajaan Aceh.

“Gajah digunakan untuk membuka jalan, menarik kayu, hingga membantu pertempuran di garis depan pada masa lalu. Tapi berbeda dengan cara paksa seperti di tempat lain, Kesultanan Aceh menempatkan gajah sebagai mitra setara,” kata Iskandar pada Rabu (10/12/2025).

Ia menambahkan, masyarakat Aceh kuno bahkan memiliki tradisi untuk tidak menyalahkan satwa jika merusak tanaman. Sebaliknya, mereka melakukan introspeksi diri atas apa yang mungkin menjadi penyebab secara spiritual atau adat.

“Dalam pandangan masyarakat lama, kalau gajah datang, itu pertanda ada yang salah dalam kehidupan kita. Jadi yang diperbaiki adalah manusia, bukan gajahnya,” tuturnya.

Kini, kilas balik sejarah itu kembali hidup meski dalam konteks yang berbeda. Ketika teknologi modern tidak mampu menjangkau daerah-daerah terdampak, kearifan lokal dihidupkan kembali.

Gajah-gajah dari Saree bukan hanya menyelamatkan akses warga, mereka juga menyampaikan pesan bahwa harmoni antara manusia dan alam bukan sekadar ajaran masa lalu, tetapi solusi nyata saat ini. (*)

Berita Terkait

DKM Baitut Tamam Kanwil DJBC Aceh Resmikan dan Serahkan Wakaf Sumur Bor bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Pidie Jaya dan Bireuen
Bea Cukai Banda Aceh Melalui Bea Cukai Peduli Resmikan Bantuan Sumur Bor untuk Dayah/Pesantren di Kabupaten Pidie Jaya
Bea Cukai Banda Aceh Melalui Bea Cukai Peduli Resmikan Bantuan Sumur Bor untuk Dayah/Pesantren di Kabupaten Pidie Jaya
Gerindra Aceh Buka Puasa Bersama Korban Banjir Pidie Jaya, Fadhlullah Serahkan Santunan Anak Yatim
Universitas Serambi Mekkah Terjunkan 50 Mahasiswa Mengikuti Program Mahasiswa Berdampak di Gampong Beurawang, Pidie Jaya Aceh
BNPB Rampungkan Hunian Sementara untuk Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya
Dirjen Sumber Daya Air Tinjau Penanganan Pascabencana di Krueng Meureudu, Pidie Jaya
Pemerintah Salurkan Dana Tunggu Hunian untuk Warga Terdampak Banjir di Pidie Jaya

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 02:37 WIB

dr Tifa Didakwa Fitnah dan Pencemaran Nama Baik Terkait Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Jumat, 6 November 2026 - 02:33 WIB

Jokowi Tegaskan Tak Pernah Rekonstruksi Wajah Sejak 1985 di Sidang Kasus Fitnah Ijazah

Jumat, 6 November 2026 - 02:30 WIB

Polda Aceh Apresiasi Aksi Damai di Depan Kantor DPR Aceh Berjalan Tertib

Jumat, 6 November 2026 - 02:27 WIB

Mahfud MD Desak Polri Pecat Tidak Hormat Listyo Sigit, Sebut Ada Lambang Bangkai di Mabes Jika Tak Dipecat

Jumat, 6 November 2026 - 02:24 WIB

Bareskrim Ungkap Peran Kunci Irjen Slamet Uliandi Beri Restu Penyadapan dan Hapus File Sadapan Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 02:21 WIB

Tiga Tersangka Kasus Penyadapan Presiden Ditahan di Mako Brimob, Satu Tersangka Sakit Pascastroke

Jumat, 6 November 2026 - 02:08 WIB

Debat Panas Warnai Sidang Kasus Ijazah, Tim Hukum Terdakwa Bersitegang dengan Jaksa

Jumat, 6 November 2026 - 02:04 WIB

Skandal Penyadapan Ilegal di Lingkaran Istana: Pengkhianatan Jabatan yang Ancam Stabilitas Negara

Berita Terbaru

GAYO LUES

Sanitasi, Rehab MCK TMMD ke-130 Hampir Rampung

Jumat, 6 Nov 2026 - 11:55 WIB