Kejadian bermula sekitar pukul 19.00 WIB ketika hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu pergerakan tanah di lereng perbukitan. Longsor secara beruntun terjadi di beberapa titik strategis, menutup jalur utama yang menjadi urat nadi penghubung antara Blangkejeren dan Kutacane. Informasi dari masyarakat menyebutkan, belasan kendaraan dari kedua arah terjebak, sementara para sopir dan penumpang memilih bertahan karena khawatir situasi belum aman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga pagi hari, belum terlihat upaya maksimal dari pihak terkait untuk menangani kondisi darurat ini. Warga setempat beserta para pengguna jalan menuntut pemerintah segera mengerahkan alat berat dan personel ke lapangan, mengingat ruas nasional ini merupakan jalur vital bagi distribusi logistik, kebutuhan pokok, dan layanan kesehatan untuk masyarakat di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara.
Keterlambatan penanganan tidak hanya mengganggu arus lalu lintas dan distribusi barang, tetapi juga berpotensi memperburuk kondisi di lapangan, terutama jika terjadi hujan susulan atau kebutuhan darurat di sekitar lokasi longsor. Banyak pihak menilai respons pemerintah dan instansi teknis terkait sangat lambat sehingga rentan menimbulkan kerugian lebih besar baik secara ekonomi maupun sosial.
Masyarakat, termasuk para pengendara yang terdampak, mendesak instansi pemerintah dan pihak berwenang agar segera berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk melakukan penanganan cepat dan tanggap bencana. Mereka menuntut pengerahan alat berat dan upaya pembersihan material longsor dapat dilakukan tanpa menunda waktu agar transportasi masyarakat dan distribusi kebutuhan pokok tidak lumpuh berkepanjangan.
Hingga Rabu siang, material longsoran di Meloak 1 dan Meloak 2 dilaporkan belum bisa diatasi, sementara antrean kendaraan semakin memanjang. Warga berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera melakukan langkah konkret untuk mengatasi situasi darurat ini, demi keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.