slot preparation.lsrs.lu

Aksi 27 Agustus Memuncak Ricuh di Senayan, Nama GRIB Jaya Ikut Terseret, Negara Dituding Respons Represif

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 3 September 2026 - 01:39 WIB

50306 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsentrasi massa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026), saat berlangsung aksi unjuk rasa di depan Gedung Parlemen

Konsentrasi massa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026), saat berlangsung aksi unjuk rasa di depan Gedung Parlemen

JAKARTA | Ribuan massa dari berbagai daerah membanjiri kawasan Gedung DPR RI, Senayan, pada aksi 27 Agustus 2026, menandai puncak kemarahan publik yang meluas dan berbuntut pada kericuhan di sejumlah titik strategis ibu kota. Dari ruas jalan tol yang lumpuh total hingga kobaran api di kawasan Slipi dan Pejompongan, unjuk rasa yang awalnya berjalan damai lepas kendali setelah malam mulai turun dan eskalasi bentrokan meningkat.

Keberadaan kelompok ormas, termasuk nama GRIB Jaya, semakin menghangatkan suhu politik jalanan. Tuduhan bahwa anggota GRIB Jaya menjadi bagian dari massa penyerang, pemukul warga, hingga pengemudi ojek daring, merebak di tengah informasi simpang siur serta beredarnya video viral kerusuhan di media sosial. Namun, di tengah tudingan ini, pihak GRIB Jaya membantah secara tegas adanya instruksi lembaga atau keterlibatan langsung dalam serangkaian aksi kekerasan dan perusakan truk pengangkut massa. Nama GRIB Jaya kian menjadi sorotan setelah kawasan Slipi dipadati aksi balasan warga terhadap sejumlah truk yang disebut-sebut membawa massa ormas.

Dilansir dari kanal YouTube Daftar Populer, laporan lapangan menggambarkan bagaimana Jakarta berubah total dalam semalam. Jalanan utama dan tol dalam kota terpaksa ditutup, sejumlah kendaraan dibakar, dan suara ledakan gas air mata silih berganti membubarkan kumpulan massa. Pasukan Brimob bertindak agresif, menyisir area perbatasan Senayan hingga Palmerah dan Pejompongan. Atmosfer mencekam semakin dalam ketika kelompok-kelompok paramiliter dan ormas dengan atribut mencolok berbaris di titik-titik rawan, membentuk atmosfer intimidatif dan memperkuat persepsi negara yang justru menebar ketakutan di tengah krisis kepercayaan publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik gemuruh aksi, terlihat strategi penghadangan dan pelumpuhan logistik massa. Nasib rekening donasi para koordinator aksi, seperti dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, sempat diblokir sepihak sebelum kemudian dipulihkan lewat tekanan opini publik. Upaya razia dan pembatasan perjalanan bus-bus pengangkut peserta demo dari daerah juga dibarengi aksi kekerasan terorganisasi oleh pihak-pihak tak dikenal, termasuk pelemparan batu di jalur-jalur masuk ke Jakarta.

Lapisan massa aksi sangat beragam. Ada kelompok mahasiswa, masyarakat sipil, hingga relawan pendukung program pemerintah yang justru kecewa akibat program populis yang dinilai tidak tepat sasaran dan rawan penyimpangan, seperti makan bergizi gratis yang ramai diberitakan karena skandal korupsi dan ketidakberesan data penerima. Sementara suara tuntutan perubahan dan pengesahan undang-undang perampasan aset menggema kencang di antara teriakan-teriakan perlawanan inflasi dan politisasi bansos.

Kawasan Slipi, Palmerah, hingga Pejompongan menjadi titik api dari ledakan sosial yang tidak lagi semata lahir dari isu kebijakan, tapi juga dari tumpukan kekecewaan pada adagium hukum yang dianggap hanya tajam ke bawah. Penggunaan istilah peyoratif, pemblokiran akses keuangan, hingga intimidasi fisik mewarnai dinamika demonstrasi, menyisakan ironi keterbelahan antara aparat penegak hukum dan mereka yang menuntut keadilan substantif.

Keadaan menjadi semakin panas ketika tanggapan pemerintah terkesan normatif dan menyepelekan besarnya gelombang kemarahan. Berbagai media internasional bahkan memantau situasi Jakarta bak zona perang, memperingatkan warganya untuk menjauh dari pusat aksi dan area perkantoran. Peringatan tersebut menggarisbawahi bahwa stabilitas politik nasional sedang diuji oleh ketimpangan ekonomi, kegagalan program subsidi, dan buruknya tata kelola data rakyat miskin tanah air.

Aksi 27 Agustus 2026 tak sekadar menjadi catatan unjuk rasa, melainkan menelanjangi bagaimana mesin negara memilih respons lawan ketimbang dialog, lebih memilih barikade dan represi daripada membuka ruang aman bagi kritik warga. Negara hari itu dipaksa bereaksi di tengah kehilangan ekspektasi rakyat akan hadirnya keadilan. Sebuah pesan tajam terpampang di Jakarta dan kota-kota lain: ketika kesabaran warga hilang dan hukum kehilangan makna, jalanan pun berubah menjadi pengadilan terakhir bagi aspirasi yang tak lagi punya tempat di meja parlemen. (*)

Berita Terkait

Polda Metro Jaya Siapkan Pengamanan Khusus Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Skandal Penyadapan Ilegal Guncang Institusi Kepolisian
Hasto Kristiyanto Minta Aparat Usut Tuntas Aktor Intelektual di Balik Kasus Penyadapan Presiden
Habiburokhman Minta Kasus Penyadapan Ilegal Terhadap Presiden Prabowo Diusut Tuntas
YUSRIL Sebut Prabowo Tahu Penangkapan Jenderal Listyo, Tegaskan Kasus Penyadapan Ilegal Bukan Makar
Sikap Kritis PDIP terhadap Pemerintahan Prabowo dan Polemik Pemakzulan Wakil Presiden
Bareskrim Polri Tetapkan Kepala Staf Kepresidenan dan Dua Perwira Tinggi Sebagai Tersangka Penyadapan Ilegal
Dugaan Penyadapan Presiden dengan Spyware Canggih Seret Sejumlah Jenderal, Terungkap karena Operator Melapor

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 14:36 WIB

Pererat Kedekatan dengan Masyarakat, Kapolres Aceh Tenggara Gelar Kegiatan Kumpul Bersama di Desa Engkeran Simpang Empat

Rabu, 4 November 2026 - 12:19 WIB

Kapolsek Bambel Hadiri Penyampaian Visi dan Misi Calon Pengulu Kute

Rabu, 4 November 2026 - 10:17 WIB

LSM KOMPAK Aceh Tenggara Apresiasi Komitmen BPJN Aceh Tangani Ruas Jalan Nasional dan Pembangunan Jembatan Kuning I

Rabu, 4 November 2026 - 03:39 WIB

Mahasiswa Perikanan Dorong Kemandirian Pangan Pesantren Lewat Inovasi Budikdamber

Selasa, 3 November 2026 - 19:35 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Anev Mingguan Bersama Wakapolres, Perkuat Kesiapan Personel Jaga Kamtibmas Jelang Pilkades 2026

Selasa, 3 November 2026 - 18:48 WIB

Cegah Kebakaran Lahan, Polsek Lawe Sigala-gala Imbau Warga Tidak Membakar Sisa Hasil Panen

Selasa, 3 November 2026 - 17:29 WIB

Edukasi Pengguna Jalan, Satlantas Polres Aceh Tenggara Bagikan Stiker Keselamatan dalam Operasi Patuh Seulawah 2026

Selasa, 3 November 2026 - 15:26 WIB

Proyek Infrastruktur Aceh Tenggara di Ujung Tanduk, Pemerintah Didesak Tak Abaikan Administrasi demi Kejar Tayang Fisik

Berita Terbaru

NASIONAL

Skandal Penyadapan Ilegal Guncang Institusi Kepolisian

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:48 WIB