BANDA ACEH | Sebuah video seorang pengemis di Aceh yang menggunakan QRIS untuk menerima sedekah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Rekaman tersebut pertama kali diunggah melalui akun TikTok @hargasesuaimood dan memperlihatkan seorang pengemis yang membawa kertas berisi kode QRIS yang telah dilaminasi rapi saat mendatangi pengunjung warung makan.
Kejadian ini terjadi di sebuah warung makan yang ramai pengunjung. Pengemis tersebut menawarkan kepada pelanggan untuk bersedekah secara nontunai melalui QRIS, alih-alih meminta uang tunai. Dengan pendekatan ini, pengunjung yang tidak membawa uang fisik tetap dapat memberikan donasi melalui aplikasi dompet digital di ponsel mereka.
Fenomena ini menuai beragam reaksi dari pengunjung warung dan warganet. Banyak yang mengaku terkejut dengan cara baru yang digunakan oleh pengemis dalam meminta sedekah. Sebagian berpendapat bahwa langkah ini mencerminkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi pembayaran digital yang kini semakin meresap ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, tidak sedikit pengguna media sosial yang menanggapinya dengan candaan. Mereka menyebut alasan klasik “tidak ada uang receh” sudah tidak berlaku lagi karena sedekah bisa diberikan secara digital. Namun, muncul juga pertanyaan terkait motif di balik penggunaan fasilitas QRIS oleh pengemis dan sejauh mana sistem pembayaran digital dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Fenomena penggunaan QRIS oleh pengemis di Aceh ini turut menyoroti tren pembayaran nontunai yang terus berkembang di Indonesia. Di tengah perdebatan yang terjadi, momen tersebut memperlihatkan bahwa inovasi dalam transaksi digital kini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan, tetapi juga mulai merambah ke ranah sosial yang sebelumnya identik dengan transaksi tunai. (*)








































