JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi cuaca ekstrem di tengah periode musim kemarau yang masih mendominasi wilayah Indonesia. Hingga pertengahan September 2026, sebanyak 81,1 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 567 zona musim, terpantau masih berada dalam periode kemarau yang ditandai dengan suhu udara tinggi dan tingkat kekeringan atmosfer yang signifikan.
Berdasarkan pantauan selama sepuluh hari terakhir, akumulasi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di sejumlah provinsi. Kalimantan Tengah mencatat jumlah akumulasi titik panas tertinggi mencapai 2.526 titik, diikuti oleh Kalimantan Barat sebanyak 2.102 titik, Sumatera Selatan 1.180 titik, serta Papua Selatan dengan 570 titik. Kondisi cuaca panas dan kering ini memicu lonjakan suhu maksimum harian yang bahkan sempat menyentuh angka 38,6 derajat Celcius di Sintang, Kalimantan Barat, pada awal September 2026. Akibat dari kondisi ini, kualitas udara di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera dan Kalimantan, terpantau menurun akibat sebaran asap yang bertahan.
Menanggapi situasi tersebut, BMKG menekankan adanya potensi tingkat intensitas kebakaran hutan atau lahan (fire weather index) yang berada dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi untuk periode 11 hingga 17 September 2026. Potensi kerawanan ini tersebar terutama di wilayah Sumatera bagian timur hingga selatan, sebagian besar Pulau Jawa, wilayah tengah dan selatan Kalimantan, sebagian besar Pulau Sulawesi, Maluku, hingga bagian selatan Papua.
Meski kemarau mendominasi, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan potensi hujan lebat. Dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby Ecuatorial, gelombang Kelvin, serta pertemuan angin di sejumlah wilayah tetap berpeluang menciptakan kondisi labil yang memicu hujan sedang hingga sangat lebat. Potensi hujan ini diprakirakan masih akan turun di sebagian wilayah Sumatera, Banten, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Papua dalam sepekan ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap cuaca ekstrem serta angin kencang yang berpotensi terjadi di berbagai daerah.
BMKG menegaskan pentingnya langkah antisipasi dari masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan, seperti menjaga kesehatan di tengah suhu ekstrem, melakukan penghematan penggunaan air, serta yang paling utama adalah menghindari aktivitas pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memicu kebakaran lebih luas. Informasi pembaruan cuaca secara berkala dapat diakses melalui aplikasi resmi serta laman daring BMKG untuk memantau perkembangan situasi terkini demi keselamatan bersama. (*)









































