HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Eksploitasi Tambang Aceh Semakin Brutal, Ancaman Kerusakan Lingkungan Makin Tak Terbendung

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 10 September 2026 - 01:24 WIB

50279 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDA ACEH — Praktik penambangan emas, batubara, nikel, bijih besi, dan komoditas tambang lainnya di Aceh kian mengkhawatirkan. Penggunaan alat berat secara masif di kawasan hutan tidak hanya menimbulkan kehancuran lingkungan, tetapi telah menciptakan skema eksploitasi yang mempercepat hancurnya ekosistem Aceh.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh, Dr. Taufik A. Rahim, menyatakan bahwa maraknya pertambangan di berbagai wilayah Aceh tidak bisa lagi dibaca sekadar sebagai dinamika ekonomi masyarakat. Masyarakat, menurut Taufik, sering dijadikan tameng oleh pemilik modal untuk melegitimasi kegiatan tambang, seolah-olah keberadaan mereka sebagai pekerja bisa membenarkan eksploitasi hutan dan tanah.

Taufik menegaskan bahwa aktor utama dalam praktik ini bukanlah masyarakat kecil. Alat berat yang digunakan, yang biaya sewanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per hari, menunjukkan besarnya modal dan kepentingan yang bermain di balik aktivitas tambang. Ia mengingatkan, legitimasi sosial yang dibangun dengan melibatkan masyarakat hanya dimanfaatkan oleh para pemodal untuk memuluskan bisnis tambang di kawasan-kawasan rawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di lapangan, perubahan pola kerja masyarakat dari petani menuju pekerja tambang semakin nyata. Banyak warga desa yang tergiur iming-iming pendapatan besar, hingga mencapai Rp10-15 juta per minggu. Namun, di balik realitas itu, mereka justru tetap menjadi pihak yang paling rentan dan hanya menerima bagian kecil dari hasil eksploitasi.

Dampak dari aktivitas pertambangan ikut memperparah hilangnya tutupan hutan Aceh. Data yang dipaparkan Taufik menunjukkan sepanjang tahun 2025 terjadi kehilangan tutupan hutan sebesar 39.687 hektare, melonjak hingga 274 persen dibanding tahun sebelumnya. Sekitar 80 persen kehilangan tersebut terjadi di hutan negara, termasuk kawasan lindung dan taman nasional. Wilayah-wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Timur, Gayo Lues, dan ekosistem Leuser menjadi titik rawan, dengan kehilangan ribuan hektare tutupan hutan dalam hitungan bulan.

Kondisi ini diperparah oleh terus meningkatnya perambahan, pembukaan lahan, pembalakan liar, hingga aktivitas pertambangan ilegal yang berlangsung nyaris tanpa kendali. Bahkan, sejumlah kawasan konservasi seperti Suaka Margasatwa Rawa Singkil kembali mencatat kenaikan tingkat kerusakan hutan.

Menurut Taufik, bencana banjir bandang, longsor, hingga gangguan tata air yang melanda Aceh tidak bisa terus-menerus “dimaklumi” sebagai musibah alam. Ada proses panjang yang dipicu oleh ulah manusia dan korporasi. Ia menyoroti bahwa pola serangan terhadap alam Aceh terjadi secara terstruktur dan melibatkan aktor-aktor bermodal besar.

Taufik menegaskan, praktik pertambangan di Aceh tidak bisa dilepaskan dari jaringan kepentingan yang melibatkan pemilik modal, penyedia alat berat, distributor, pekerja hingga kemungkinan keterlibatan pihak-pihak yang memiliki akses pada kekuasaan. Ia meminta upaya hukum tidak berhenti pada penertiban pekerja lapangan. Aparat harus berani menelusuri pihak-pihak yang menyediakan modal, alat berat, serta jaringan yang memberi kemudahan terhadap operasi tambang bermasalah.

Jika penegakan hukum hanya menyasar pekerja tambang, sementara pemilik modal tetap kebal dan izin-izin tambang bermasalah dibiarkan, maka kematian hutan Aceh hanya akan menjadi persoalan waktu. Menurutnya, negara harus memastikan setiap izin pertambangan benar-benar sesuai peruntukan. Segala bentuk penyalahgunaan izin hingga dugaan permainan penerbitan izin semestinya diusut sampai ke akar.

Realitas hari ini, kata Taufik, bukan sekadar soal siapa mendapat bagian dari emas, batubara atau nikel. Ini menjadi soal masa depan Aceh, kehancuran lingkungan, dan nasib rakyat yang semakin terpinggirkan di atas tanahnya sendiri. Jika eksploitasi terus dibiarkan tanpa pengawasan dan keberanian aparat penegak hukum, maka ancaman kehancuran semakin nyata dan meninggalkan generasi Aceh hanya sebagai penonton di atas kerusakan warisan leluhur.

Berita Terkait

Ketua Fast Respon Counter Polri DPW Aceh : Mari Kawal Program Kapolri Baru, Komitmen Pengawasan Dan Sinergi Tak Boleh Kendur
Kabut Asap Tebal Selimuti Aceh, Warga Diminta Waspada dan Jaga Kesehatan
Asap Karhutla Selimuti 13 Kabupaten Kota di Aceh, Jarak Pandang 2 Kilometer dan Negara Gagal Cegah Bencana Rutin
Gubernur Aceh Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda, Dorong Perkuatan Koordinasi Pemerintahan
Ketua Umum HMI Komisariat se-Kawasan Cabang Banda Aceh: Mendesak MPK PB HMI Menguji Keabsahan Penetapan Pj Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh dan Mengusut Dugaan Politisasi Organisasi Menjelang Kongres
Eks GAM Denmark, Eropa Soroti Lambannya Penyerapan TKD, Minta Pengawasan Diperketat
DTPHP Nagan Raya Raih Penghargaan Peringkat I pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan Tahun 2027 Se Provinsi Aceh
DTPHP Nagan Raya Terima Piagam Penghargaan pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan 2027

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Karhutla Indonesia Seluas 900.000 Hektare Disorot Media Asing, Setara Empat Kali Luas Tokyo

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:49 WIB

Bayang-Bayang Kabut Asap, Singapura Kembali Bidik Tujuh Perusahaan di Balik Karhutla Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Polri Perang Terbuka Lawan Kampung Narkoba, Rekam Jejak Internal Bakal Dievaluasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolri Instruksikan Bareskrim Usut Tuntas Dugaan Tindak Pidana di Sektor Pasar Modal

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:19 WIB

LPG 3 Kg Sulit Didapat Saat Hujan, Warga Gayo Lues Minta Bupati Turun Tangan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:08 WIB

Beredar Telepon Ancaman untuk Bungkam Suara Karhutla, Influencer Kalimantan Diminta Hapus Video Kebakaran

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:18 WIB

Papua Selatan Jadi Episentrum Karhutla, Puluhan Ribu Hektare Terbakar di Tengah PSN

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:11 WIB

Klaim Keberhasilan Padamkan Karhutla 80 Persen Dinilai Omong Kosong di Tengah Kepungan Asap Lintas Negara

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Satresnarkoba Polres Agara Amankan Pria dan 4,16 Gram Sabu

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:24 WIB