JAKARTA | Sikap terbuka terhadap kritik kini kembali menjadi sorotan tajam di tengah kehidupan demokrasi Indonesia. Sabiq, seorang pelajar sekolah dasar yang kerap menjadi perbincangan karena pandangan kritisnya, secara terbuka melayangkan pesan menohok bagi para pemegang kekuasaan. Ia menegaskan bahwa jabatan seorang presiden tidak menjamin seseorang bebas dari kesalahan, sehingga kritik dari masyarakat justru menjadi elemen krusial untuk memperbaiki kebijakan dan integritas pemerintah.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui media sosial pada Senin, 21 September 2026, Sabiq mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejatinya harus mampu menahan diri dari kemarahan dan tidak melontarkan kata-kata kasar saat menghadapi perbedaan pandangan. Menurutnya, alih-alih bersikap reaktif atau memusuhi pengkritik, seorang pemimpin yang kuat seharusnya mampu menjawab kritik tersebut dengan penyajian data dan fakta yang akurat. Baginya, kritik tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk kebencian, melainkan sebagai bagian dari proses pendewasaan demokrasi di mana pemimpin dituntut untuk berani berbicara sekaligus mau mendengar.
Pandangan ini mencuat ke publik tak lama setelah Presiden RI Prabowo Subianto meluapkan kekesalannya terhadap sejumlah pakar yang dinilai memfitnah dirinya. Dalam perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional yang berlangsung di Jakarta pada pertengahan September 2026, Kepala Negara sempat mengeluarkan pernyataan dengan diksi yang dianggap kurang pantas saat menanggapi kritik para akademisi tersebut. Presiden bahkan sempat menyinggung perihal kejujuran intelektual dan menegaskan bahwa fitnah merupakan hal yang kejam, sembari menyatakan niatnya untuk mencatat perilaku pihak-pihak yang berseberangan.
Kontras antara ketenangan seorang anak yang menuntut ruang demokrasi dan respons emosional seorang pemimpin negara ini menjadi potret nyata ketegangan antara pemerintah dan elemen kritis di masyarakat. Hingga saat ini, ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan ketidaksetujuan tetap menjadi ujian besar bagi komitmen demokrasi yang dijunjung tinggi oleh bangsa ini. (*)








































