GAYO LUES – Kerusakan parah akibat jebolnya tanggul sungai kembali melumpuhkan akses warga di kawasan Jalan Badak, Kabupaten Gayo Lues. Banjir yang meluap menutup badan jalan dan merusak infrastruktur di sekitarnya, hingga memaksa dilakukannya perbaikan darurat dengan alat berat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, proses perbaikan tanggul yang jebol tersebut berlangsung pada 29 September 2026. Tampak sebuah ekskavator dikerahkan untuk menimbun kembali sisi tanggul yang tergerus arus sungai. Material tanah dan batu diangkut untuk menutup lubang jebol yang menganga cukup lebar, sementara aliran sungai masih terlihat deras di sisi tanggul.
Apa yang terjadi di Jalan Badak ini bukan sekadar bencana alam biasa. Jebolnya tanggul sungai di titik tersebut telah berulang kali terjadi setiap kali debit air meningkat. Banjir kemudian meluber langsung ke badan jalan, merendam akses utama warga dan memutus mobilitas. Kondisi itu menimbulkan pertanyaan serius tentang kualitas konstruksi tanggul sejak awal.
Siapa yang paling dirugikan sudah jelas. Warga pengguna Jalan Badak, termasuk pelajar, petani, dan pedagang yang setiap hari melintasi jalur tersebut. Ketika tanggul jebol, mereka harus menghadapi jalan yang berubah menjadi sungai dadakan dengan risiko keselamatan yang tinggi.
Di mana letak persoalan utama juga terlihat. Jalan Badak berada di titik yang berdekatan langsung dengan aliran sungai tanpa perlindungan tanggul yang memadai. Tanggul yang ada terkesan dibangun seadanya, tanpa perkuatan beronjong atau beton penahan yang layak untuk menahan tekanan air saat hujan lebat di hulu. Akibatnya, begitu debit naik, tanggul langsung terkikis dan jebol.
Mengapa perbaikan selalu bersifat darurat dan tambal sulam menjadi sorotan kritis. Pola yang terjadi adalah tanggul jebol, lalu ditimbun kembali dengan tanah, kemudian jebol lagi saat banjir berikutnya datang. Tidak ada penanganan permanen yang menyentuh akar masalah, mulai dari normalisasi sungai, pelebaran alur, hingga pembangunan tanggul dengan konstruksi yang sesuai standar teknis. Anggaran penanganan banjir seolah habis untuk perbaikan yang sama setiap tahun.
Bagaimana proses perbaikan kali ini berlangsung juga memperlihatkan lemahnya antisipasi. Alat berat baru dikerahkan setelah tanggul jebol dan banjir merendam jalan. Padahal tanda-tanda keretakan dan gerusan pada tanggul sudah terlihat jauh sebelumnya. Keterlambatan penanganan membuat kerusakan semakin meluas dan biaya perbaikan semakin besar.
Kejadian pada 29 September 2026 ini harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan instansi terkait. Jalan Badak bukan jalur pinggiran, melainkan urat nadi aktivitas warga. Jika tanggul terus dibiarkan dengan konstruksi rapuh dan perbaikan hanya dilakukan saat sudah jebol, maka warga akan terus menjadi korban banjir tahunan yang sebenarnya bisa dicegah dengan perencanaan yang lebih serius. (*)








































