HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Suryadi Djamil Sebut Film Dokumenter ‘Pesta Babi’ Sarat Muatan Politik Berkedok Advokasi

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

50265 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDA ACEH – Tokoh masyarakat Aceh, Suryadi Djamil, menyoroti film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Menurut pria yang akrab disapa Om Sur itu, film tersebut mengangkat isu-isu penting terkait Papua, namun dinilai dibangun dengan narasi yang berpotensi menyederhanakan persoalan yang lebih kompleks.

Suryadi menilai film tersebut mengangkat sejumlah isu seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), konflik agraria, hak masyarakat adat, hingga dugaan militerisasi pembangunan di Papua. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa film dokumenter pada dasarnya merupakan konstruksi narasi yang disusun dari sudut pandang tertentu.

“Publik berhak melihat persoalan Papua secara lebih utuh dan tidak terjebak pada penyederhanaan narasi bahwa negara adalah pelaku dan rakyat adalah korban,” ujar Suryadi dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kondisi di Papua tidak dapat dipandang secara hitam putih karena memiliki dinamika sosial, sejarah, dan persoalan yang kompleks. Ia menilai kehadiran TNI di Papua tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menjalankan fungsi sosial dan kemanusiaan.

Suryadi menyebut, di sejumlah wilayah pedalaman Papua, aparat TNI turut berperan dalam pelayanan kesehatan darurat, pendidikan sementara, distribusi logistik, evakuasi warga sakit, hingga program pembangunan desa. Selain itu, TNI juga disebut terlibat dalam menjaga keamanan masyarakat dari ancaman kelompok bersenjata.

“Relasi masyarakat Papua dengan aparat itu tidak tunggal. Ada kritik dan trauma sejarah, tetapi ada juga kedekatan sosial serta ketergantungan masyarakat terhadap kehadiran negara di wilayah tertentu,” katanya.

Ia juga menyoroti penggunaan pendekatan visual dan emosional dalam film tersebut, seperti penggambaran pembabatan hutan, ekspresi masyarakat adat, simbol-simbol tertentu, serta penggunaan musik latar yang dinilai dapat membentuk persepsi moral penonton.

Menurutnya, pendekatan semacam itu lazim digunakan dalam film advokasi untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Di sisi lain, Suryadi mengingatkan agar berbagai pihak tidak melontarkan tuduhan tanpa dasar yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Menggunakan uang donasi dari luar negeri untuk memecah kepercayaan rakyat Indonesia merupakan sebuah pengkhianatan,” tegasnya.

Meski menyampaikan kritik terhadap narasi film tersebut, Suryadi menegaskan bahwa kritik terhadap pembangunan maupun pelaksanaan PSN tidak seharusnya dipandang sebagai sikap anti-negara.

Ia menilai pembangunan skala besar tetap perlu memperhatikan aspek lingkungan, hak masyarakat adat, transparansi investasi, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), relokasi sosial, serta pemerataan manfaat ekonomi.

“Jika ada masyarakat adat yang merasa tidak dilibatkan, seharusnya dijawab melalui dialog dan kebijakan yang adil, bukan dengan menutup ruang kritik,” ujarnya.

Suryadi menambahkan bahwa Papua tidak dapat dipandang semata-mata sebagai arena konflik politik, melainkan ruang kehidupan masyarakat dengan beragam dinamika sosial di dalamnya.

“Hentikan adu domba. Menjadikan seluruh aparat negara sebagai simbol kejahatan merupakan penyederhanaan yang berbahaya. Namun menolak seluruh kritik terhadap pembangunan juga bukan langkah yang tepat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Ketua Fast Respon Counter Polri DPW Aceh : Mari Kawal Program Kapolri Baru, Komitmen Pengawasan Dan Sinergi Tak Boleh Kendur
Kabut Asap Tebal Selimuti Aceh, Warga Diminta Waspada dan Jaga Kesehatan
Asap Karhutla Selimuti 13 Kabupaten Kota di Aceh, Jarak Pandang 2 Kilometer dan Negara Gagal Cegah Bencana Rutin
Gubernur Aceh Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda, Dorong Perkuatan Koordinasi Pemerintahan
Ketua Umum HMI Komisariat se-Kawasan Cabang Banda Aceh: Mendesak MPK PB HMI Menguji Keabsahan Penetapan Pj Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh dan Mengusut Dugaan Politisasi Organisasi Menjelang Kongres
Eks GAM Denmark, Eropa Soroti Lambannya Penyerapan TKD, Minta Pengawasan Diperketat
DTPHP Nagan Raya Raih Penghargaan Peringkat I pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan Tahun 2027 Se Provinsi Aceh
DTPHP Nagan Raya Terima Piagam Penghargaan pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan 2027

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:38 WIB

Keluarga Temukan Bekas Luka Tembak, Kematian Bharada Valdo di Markas Polairud Memicu Tuntutan Investigasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Darah di Markas Polairud: Tragedi Kematian Bharada Valdo yang Menyisakan Tanda Tanya Besar

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:32 WIB

57.000 Orang Utan Kehilangan Habitat Akibat Karhutla, Kematian Massal Tak Tercatat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Karhutla Indonesia Seluas 900.000 Hektare Disorot Media Asing, Setara Empat Kali Luas Tokyo

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:49 WIB

Bayang-Bayang Kabut Asap, Singapura Kembali Bidik Tujuh Perusahaan di Balik Karhutla Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Aturan Pidana Baru, Sinergi Aparat Penegak Hukum di Tengah Tantangan Implementasi KUHP dan KUHAP Nasional

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Polri Perang Terbuka Lawan Kampung Narkoba, Rekam Jejak Internal Bakal Dievaluasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolri Instruksikan Bareskrim Usut Tuntas Dugaan Tindak Pidana di Sektor Pasar Modal

Berita Terbaru

KABAR DUKA

Irjen Polisi Purnawirawan Napoleon Bonaparte Tutup Usia

Minggu, 18 Okt 2026 - 22:13 WIB