HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Singapura Tercekik Kabut Asap, Kualitas Udara Terburuk di Dunia

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:39 WIB

50191 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Negara tetangga kini harus menelan pil pahit akibat polusi lintas batas yang kembali merajai langit Asia Tenggara. Singapura sempat mencatatkan diri sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, sebuah predikat yang mencoreng wajah kawasan akibat kegagalan dalam menekan laju kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan informasi, situasi darurat ini memuncak pada Rabu, 7 Oktober 2026, ketika indeks kualitas udara di negara tersebut melonjak tajam ke kategori sangat tidak sehat.

Krisis lingkungan ini dipicu oleh kepungan asap pekat yang berasal dari wilayah Indonesia. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mencatat bahwa pada Kamis, 8 Oktober 2026, kondisi udara di lima wilayah Singapura masih bertahan di level tidak sehat. Fenomena ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga di Negeri Singa, tetapi juga memaksa pemerintah di Malaysia, khususnya di Batu Pahat, Johor, untuk menutup ratusan fasilitas pendidikan mulai Selasa, 6 Oktober 2026, setelah indeks polusi udara menembus angka 203 yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap tahunnya ini merupakan potret buruk tata kelola lahan di Indonesia. Praktik pembukaan lahan dengan metode pembakaran yang diperparah oleh fenomena iklim El Nino telah menciptakan kondisi lingkungan yang sangat kering dan rentan terbakar. Data dari platform pemantauan kebakaran Sipongi milik Kementerian Kehutanan Indonesia sendiri menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana jumlah titik panas pada September 2026 menjadi yang tertinggi sejak 2015. Lebih jauh, organisasi lingkungan Greenpeace bahkan telah mengidentifikasi keterlibatan lebih dari 20 perusahaan di sektor kelapa sawit, bubur kertas, dan gula yang wilayah konsesinya menjadi sumber utama asap tersebut. Meski prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan pada 9 hingga 11 Oktober 2026 yang diharapkan mampu meredakan kabut asap, ketergantungan pada faktor alam semata menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah dalam menindak tegas korporasi pembakar lahan yang hingga kini masih terus beroperasi tanpa sanksi yang memberikan efek jera. (*)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Kabut Asap Selimuti Aceh Singkil, Warga Keluhkan Dampak Karhutla Lintas Provinsi
Ancaman Asap Tebal di Atmosfer, BMKG Imbau Warga Jakarta Waspada dan Kritik Lambatnya Penanganan Pemerintah
Satu Rumah di Kecamatan Lawe Alas Aceh Tenggara Ludes Terbakar Dini Hari, Penghuni Selamat
Jalan Badak Gayo Lues Lumpuh Diterjang Banjir, Warga Desak Pemerintah Pusat dan BWS Bertindak
Jebolnya Tanggul Lawe Kisam Perparah Banjir di Aceh Tenggara, Jalan Nasional Kutacane-Medan Lumpuh
Banjir Luas Rendam Jalan Nasional Kutacane-Medan, Akses Lawe Sumur Lumpuh Total
Kabut Asap Selimuti Sampit, Warga Tetap Nekat Berkerumun di Hari Bebas Kendaraan
Kabut Asap Lintas Batas Kembali Hantui Malaysia, Penanganan Karhutla Indonesia Disorot

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Asap Karhutla Racuni 13 Juta Warga, 277 Ribu Terserang ISPA dan 62 Ribu Korban Balita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:20 WIB

KPK Ancam Jemput Paksa Menteri ATR Nusron Wahid yang Dua Kali Mangkir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:39 WIB

MK Putuskan Prajurit TNI Pelaku Pidana Umum Diadili di Peradilan Umum

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bahlil Desak Kepolisian Segera Tindak Tegas Penimbun BBM Subsidi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Stok Pertalite Nasional Tersisa 16 Hari, Bahlil Klaim Aman di Tengah Antrean BBM di Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dugaan Pembatasan Rujukan JKN Mengancam Keselamatan Pasien Kronis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Barang Bukti Diangkut Pakai Tong Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:07 WIB

PDI-P Sebut Framing Karhutla sebagai Bencana Alam Keliru, Soroti Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Berita Terbaru