JAKARTA | Kritik tajam mengenai realitas sosial di Indonesia kembali mencuat ke permukaan publik. Dalam sebuah forum yang berlangsung pada 9 Oktober 2026, pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) melontarkan sindiran keras terkait pudarnya nilai kompetensi akademis di tengah maraknya praktik nepotisme yang diduga kuat melibatkan orang dalam di lingkaran kekuasaan.
Dalam paparannya, UAS menyinggung nasib getir para pemilik ijazah tinggi yang menempuh pendidikan hingga ke luar negeri, seperti Mesir dan Maroko, namun justru tidak mendapatkan apresiasi yang layak di tanah air. Ia secara sarkastis menyatakan bahwa ijazah kesarjanaan tersebut tidak memiliki arti apa pun jika seseorang tidak memiliki relasi kekuasaan, terutama jika tidak memiliki paman yang menjabat sebagai hakim konstitusi.
Pernyataan ini memicu reaksi luas dari masyarakat luas. Banyak pihak mengaitkan sentilan tersebut dengan sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mengingat isu ini berhembus kencang di tengah bergulirnya proses sidang sengketa dokumen pendidikan yang tengah diproses di Mahkamah Konstitusi. Publik menilai narasi yang disampaikan UAS merupakan cerminan dari kegelisahan masyarakat atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan pengaruh keluarga dalam jabatan publik.
Lebih lanjut, UAS menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan ejekan yang pernah ia terima saat bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia maupun saat menempuh pendidikan. Namun, ia secara tegas menyatakan perlawanan ketika dedikasi dan kualifikasi pendidikan yang ia bawa tidak dihargai dan dikalahkan oleh praktik kekuasaan yang tidak transparan. Fenomena ini pun memantik diskusi serius mengenai bagaimana posisi ijazah dan meritokrasi di Indonesia yang kian tergerus oleh kuatnya pengaruh dinasti politik. (*)








































