JAKARTA | Center of Economic and Law Studies (CELIOS) merilis temuan yang menggambarkan tekanan sosial yang meluas di tengah dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Berdasarkan informasi yang dihimpun, mayoritas masyarakat mengaku mengalami tekanan psikologis akibat arah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kebutuhan dasar.
Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengungkapkan, dari 1.122 responden masyarakat umum yang disurvei, sebanyak 75 persen mengaku stres akibat kebijakan pemerintah. Bahkan secara lebih spesifik, 67 persen responden menyatakan stres akibat perilaku Presiden Prabowo Subianto. Survei ini menjadi bagian dari laporan bertajuk Rapor 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dipublikasikan pada Senin, 12 Oktober 2026.
Tekanan tersebut, menurut Bhima, bukan muncul tanpa sebab. Apa yang dirasakan publik berkaitan langsung dengan persoalan fundamental yang belum terjawab, mulai dari lonjakan harga bahan pokok, sulitnya akses pekerjaan, hingga penegakan hukum yang dinilai tumpul. Dari sisi apa, harga kebutuhan pokok tercatat sebagai persoalan paling mendesak. Sebanyak 78 persen responden menegaskan persoalan ini harus segera diselesaikan pemerintah. Di mana keresahan itu terjadi, hampir merata di kelompok masyarakat umum yang menjadi responden.
Siapa yang paling terdampak terlihat dari potret ekonomi rumah tangga. Sebanyak 53 persen responden menyatakan kondisi ekonomi keluarganya memburuk dibandingkan tahun sebelumnya. Mengapa hal itu terjadi, temuan CELIOS mengindikasikan kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas daya beli dan menyediakan lapangan kerja, di saat kebijakan yang diambil justru menambah beban psikologis warga.
Kritik tidak hanya datang dari masyarakat umum. Bagaimana kalangan ahli melihat pemerintahan ini jauh lebih keras. Survei yang melibatkan total 1.142 responden masyarakat umum dan 129 responden ahli tersebut mencatat, sebanyak 92 persen responden ahli menyatakan khawatir terhadap arah kebijakan pemerintahan Prabowo, dengan 80 persen di antaranya mengaku sangat khawatir.
Penilaian terhadap kinerja Presiden pun anjlok. Masyarakat umum hanya memberi skor rata-rata 4,6 dari 10 untuk Prabowo. Di kalangan ahli, nilainya lebih rendah lagi, hanya 2,8 dari 10. Rinciannya, 48 persen masyarakat umum memberi nilai 1 sampai 4, 23 persen memberi nilai 5 sampai 6, dan hanya 28 persen yang memberi nilai 7 sampai 10. Angka 1 menjadi skor yang paling banyak dipilih, dengan proporsi mencapai 23 persen dari total responden.
Hasil survei ini memang menggambarkan penilaian kelompok responden yang diteliti dan tidak serta-merta mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Namun tingginya angka stres, rendahnya skor kepuasan, dan besarnya kekhawatiran ahli menjadi sinyal keras bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran menghadapi krisis kepercayaan publik yang serius pada dua tahun pertama masa pemerintahannya. (*)









































