JAKARTA | Presiden Prabowo Subianto akhirnya memberikan klarifikasi atas pernyataan kerasnya yang sempat menyulut polemik di kalangan akademisi. Presiden menegaskan bahwa dirinya menaruh hormat tinggi kepada para ahli, kendati sebelumnya sempat melontarkan sindiran tajam dengan menyebut sejumlah pakar ‘saking pintarnya jadi goblok’ dalam sebuah pidato politik. Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Presiden saat memimpin diskusi panel bersama 22 akademisi dan peneliti di Istana Merdeka pada Kamis, 24 September 2026.
Dalam forum tersebut, Prabowo berupaya meluruskan bahwa kritik atau pernyataannya di hadapan publik sering kali dipelintir oleh pihak tertentu, sehingga menciptakan kesan seolah-olah ia tidak menghargai kepakaran seseorang. Presiden menekankan bahwa dirinya selalu membutuhkan masukan dari para ahli untuk menuntaskan berbagai persoalan bangsa, khususnya terkait pengelolaan lahan gambut yang tiap tahun menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia beralasan bahwa keberhasilan dirinya sebagai seorang perwira di masa lalu pun berkat kemampuannya dalam mendengarkan nasihat para ahli.
Ketegangan narasi mengenai kepakaran ini bermula ketika Prabowo menyinggung sikap sejumlah pihak yang merasa diri paling ahli saat melayangkan kritik terhadap kebijakan pemerintah pada peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta International Convention Center, Jumat, 18 September 2026. Meski kini berupaya mencairkan suasana dengan mengundang para akademisi untuk memberikan solusi ilmiah, Presiden tetap bersikap tegas terhadap regulasi di lapangan. Ia menyoroti adanya Peraturan Daerah (Perda) yang dinilai sebagai celah hukum atau loophole karena memperbolehkan pembakaran lahan hingga dua hektar. Presiden menganggap aturan tersebut sebagai bentuk penipuan yang justru menyulitkan upaya pemadaman saat api merambat luas.
Sebagai langkah antisipasi karhutla di masa mendatang, Presiden telah memerintahkan pengerahan sekitar 1.000 perwira dari unsur TNI dan Polri ke berbagai daerah untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat. Fokus pemerintah kini beralih pada mitigasi fisik yang efektif, seperti pembangunan embung dan penyediaan pompa air secara masif sebelum musim kemarau tiba. Prabowo menekankan bahwa penanganan di lapangan oleh petugas darat tetap menjadi metode paling ampuh dibandingkan sekadar mengandalkan teknologi udara, sembari terus menuntut solusi berbasis sains dari para pakar yang hadir untuk memanfaatkan lahan gambut secara produktif tanpa harus merusak ekosistem. (*)








































