Berdasarkan pantauan di lokasi pada 29 September 2026, genangan di Jalan Badak terlihat cukup dalam, hampir setinggi lutut orang dewasa. Air berwarna kecokelatan meluap dari saluran drainase yang tidak mampu menampung debit hujan. Seorang pelajar berseragam SMP tampak berjalan hati-hati di tepi jalan, tanpa alas kaki agar sepatunya tidak rusak dan tidak terseret arus.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Badak yang menjadi jalur utama penghubung pemukiman warga dengan pusat aktivitas, termasuk sekolah. Jalan tersebut memang langganan banjir setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu Gayo Lues.
Pelajar tersebut diketahui tetap berangkat ke sekolah meski kondisi jalan tidak memungkinkan. Tidak adanya angkutan alternatif dan keinginan untuk tidak tertinggal pelajaran membuatnya memilih untuk tetap menerobos banjir.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga. Jalan Badak yang tergenang bukan hanya menghambat aktivitas pelajar, tetapi juga membahayakan keselamatan. Arus air yang cukup deras, permukaan jalan yang licin, serta tidak terlihatnya lubang di badan jalan menjadi risiko tersendiri bagi pejalan kaki, terutama anak sekolah.
Warga yang merekam kejadian itu mengaku sempat dilema untuk menghentikan sang pelajar. Di satu sisi khawatir akan keselamatannya, di sisi lain memahami tekadnya untuk tetap bersekolah.
Kejadian di Jalan Badak ini kembali menegaskan perlunya penanganan banjir yang lebih serius di kawasan tersebut. Perbaikan drainase, peninggian badan jalan, serta penyediaan akses aman bagi pelajar saat musim hujan menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas pendidikan tidak terus terganggu setiap kali hujan lebat turun. (*)








































