Oleh : Vebriyanthie Orcheva ( Pemerhati Media Sosial)
Sering kita bertanya dalam hati, kenapa kualitas generasi kian terasa semakin rapuh. Anak-anak semakin hari semakin jauh dari ilmu yang benar, sementara pendidikan sering terasa berjalan ala kadarnya. Padahal kita semua sepakat bahwa sekolah adalah tempat lahirnya masa depan. Dari ruang kelas yang sederhana tersebut lahirlah banyak pemimpin, ilmuwan, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, dan orang-orang yang nantinya akan menjadi penentu arah di masyarakat. Tapi kenyataannya di lapangan seringkali membuat kita menarik nafas panjang.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara misalnya, kondisi insfrastruktur pendidikannya masih saja menghadapi berbagai persoalan. Beberapa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilaporkan mengalami keterbatasan ruang belajar, minimnya fasilitas penunjang belajar mengajar, hingga permasalahan legalitas lahan yang akhirnya menghambat perbaikan bangunan sekolah. Bahkan di beberapa sekolah terdapat keterbatasan ruang kelas sehingga membuat siswa harus belajar secara bergantian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi seperti ini sangat ironis jika kita lihat fakta lainnya. Kutai Kartanegara (Kukar) dikenal sebagai yang kaya kan sumber daya alamnya. Potensi ekonominya sangat fantastis, bahkan menjadi salah satu wilayah penting dalam sektor energi dan pertambangan. Logikanya, daerah yang kaya seperti ini seharusnya mampu menyediakan sarana pendidikan yang memadai bagi masyarakatnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Kekayaan alam tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas fasilitas pendidikan. Di sinilah kita mulai melihat bahwa persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya sumber daya, tetapi bagaimana sistem mengelola dan memprioritaskannya.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar soal ada atau tidaknya uang. Ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana sistem memandang pendidikan itu sendiri. Dalam sistem yang berjalan hari ini, pendidikan sering kali hanya menjadi salah satu sektor dari sekian banyak prioritas negara. Ketika anggaran terbatas, pendidikan harus berbagi dengan banyak kepentingan lain. Pendidikan sering dipandang sebagai sektor yang harus menyesuaikan diri dengan anggaran. Jika dana tersedia maka pembangunan dilakukan, jika tidak maka harus menunggu. Akibatnya, pendidikan berjalan mengikuti logika untung-rugi dan prioritas politik.
Padahal pendidikan bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah investasi peradaban. Lebih menyedihkan lagi, ketika sarana pendidikan saja belum dipenuhi dengan serius, bagaimana dengan kualitas generasi yang dihasilkan? Bagaimana dengan kesejahteraan guru? Bagaimana dengan kurikulum yang membentuk kepribadian anak-anak? Jika fondasinya saja rapuh, maka sulit berharap lahir generasi yang kuat.
Di sinilah Islam sebenarnya memberikan pandangan yang sangat berbeda. Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang sangat mulia. Bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW langsung berkaitan dengan ilmu.
Allah SWT berfirman:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini menjadi tanda bahwa peradaban Islam dibangun di atas ilmu pengetahuan. Islam tidak pernah memandang ilmu sebagai hal yang sekunder. Justru ilmu adalah fondasi yang akan membangun kekuatan umat.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Jika menuntut ilmu adalah kewajiban, maka tentu harus ada sistem yang menjamin agar kewajiban itu bisa dilaksanakan. Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pendidikan dapat diakses oleh seluruh rakyatnya.
Bahkan dalam sejarah Islam, pendidikan benar-benar mendapat perhatian yang sangat serius. Negara tidak menyerahkan pendidikan kepada mekanisme pasar atau sekadar kebijakan anggaran tahunan. Negara justru menjadi pihak yang menjamin tersedianya pendidikan bagi masyarakat.
Hal ini dimungkinkan karena dalam sistem ekonomi Islam, pemasukan negara berasal dari berbagai sumber. Selain zakat, ada kharaj, jizyah, fai’, ghanimah, serta pengelolaan sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum. Hasil dari pengelolaan sumber daya alam ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk membiayai pendidikan.
Sejarah mencatat betapa seriusnya peradaban Islam dalam membangun dunia ilmu. Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah berdiri Baitul Hikmah di Baghdad, sebuah pusat ilmu pengetahuan yang menjadi perpustakaan dan lembaga penelitian terbesar pada zamannya. Di sana para ilmuwan dari berbagai bidang berkumpul untuk meneliti, menerjemahkan, dan mengembangkan ilmu. Di dunia Islam juga berdiri berbagai pusat pendidikan besar seperti Universitas Al Azhar di Mesir yang menjadi tempat belajar para pelajar dari berbagai negara di dunia.
Rasulullah SAW sendiri memberikan contoh yang sangat menyentuh setelah Perang Badar. Tawanan perang dari pihak Quraisy yang mampu membaca dan menulis diberikan kesempatan untuk bebas dengan syarat mengajarkan ilmu kepada sepuluh anak muslim yang ada di Madinah. Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap dunia pendidikan. Bahkan dalam situasi perang sekalipun, pendidikan tetap menjadi prioritas yang utama.
Dari sini kita bisa melihat satu hal yang sangat penting. Dalam Islam, ilmu benar-benar dimuliakan. Pendidikan bukan sekadar program pembangunan, tetapi bagian dari tanggung jawab negara untuk membangun peradaban.
Karena itu, jika kita ingin melihat pendidikan benar-benar maju dan generasi tumbuh dengan baik, maka yang harus diperbaiki bukan hanya fasilitasnya saja, tetapi juga sistem yang mengaturnya. Islam telah memberikan contoh nyata bagaimana pendidikan dijaga dan dimuliakan. Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, negara akan bertanggung jawab memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang layak, guru dihargai, dan ilmu ditempatkan pada kedudukan yang tinggi.
Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan tujuan hidup yang jelas. Generasi seperti itulah yang dahulu membangun peradaban Islam yang menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan.


























































