JAKARTA | Sejumlah unggahan di media sosial belakangan ini ramai memperbincangkan kekeliruan verbal yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan pidato. Narasi yang berkembang di ruang digital mengklaim bahwa insiden salah ucap tersebut bukanlah kesalahan murni, melainkan bagian dari skenario atau strategi intelijen yang sengaja dirancang untuk tujuan tertentu.
Berdasarkan penelusuran yang dikutip dari kanal Tempodotco pada Senin, 12 Oktober 2026, teridentifikasi setidaknya 26 video yang menyebarkan narasi bahwa kesalahan tutur kata Presiden merupakan kode intelijen dari komando pasukan khusus. Konten-konten tersebut diketahui diunggah oleh 19 akun berbeda secara terkoordinasi, terutama sepanjang periode Juli hingga September 2026, dengan total akumulasi tayangan mencapai 2,5 juta.
Investigasi mendapati bahwa penyebaran narasi tersebut secara konsisten mengutip pernyataan dari seorang influencer investasi bernama Gema Goardi. Dalam video berdurasi 22 menit yang diunggah pada 8 Juli 2026, influencer tersebut mengklaim bahwa kekeliruan ucapan Presiden berfungsi sebagai strategi untuk memetakan kelompok pendukung maupun pihak kontra terhadap pemerintah.
Menanggapi hal tersebut, peneliti politik dan militer dari Institute of South East Asian Studies (ISEAS) Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menegaskan bahwa narasi tersebut tidak berdasar. Menurutnya, seorang presiden secara hierarkis merupakan pemegang kendali dan penerima laporan intelijen, bukan pihak yang memproduksi informasi tersebut. Ia menilai bahwa salah ucap merupakan kesalahan manusiawi yang tidak disengaja, meski kemudian menarik perhatian serta kritik dari masyarakat.
Senada dengan hal itu, pengamat intelijen pertahanan dan keamanan, Ngasiman Joyonegoro, turut menepis keterkaitan insiden tersebut dengan operasi intelijen. Ia mencontohkan bahwa penanganan berbagai isu hukum, seperti kasus korupsi, murni merupakan ranah penegakan hukum dan tidak memiliki kaitan dengan operasi intelijen seperti yang dinarasikan.
Dalam kacamata psikolinguistik, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur, Fajar Junaidi, menjelaskan bahwa kekeliruan saat berpidato adalah hal yang wajar. Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan interaksi antara proses mental dan kerja otak yang kompleks saat seseorang memproduksi bahasa secara lisan. Hingga saat ini, pihak pemerintah melalui Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Muhammad Qodari, belum memberikan respons resmi terkait klaim yang beredar di media sosial tersebut. (*)








































