slot preparation.lsrs.lu

Langit Palangka Raya Berubah Oranye, Kesaksian Aktivis Dayak Patahkan Klaim Istana Soal Karhutla

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:05 WIB

50297 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Palangka Raya – Di saat pemerintah pusat mengklaim kebakaran hutan dan lahan telah menurun drastis, warga di jantung Kalimantan justru harus menghirup udara seperti di dalam ruangan penuh gas. Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali berubah oranye pekat akibat pekatnya kabut asap karhutla yang tak kunjung padam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi tersebut direkam langsung oleh Emmanuela Shinta, seorang aktivis Dayak di Palangka Raya. Dalam rekaman yang ia buat pada pagi hari, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WITA, suasana kota masih gelap seperti menjelang malam. Matahari tertutup total oleh lapisan asap tebal.

“Video ini tanpa filter, ini adalah kondisi sebenarnya saat ini. Kota ini, sekarang, seperti ruangan yang penuh gas. Tidak ada ruangan untuk kabur dan bersembunyi,” kata Emmanuela menggambarkan situasi yang harus dihadapi warga setiap hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang disaksikan Emmanuela adalah realitas yang bertolak belakang dengan pernyataan resmi dari Jakarta. Siapa yang merasakannya adalah jutaan warga Kalimantan Tengah yang kini kembali masuk dalam fase darurat kabut asap. Di mana itu terjadi, di Palangka Raya yang menjadi episentrum karhutla tahunan, namun juga dirasakan hingga ke Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, dan Katingan.

Kapan situasi oranye ini terjadi, adalah pada Selasa, 14 Oktober 2026, di tengah musim kemarau yang diperparah oleh pembukaan lahan masif. Bagaimana mungkin langit bisa berubah oranye pada pukul 10 pagi adalah pertanyaan yang jawabannya ada pada partikel polutan PM2.5 yang memecah spektrum cahaya matahari akibat pembakaran lahan gambut yang masif.

Kritik paling keras justru tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kebakaran hutan dan lahan sudah menurun jauh hingga di bawah seribu hektare. Klaim tersebut terdengar janggal di tengah fakta bahwa satu kota saja sudah gelap gulita pada siang hari. Jika benar karhutla hanya di bawah seribu hektare secara nasional, dari mana datangnya asap yang mampu mengubah siang menjadi malam di Palangka Raya.

Pernyataan yang meremehkan skala bencana ini berbahaya karena berpotensi melumpuhkan respons darurat. Ketika pimpinan negara menyebut angka yang sangat kecil, maka alokasi anggaran penanganan, pengerahan helikopter water bombing, dan status siaga darurat di daerah menjadi tidak relevan. Padahal, data satelit dan kesaksian warga menunjukkan puluhan ribu hektare gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah saja.

Mengapa langit Palangka Raya bisa berubah oranye setiap tahun adalah karena akar masalah tidak pernah dicabut. Gambut yang dikeringkan untuk konsesi sawit dan food estate, kanal-kanal raksasa yang mengeringkan lahan, dan lemahnya penindakan terhadap korporasi pembakar dibiarkan berulang. Warga seperti Emmanuela Shinta tidak butuh klaim penurunan angka, mereka butuh udara yang bisa dihirup tanpa harus bersembunyi di dalam rumah yang pun penuh asap.

Jika pada 14 Oktober lalu Palangka Raya sudah seperti ruangan penuh gas, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar citra statistik, melainkan hak dasar warga untuk hidup di lingkungan yang sehat. (*)

Berita Terkait

BMKG Peringatkan Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di 15 Wilayah Aceh, Gayo Lues dan Nagan Raya Termasuk
Ancaman Kebakaran Hutan Meluas hingga ke Papua dan Krisis Kesehatan Petugas di Lapangan
Empat Prajurit TNI Gugur Akibat Kecelakaan Mobil Dinas di Yalimo, Papua Pegunungan
Lempengan Besi Misterius Diduga Serpihan Pesawat Ditemukan di Perkebunan Sawit Sampit
Infrastruktur Mandul di Jantung Ibu Kota Baru, Api Lahap Hutan Embung IKN Tanpa Perlawanan Berarti
Tragedi Kabut Asap di Kalimantan: Habitat Satwa Terancam dan Kesehatan Warga Terpinggirkan
Ancaman Nyata Karhutla: Orangutan Terancam Punah, Kualitas Udara Terus Memburuk
Tragedi Karhutla di Taman Nasional Gunung Palung: Jeritan Satwa dan Perjuangan Petugas Menjinakkan Api yang Sulit Dijangkau

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:15 WIB

KSO CV RNK Pucuk Rantau Dibatalkan, Tapi Masih Panen Sawit, Ojahan Sinurat Desak PT. Agrinas dan Pihak Kepolisian Tidak Tegas KSO CV. RNK

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Aktivis Apresiasi Polda Aceh atas Penindakan Penimbunan BBM, Dampak Positif Mulai Dirasakan Masyarakat

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Progres Pembangunan Lima Unit RTLH Program TMMD ke-130 di Kodim 0113/Gayo Lues Capai 27 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Satgas TMMD ke-130 Pasang Gorong-gorong pada Pembukaan Jalan Menuju Huntara

Senin, 19 Oktober 2026 - 00:38 WIB

Prof. Dr. Sutan Nasomal Dukung Empat Pemred di Riau Tempuh Langkah Hukum Balik atas Laporan Juari, Desak Dugaan Pelanggaran UU ASN dan UU Perkawinan Diusut!

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Sinergi Panitia, Pemerintah dan Aparat Keamanan Jadi Kunci Sukses Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:38 WIB

PETI Kerinci Masuk Fase Mengkhawatirkan, TNKS Terancam dan Negara Ditantang Bertindak Tegas

Selasa, 13 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah*

Berita Terbaru

GAYO LUES

Satgas TMMD ke-130 Lanjut Membuat Gorong-gorong ke Empat

Sabtu, 7 Nov 2026 - 14:09 WIB