ACEH TENGGARA – Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Tenggara, Mirza Al Mahbubi, melayangkan desakan keras kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera I untuk segera melakukan penanganan konstruktif terhadap bencana banjir yang terus berulang di wilayah tersebut. Desakan itu muncul akibat lambannya penanganan infrastruktur sungai yang dinilai menjadi akar persoalan banjir tahunan.
Desakan tersebut disampaikan Mirza setelah dirinya turun langsung melakukan monitoring ke sejumlah titik tanggul sungai yang jebol di beberapa kecamatan. Peninjauan lapangan itu dilakukan pada Selasa, 13 Oktober 2026, menyusul laporan warga yang kembali terdampak luapan sungai.
Menurut Mirza, banjir yang bersumber dari luapan sejumlah sungai besar di Aceh Tenggara seharusnya tidak lagi dipandang sebagai bencana musiman biasa, melainkan sebagai kegagalan lintas sektoral dalam menjalankan kewenangan dan tanggung jawab. Ia menilai BWS Sumatera I memiliki peran sentral yang selama ini tidak terlihat maksimal di lapangan.
“Harusnya menjadi tanggung jawabnya. BWS Sumatera I memiliki peran penting dalam mencegah bencana banjir di sejumlah wilayah kabupaten, termasuk juga di Aceh Tenggara,” ungkap politisi Partai Golkar tersebut.
Mirza menjelaskan, peran BWS Sumatera I tidak cukup hanya dengan melakukan penanganan darurat atau tambal sulam di lokasi tanggul jebol. Yang dibutuhkan warga saat ini adalah tindakan konstruktif dan berkelanjutan berupa pengerukan sedimentasi sungai serta pembangunan tanggul permanen yang mampu menahan arus deras.
Ia menegaskan, balai tersebut memiliki kewenangan penuh untuk melakukan pencegahan maupun penanganan banjir secara komprehensif, termasuk membuka koordinasi dan kerja sama dengan pemerintah kabupaten. Namun, koordinasi itu dinilai belum berjalan efektif, terbukti dari masih banyaknya tanggul yang dibiarkan rusak tanpa perbaikan permanen.
“Ini desakan dari sejumlah warga yang terdampak banjir, diharapkan segera turun ke lapangan guna berkoordinasi dan merencanakan penanganan bencana banjir yang saat ini sangat perlu dilakukan,” katanya.
Untuk diketahui, intensitas banjir akibat luapan sungai di Aceh Tenggara dalam beberapa waktu terakhir semakin sering terjadi dan meluas. Faktor utamanya adalah jebolnya sejumlah tanggul yang belum pernah dibangun secara permanen, ditambah minimnya pengerukan pada alur sungai yang arusnya dikenal deras.
Jika BWS Sumatera I terus abai, maka banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan bencana kebijakan yang sengaja dibiarkan berulang dan korbannya adalah warga di bantaran sungai. (RED)








































