Ketika Kejujuran Dikorbankan, Loyalitas Dipertuhankan

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 01:27 WIB

50325 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

NEGERI ini seolah sedang memasuki babak sejarah yang pernah digambarkan dalam kisah-kisah lama, dimana masa ketika nilai-nilai kebenaran bukan lagi berpijak pada moralitas, melainkan ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan. Banyak orang menyebutnya sebagai zaman kolobendu, sebuah era di mana kebatilan menjadi wangi yang lazim dihirup masyarakat. Di ruang-ruang kekuasaan, dari pemerintahan hingga lembaga penegak hukum, praktik transaksi kepentingan, patronase politik, dan komersialisasi jabatan tumbuh subur. Dalam keadaan seperti ini, orang-orang yang jujur justru dipinggirkan, bahkan dicurigai, sementara mereka yang lihai menundukkan nilai demi kekuasaan justru melaju tanpa hambatan.

Nama Hoegeng Imam Santoso menjadi cermin paling terang untuk memahami bagaimana kejujuran pernah dianggap ancaman oleh sistem. Hoegeng, Kapolri yang dikenal sederhana, bersih, dan berani menolak intervensi kekuasaan, memilih tegak di atas prinsip bahwa hukum adalah penuntun tertinggi. Keberaniannya mengungkap skandal yang melibatkan kroni penguasa membuatnya tersingkir secara halus atas nama peremajaan institusi. Ironisnya, penggantinya justru lebih tua darinya. Hoegeng tidak kalah, ia dikalahkan, bukan karena kurang kompetensi, tetapi karena kejujuran tidak dapat dinegosiasikan dalam sistem yang menjadikan kekuasaan sebagai altar penyembahan. Sejarah kemudian mencatat namanya bukan sebagai korban, tetapi sebagai simbol nilai yang tak runtuh meski disingkirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Zaman bergerak, reformasi datang membawa harapan bahwa hukum akan kembali memerintah di atas segala kepentingan politik. Namun harapan itu perlahan memudar, terutama ketika Jenderal Listyo Sigit Prabowo menduduki jabatan Kapolri. Ia naik ke posisi tertinggi kepolisian bukan hanya melalui jenjang struktural, tetapi melalui kedekatan personal dan loyalitas politik. Polri di era kepemimpinannya berjalan seiring dengan kepentingan kekuasaan eksekutif. Penegakan hukum cenderung selektif, kritik kepada pemerintah sering kali diperlakukan sebagai ancaman politik, dan hukum menjadi fleksibel untuk kepentingan kelompok tertentu. Dalam situasi ini, loyalitas kepada penguasa menjadi lebih bernilai daripada loyalitas kepada keadilan.

Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar ketimpangan institusional. Ia menunjukkan pembusukan nilai yang berlangsung perlahan namun pasti. Korupsi tidak lagi dilihat sebagai kejahatan moral, melainkan sebagai bagian dari strategi bertahan dalam sistem. Jabatan publik tidak dipahami sebagai amanah, tetapi sebagai panggung bagi akumulasi privilese. Mereka yang menolak mengikuti arus bukan hanya dianggap asing, tetapi juga dianggap berbahaya. Kejujuran menjadi mata uang yang tak laku dalam pasar kekuasaan yang sibuk memperdagangkan kepatuhan dan kedekatan.

Namun sejarah selalu menyisakan ruang bagi kebenaran untuk bertahan. Kejujuran Hoegeng tidak pernah hancur, meskipun kekuasaan mencoba menyingkirkannya. Sebaliknya, kekuasaan yang dibangun di atas loyalitas semu tidak pernah benar-benar kokoh. Ia mungkin dapat menguasai hukum, tetapi ia tidak akan pernah menguasai hati sejarah dan nurani publik. Seberapa kuat kekuasaan dipertahankan, ia tetap akan diuji oleh waktu; sementara sekecil apa pun nilai kejujuran, ia akan terus menjadi cahaya yang menunjukkan arah.

Mengingat Hoegeng hari ini bukan semata tindakan romantisme moral. Ia adalah pengingat keras bahwa bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh keberanian untuk menegakkan keadilan, bukan oleh kepatuhan terhadap kekuasaan. Jika loyalitas terus dipertuhankan dan kejujuran terus dikorbankan, maka negara ini hanya akan berjalan menuju pengulangan luka yang sama. Tetapi jika teladan Hoegeng tidak sekadar dikenang, melainkan dihidupkan kembali dalam praktik penegakan hukum, maka masih ada peluang bagi negeri ini menemukan jalan pulangnya menuju martabat yang pernah dijanjikan.

Berita Terkait

Perkuat Ekonomi Hijau, Jamaluddin Idham Salurkan Ribuan Bibit Produktif di Nagan Raya dan Aceh Barat
Ipelmasra Nyatakan Sikap Soal Investasi Rp200 Triliun di Nagan Raya: Dukung Pembangunan, Tolak Rakyat Jadi Penonton
Bank Aceh Cabang Jeuram Kembali Terima Penghargaan atas Kepatuhan Menunaikan Zakat dan Infak
Komunitas Atraksi Singa Nagan Dukung Investasi Rp 200 Triliun, Optimis Tatap Prospek Masa Depan Nagan Raya
Asah Ketangkasan dan Kedisiplinan, Menwa UTU Gelar Latihan Menembak di Lapangan Tembak Yonif 116/GS
Kritik, Evaluasi, dan Harapan: Menatap Peran Baitul Mal Secara Objektif
MBG, Korupsi, Dan Pengkhianatan Dari Lingkar Kekuasaan
RAPI Wilayah Nagan Raya Apresiasi Capaian Opini WTP ke-18 Pemkab Nagan Raya

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 06:25 WIB

Profesor Sutan Nasomal Sangat Yakin Presiden Prabowo Tutup Semua Pintu Setan Hanya Pintu Keadilan Untuk Rakyat Indonesia!!!

Minggu, 14 Juni 2026 - 02:36 WIB

BEM UI Bantah Demo Tanpa Pemberitahuan, Klaim Surat ke Polisi Sudah Dikirim

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:48 WIB

Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka, Dugaan Korupsi Program Makan Bergizi Gratis Makin Meluas

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:20 WIB

Aksi Ribuan Mahasiswa Indonesia di Jakarta Disorot Media Asing, Protes soal Kebijakan Ekonomi Pemerintah

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:14 WIB

Sidang Kasus Chromebook: Nadiem Makarim Kritik Replik Jaksa, Dukungan Moral Publik Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:03 WIB

Ahli Bantah Tuduhan Tidak Independen dalam Kasus Dugaan Korupsi Chromebook

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:29 WIB

KPK Bongkar Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Audit Muara Enim, Lima Orang Ditahan

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:25 WIB

Demi Mengejar WTP, Bupati Muara Enim Diduga Suap Audit BPK, KPK Tetapkan Lima Tersangka

Berita Terbaru